Jelang Pilpres, Adakah Hubungannya Fanatisme dengan Gangguan Kejiwaan?

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Jelang Pilpres, Adakah Hubungan Fanatisme dengan Gangguan Kejiwaan?

Halodoc, Jakarta – Memilih yang terbaik boleh saja, tapi ingat, jangan sampai diri kamu mengalami kondisi fanatisme terhadap suatu kelompok, golongan, atau paham tertentu. Sikap fanatisme bisa mendatangkan dampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain. Jadi, apakah kondisi fanatisme memiliki hubungan dengan kondisi gangguan kejiwaan?

Fanatisme adalah kondisi yang menyebabkan seseorang tidak dapat menerima pendapat orang lain mengenai sesuatu yang mereka yakini. Hal ini membuat pendapat orang lain terasa negatif. Hal ini yang dapat menimbulkan konflik yang terjadi antara pengidap fanatisme dengan orang disekitarnya.

Seseorang yang mengalami kondisi fanatisme tidak menyadari kondisi yang dihadapi. Fanatisme dapat menurunkan kemampuan seseorang untuk berpikir logis dan rasional. Tidak ada salahnya untuk memiliki suatu pendapat mengenai golongan atau kelompok tertentu, namun harus disertai dengan pikiran yang logis, terbuka, dan mau menerima kritik serta masukan.

Baca juga: Bencana Alam Bisa Timbulkan Gangguan Jiwa

Lalu Apakah Fanatisme Merupakan Gangguan Kejiwaan?

Gangguan kejiwaan adalah masalah kesehatan yang memengaruhi seseorang berpikir, berperilaku, dan berinteraksi dengan orang lain. Kondisi fanatisme dikategorikan dalam kondisi gangguan kejiwaan ketika sudah membahayakan diri sendiri atau orang lain. Faktanya, kondisi fanatisme bisa membuat seseorang menjadi obsesi pada seseorang.

Ada beberapa jenis gangguan kejiwaan yang bisa dikategorikan untuk kondisi fanatisme. Seseorang yang mengalami kondisi fanatisme bisa mengalami gangguan disosiatif. Kondisi ini terjadi ketika seseorang mengalami gangguan parah pada identitas, ingatan, serta kesadaran diri sendiri dan lingkungannya. Kondisi seperti ini dikenal sebagai kepribadian ganda.

Selain itu, kondisi fanatisme bisa dikategorikan sebagai celebrity worship syndrome. Kondisi ini merupakan individu menjadi terobsesi kepada seseorang. Pengidapnya tidak akan rela idolanya memiliki pencitraan yang  buruk atau dihina oleh orang lain.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi kondisi fanatisme yang berlebihan. Melibatkan kerabat dekat untuk mengingatkan pentingnya menerima masukan pendapat orang lain. Selain itu, sebaiknya untuk mencoba menghubungi psikiater atau psikolog ketika kondisi fanatisme sudah mengganggu aktivitas sehari-hari. Kamu bisa mengevaluasi dampak baik maupun dampak buruk  yang telah kamu rasakan ketika kamu mengalami kondisi fanatisme yang berlebihan.

Baca juga: 4 Penyakit Jiwa yang Bisa Terjadi pada Orang di Lingkungan Sekitar

Bahaya Jika Kondisi Fanatisme Diabaikan!

Sebaiknya jangan abaikan kondisi fanatisme ketika kamu merasa diri kamu atau kerabat di sekitar mengalami kondisi ini. Ini dampak buruk yang dapat dirasakan oleh diri kamu sendiri ketika kondisi fanatisme diabaikan, yaitu:

  • Kondisi yang Bertambah Buruk

Temui psikiater atau psikolog ketika ada seseorang yang mengalami kondisi fanatisme untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Jika tidak dilakukan pemeriksaan, dikhawatirkan kondisi fanatisme semakin bertambah buruk.

  • Merusak Fungsi Kognitif Otak

Kondisi gangguan jiwa memengaruhi perkembangan seseorang. Gangguan jiwa berkaitan langsung dengan fungsi normal otak untuk mengolah informasi, berpikir logis, dan mengambil keputusan.

  • Kualitas Hidup dan Hubungan Pribadi Terganggu

Gangguan jiwa yang dialami seseorang dapat memperburuk kualitas hidup seseorang. Jika tidak segera diatasi kondisi fanatisme menyebabkan terganggunya hubungan pribadi seseorang.

Tidak ada salahnya menghubungi dokter sebagai pertolongan pertama gangguan kejiwaan. Yuk, gunakan aplikasi Halodoc sekarang juga untuk bertanya langsung mengenai gangguan kesehatanmu. Download aplikasi Halodoc sekarang juga melalui App Store atau Google Play!  

Baca juga: Gangguan Jiwa Psikosis Bisa Disembuhkan, Benarkah?