• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Jenis-Jenis Sakit Kepala Terus-Menerus yang Perlu Diketahui

Jenis-Jenis Sakit Kepala Terus-Menerus yang Perlu Diketahui

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Sakit kepala terdiri dari beberapa jenis. Selain itu, penyebab dan gejalanya pun bervariasi. Sebagian besar sakit kepala terjadi sebentar dan jarang memprihatinkan. Sakit kepala merupakan keluhan umum, dan kebanyakan orang akan mengalami sakit kepala dari waktu ke waktu. 

Meskipun terkadang terasa menyakitkan dan melemahkan, sebagian besar sakit kepala dapat diobati dengan obat penghilang rasa sakit sederhana dan akan hilang dalam beberapa jam. Namun, jika serangan terjadi berulang dan terjadi dalam waktu lama atau jenis sakit kepala tertentu bisa menjadi tanda penyakit yang lebih serius. 

Baca juga: Kenali Bedanya Jenis-Jenis Sakit Kepala 

Berikut ini beberapa jenis sakit kepala yang bisa terjadi secara terus-menerus yang perlu diketahui:

1. Sakit Kepala Karena Tegang

Jika seseorang mengalami sakit kepala karena tegang, ia mungkin akan merasakan sensasi tumpul dan pegal di seluruh kepala. Rasanya pun tidak berdenyut. Terasa kelembutan atau sensitivitas di sekitar leher, dahi, kulit kepala, atau otot bahu juga mungkin terjadi. 

Siapa pun dapat mengalami sakit kepala karena tegang, dan kondisi ini sering dipicu oleh stres. Pereda nyeri sakit kepala over-the-counter (OTC) mungkin cukup untuk meredakan gejala yang datang sesekali. Obat-obatan tersebut termasuk:

  • Aspirin.
  • Ibuprofen (Advil).
  • Naproxen (Aleve).
  • Acetaminophen dan caffeine, seperti excedrin tension headache.

Jika obat OTC tidak dapat membantu, kamu dapat menanyakannya pada dokter via chat melalui aplikasi Halodoc. Dokter mungkin akan memberikan resep obat dan kamu dapat membelinya melalui fitur beli obat di Halodoc. Ketika sakit kepala tegang menjadi kronis, tindakan yang berbeda mungkin juga disarankan untuk mengatasi pemicu sakit kepala yang mendasarinya.

2. Sakit Kepala Migrain

Sakit kepala ini sering digambarkan sebagai rasa nyeri yang berdetak kencang. Mereka dapat bertahan dari 4 jam hingga 3 hari dan biasanya terjadi satu hingga empat kali sebulan. Seiring dengan rasa sakit, orang yang memiliki gejala lain, seperti sensitivitas terhadap cahaya, kebisingan, atau bau, mual atau muntah, kehilangan selera makan, dan sakit perut. 

Saat seorang anak mengalami migrain, ia mungkin terlihat pucat, merasa pusing, dan memiliki penglihatan kabur, demam dan perut buncit. Sejumlah migrain pada anak-anak termasuk gejala gangguan pencernaan, seperti muntah yang terjadi sebulan sekali. 

Baca juga: 6 Penyebab Sakit Kepala Bagian Belakang

3. Sakit Kepala Cluster

Sakit kepala ini adalah yang paling parah. Kamu bisa mengalami rasa panas yang membakar atau menusuk di belakang atau di sekitar satu mata. Rasanya bisa berdenyut atau konstan, bisa juga sangat buruk. Oleh karena itu, kebanyakan orang dengan sakit kepala cluster tidak bisa duduk diam dan sering mondar-mandir selama serangan sakit kepala. 

Rasa sakit, kelopak mata terkulai, mata memerah, pupil semakin kecil, atau mata berair dapat juga terjadi. Selain itu, lubang hidung di sisi sakit kepala terasa tersumbat. 

Sakit kepala ini disebut sakit kepala cluster karena cenderung terjadi dalam kelompok, kamu mungkin mengalaminya satu hingga tiga kali sehari selama periode cluster, yang dapat berlangsung 2 minggu hingga 3 bulan. Setiap serangan sakit kepala berlangsung 15 menit hingga 3 jam. Kamu pun dapat terbangun dari tidur karenanya.

4. Sakit Kepala Karena Alergi dan Sinus

Sakit kepala terkadang terjadi sebagai akibat dari reaksi alergi. Rasa sakit dari sakit kepala ini sering terfokus di daerah sinus dan di depan kepala. Sakit kepala migrain biasanya salah diagnosis sebagai sakit kepala sinus. Hingga 90 persen dari sakit kepala sinus sebenarnya adalah migrain. Orang yang memiliki alergi musiman kronis atau sinusitis rentan terhadap sakit kepala jenis ini. 

Baca juga: Jangan Samakan Sakit Kepala Akibat Penyakit dan Stres 

5. Sakit Kepala Hormon

Wanita biasanya mengalami sakit kepala yang berkaitan dengan fluktuasi hormon. Menstruasi, pil KB, dan kehamilan semua memengaruhi kadar estrogen yang dapat menyebabkan sakit kepala. Sakit kepala yang terkait secara spesifik dengan siklus menstruasi juga dikenal sebagai migrain menstruasi. Ini dapat terjadi selama, atau setelah menstruasi dan saat ovulasi. 

Referensi:

Health Line. Diakses pada 2019. 10 Types of Headaches and How to Treat Them