Jenis-Jenis Tes untuk Diagnosis Penyakit Ginjal Kronis

Jenis-Jenis Tes untuk Diagnosis Penyakit Ginjal Kronis

Halodoc, Jakarta - Semua orang tentu tahu ginjal memiliki peran yang sangat penting dalam tubuh. Oleh karena itu, kita perlu memelihara kesehatan ginjal, agar tetap bisa berfungsi dengan baik. Sebab, jika sudah mengalami penyakit ginjal kronis, risiko komplikasi berbahaya sangat mungkin mengintai. Lantas, tes apa saja yang diperlukan untuk mendiagnosis penyakit ginjal kronis? Secara umum ada 2 tes, yaitu tes urine dan darah, yang kemudian terbagi lagi menjadi beberapa subtes.

Tes Urine

1. Urinalisis

Urinalisis atau analisis urine merupakan pemeriksaan yang bisa dibilang memberi informasi besar terkait fungsi ginjal. Langkah pertama dalam melakukan tes ini adalah tes dipstick. Hal ini karena dipstick memiliki reagen tes urine untuk mengetahui adanya konstituen normal dan abnormal, termasuk protein. Kemudian, urine diperiksa di bawah mikroskop untuk mencari sel-sel darah merah dan putih, dan adanya silinder dan kristal (padatan).

Normalnya, protein (albumin) tidak ditemukan, atau setidaknya hanya sedikit, dalam urine. Hasil positif pada tes dipstick menunjukkan jumlah protein abnormal. Namun sebenarnya ada pemeriksaan lain yang lebih sensitif dari tes dipstick untuk protein, yaitu estimasi laboratorium albumin urine dan kreatinin dalam urine. Rasio albumin dan kreatinin dalam urine memberikan perkiraan yang baik dari ekskresi albumin per hari.

Baca juga: Idap Gagal Ginjal Kronis, Perlukah Transplantasi Ginjal?

2. Tes Urine 24 Jam

Tes ini mengharuskan seseorang yang menjalaninya untuk mengumpulkan semua urine selama 24 jam penuh. Dalam tes ini, urine akan dianalisis untuk mengetahui kadar protein dan limbah produk (seperti nitrogen urea dan kreatinin). Kehadiran protein dalam urine mengindikasikan kerusakan ginjal. Jumlah kreatinin dan urea diekskresikan dalam urine dapat digunakan untuk menghitung tingkat fungsi ginjal dan laju filtrasi glomerulus (LFG).

3. Laju Filtrasi Glomerulus (LFG)

LFG adalah sarana standar untuk mengekspresikan fungsi ginjal secara keseluruhan. Selama penyakit ginjal berlangsung, LFG akan turun. LFG normal adalah sekitar 100-140 ml/menit pada pria dan 85-115 mL/menit pada wanita. Itu berkurang pada kebanyakan orang dengan usia. 

LFG dapat dihitung dari jumlah produk limbah dalam urine 24 jam atau dengan menggunakan pewarna khusus yang diberikan secara intravena. Estimasi LFG (eLFG) dapat dihitung dari tes darah rutin, tetapi bisa jadi tidak akurat pada orang yang lebih muda dari 18 tahun, ibu hamil, dan orang-orang yang sangat berotot atau obesitas

Baca juga: Sakit Ginjal Tanpa Cuci Darah, Mungkinkah?

Tes Darah

1. Kreatinin dan Urea (BUN) dalam Darah 

Ini adalah tes darah yang paling umum digunakan untuk memantau penyakit ginjal. Kreatinin adalah produk dari kerusakan otot normal. Urea adalah produk limbah dari pemecahan protein. Kadar zat ini meningkat dalam darah seiring memburuknya fungsi ginjal.

2. Kadar Elektrolit dan Keseimbangan Asam-Basa 

Disfungsi ginjal menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit, khususnya kalium, fosfor, dan kalsium. Kalium tinggi (hiperkalemia) memerlukan perhatian khusus, dan keseimbangan asam-basa darah biasanya terganggu juga.

Penurunan produksi bentuk aktif dari vitamin D dapat menyebabkan rendahnya kadar kalsium dalam darah. Ketidakmampuan gagal ginjal mengekskresikan fosfor menyebabkan kadar fosfor dalam darah meningkat. Kadar hormon testis atau ovarium juga mungkin abnormal.

Baca juga: 4 Tes untuk Ukur Fungsi Ginjal

3. Jumlah Sel Darah 

Karena penyakit ginjal mengganggu produksi sel darah dan memperpendek kelangsungan hidup sel darah merah, perhitungan sel darah merah dan hemoglobin mungkin rendah (anemia). Beberapa orang dapat mengalami kekurangan zat besi karena kehilangan darah dalam sistem pencernaan. Kekurangan nutrisi lainnya juga dapat mengganggu produksi sel darah merah.

Itulah sedikit penjelasan tentang jenis tes yang bisa dilakukan untuk mendiagnosis penyakit ginjal kronis. Jika ingin melakukan pemeriksaan, kini kamu bisa langsung buat janji dengan dokter di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc, lho. Tunggu apa lagi? Yuk download aplikasinya sekarang!