• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kaitan Depresi dengan Gangguan Obsesif Kompulsif

Kaitan Depresi dengan Gangguan Obsesif Kompulsif

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Pernahkah kamu mendengar mengenai gangguan obsesif kompulsif? Kondisi ini nyatanya merupakan salah satu gangguan kesehatan mental yang menyebabkan pengidapnya harus melakukan suatu tindakan secara berulang-ulang. Jika kondisi ini tidak dilakukan, maka pengidap gangguan obsesif kompulsif dapat mengalami gangguan kecemasan hingga ketakutan yang berlebihan.

Baca juga: Hal yang Terjadi pada Otak saat Mengalami OCD

Kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja, tetapi gejala dari gangguan obsesif kompulsif umumnya akan terlihat ketika seseorang memasuki usia remaja atau dewasa. Lalu, benarkah gangguan obsesif kompulsif memiliki kaitan dengan kondisi depresi? Meskipun penyebab secara pasti belum diketahui, tetapi adanya gangguan kesehatan mental lain, seperti depresi menjadi faktor pemicu seseorang alami gangguan obsesif kompulsif. 

Inilah Kaitan Depresi dan Gangguan Obsesif Kompulsif

Pengidap gangguan obsesif kompulsif, nyatanya dapat memiliki gejala obsesif dengan memiliki rasa khawatir terhadap penyakit, kuman, atau kotoran yang dapat mengganggu kesehatan serta kualitas hidupnya. Gejala obsesif ini dapat menimbulkan gejala kompulsi, seperti mencuci tangan berkali-kali, hingga mengalami iritasi pada area kulit tangan akibat tidak ingin terpapar suatu hal yang menjadi pikiran dari gejala obsesifnya.

Bahkan tanpa disadari, gejala yang muncul menyebabkan munculnya gangguan kesehatan secara fisik, misalnya iritasi pada kulit, kulit menjadi kering, bahkan infeksi pada area tangan. Selain itu, gangguan obsesif kompulsif dapat menyebabkan menurunkan kualitas hidup pengidap serta hubungan dengan sosial.

Penyebab pasti dari gangguan obsesif kompulsif belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang memicu kondisi ini, salah satunya adanya gangguan kesehatan mental, seperti depresi. Melansir dari Very Well Mind, kondisi depresi dapat semakin parah ketika seseorang mengalami gangguan obsesif kompulsif.

Tidak hanya itu, adanya gangguan pada neurotransmitter pada otak nyatanya menjadi salah satu faktor yang diduga menyebabkan seseorang mengalami gangguan obsesif kompulsif dan juga depresi. Selain itu, beberapa gejala depresi dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gejala obsesif seperti yang dialami oleh pengidap gangguan obsesif kompulsif.

Baca juga: Faktor Penyebab Wanita Lebih Rentan Alami Depresi

Segera Lakukan Pemeriksaan

Lalu, kapan sebaiknya seseorang perlu melakukan pemeriksaan pada psikiater? Sebaiknya, saat seseorang mengalami beberapa gejala depresi maupun gangguan obsesif kompulsif, tidak ada salahnya untuk segera mengunjungi rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan apalagi jika gejala yang kamu alami menyebabkan gangguan kecemasan dan ketakutan yang berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Kondisi gangguan obsesif kompulsif yang tidak segera diatasi nyatanya dapat memperburuk kondisi depresi atau bahkan gangguan kesehatan mental lainnya. Jadi, jangan ragu untuk segera tanyakan langsung kondisi kesehatan mental pada psikiater melalui aplikasi Halodoc. Dengan menggunakan aplikasi Halodoc, kamu juga dapat mempermudah membuat janji dengan psikiater di rumah sakit terdekat.

Selain kondisi depresi, nyatanya gangguan obsesif kompulsif dapat disebabkan oleh beberapa faktor lain, seperti kondisi trauma, riwayat keluarga dengan gangguan obsesif kompulsif, serta memiliki kepribadian yang terlalu perfeksionis.

Lakukan Ini untuk Mengatasi Gangguan Obsesif Kompulsif

Umumnya, psikiater akan memeriksa riwayat kesehatan dan juga menggali informasi lebih dalam melalui psikotes dan wawancara dengan pengidap. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan pengobatan apa yang paling tepat dilakukan bagi pengidap gangguan obsesif kompulsif.

Pengidap gangguan obsesif kompulsif akan menjalani pengobatan yang bertujuan agar pengidap dapat mengontrol pikiran obsesif, sehingga dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan baik. Terapi perilaku kognitif menjadi salah satu pengobatan yang dilakukan agar pengidap dapat mengatasi rasa cemas maupun takut yang dialami. 

Baca juga: Pastikan Rasa Takut Anak pada Kotor Bukan OCD

Tidak hanya itu, penggunaan obat-obatan anti depresan juga dapat digunakan bila terapi kognitif yang dijalankan tidak menunjukkan hasil atau gejala yang semakin parah. Selain pengobatan, dukungan dari keluarga maupun kerabat terdekat menjadi pengobatan lain yang bisa dilakukan agar gangguan obsesif kompulsif yang dialami dapat segera diatasi dengan baik.

Referensi:
Very Well Mind. Diakses pada 2020. The Link Between OCD and Major Depressive Disorder.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Obsessive Compulsive Disorder.