Kanker Serviks Sulit Sembuh Total?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Kanker Serviks Sulit Sembuh Total?

Halodoc, Jakarta - Semua jenis kanker terjadi ketika ada sel-sel di dalam tubuh yang berkembang secara tidak terkontrol dan abnormal. Pada kasus kanker leher rahim atau biasa disebut kanker serviks, sel berkembang secara tidak terkendali pada bagian leher rahim atau serviks. Tentunya, kanker ini hanya terjadi pada wanita, sekaligus menjadi salah satu musuh paling menakutkan setelah kanker payudara. 

Pasalnya, kanker serviks disebut menduduki peringkat nomor dua sebagai jenis kanker yang paling sering ditemui setelah kanker payudara berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Setidaknya, ada sekitar 40 ribu kasus kanker serviks yang terdeteksi pada wanita di seluruh Indonesia. Sayangnya, kanker serviks terjadi tanpa mengenal usia, dan semakin berisiko seiring bertambahnya usia pada wanita. 

Benarkah Kanker Serviks Sulit Sembuh Total?

Lalu, benarkah kanker serviks menjadi sulit untuk disembuhkan secara sempurna? Ternyata, tidak. Asalkan, dilakukan deteksi dan penanganan dini, sehingga sel kanker belum berkembang dan menyerang organ tubuh lainnya. Deteksi dini bisa dilakukan dengan rutin menjalani pemeriksaan pap smear. Tes ini mampu mendeteksi perbedaan pada sel serviks sebelum berkembang menjadi kanker. 

Baca juga: Ini Cara Deteksi Dini Kanker Serviks

Nah, kamu bisa melakukan tes pap smear ini dengan bertanya terlebih dahulu pada dokter, apa saja yang perlu dipersiapkan. Supaya lebih mudah dalam bertanya jawab, kamu bisa klik fitur Tanya Dokter setelah download aplikasi Halodoc. Tes pap smear juga bisa dilakukan langsung di rumah sakit dengan membuat janji dengan dokter langsung lewat aplikasi Halodoc

Selain menjalani tes pap smear, kamu harus tahu gejala yang bisa terlihat dari kanker serviks. Gejala utamanya adalah perdarahan yang berlebihan padahal bukan sedang masa haid kamu. Lalu, siklus haid menjadi tidak teratur, rasa nyeri pada bagian panggul, nyeri ketika kamu berhubungan intim, badan menjadi lemas dan mudah lelah, hilang nafsu makan dan berat badan menjadi menurun, pembengkakan pada salah satu kaki, dan keluarnya cairan dari vagina yang tidak normal. 

Kanker serviks bisa menyerang perempuan mana saja di seluruh dunia. Namun, ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya kanker ini. Termasuk merokok, mengalami infeksi klamidia, obesitas, kurang konsumsi buah dan sayur, konsumsi pil KB berlebihan, hamil dan melahirkan lebih dari sekali, hamil dan melahirkan pada usia yang begitu muda, dan terkena infeksi virus HPV. 

Baca juga: 3 Fakta Tentang Kanker Serviks

Pengobatan dan Pencegahan Kanker Serviks

Apabila kanker serviks sudah berada pada stadium lanjut dan menyebar ke organ lainnya, pengobatan yang bisa dilakukan berkisar antara operasi, radioterapi, kemoterapi, atau kombinasi di antara ketiganya. Tentu saja, tingkat keberhasilannya bergantung pada seberapa parah kanker serviks ini terjadi, dan seberapa banyak kanker ini menyebar dan menyerang organ tubuh lainnya. 

Baca juga: Pengaruh Kontrasepsi IUD Terhadap Kanker Serviks

Oleh karena itu, penting untuk melakukan tindakan pencegahan dari kanker serviks. Tidak hanya melakukan deteksi dini seperti rutin menjalani pap smear, tindakan pencegahan juga bisa dilakukan dengan vaksin HPV. Jangan lupa, jalani pola hidup sehat dan imbangi dengan pola makan yang teratur. Jaga berat badan tetap seimbang dengan rutin berolahraga, dan berhenti konsumsi alkohol serta merokok. 

Referensi: 
NHS UK. Diakses pada 2019. Cervical Cancer.
WebMD. Diakses pada 2019. Cervical Cancer.
WHO. Diakses pada 2019. Cervical Cancer.