• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kapan Gangguan Panik Harus Diperiksakan ke Dokter?

Kapan Gangguan Panik Harus Diperiksakan ke Dokter?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Kapan Gangguan Panik Harus Diperiksakan ke Dokter?

Halodoc, Jakarta – Setiap orang pasti pernah mengalami panik di momen tertentu. Tetapi, orang yang mengidap gangguan panik berbeda dengan seseorang yang mengalami panik biasa. Gangguan panik menimbulkan ketakutan hebat sampai memicu reaksi fisik yang parah meski penyebab panik tidak begitu jelas. Seseorang yang mengidap gangguan panik bahkan bisa kehilangan kendali, mengalami serangan jantung atau bahkan sekarat.

Meskipun jarang mengancam jiwa, gangguan panik bisa sangat menakutkan dan memengaruhi kualitas hidup pengidapnya. Alasannya, serangan panik berulang dapat muncul secara tidak terduga dan menghabiskan waktu lama. Lantas, kapan gangguan panik harus diperiksakan ke dokter? Ini penjelasan selengkapnya.

Baca juga: Benarkah Stres yang Berat Sebabkan Gangguan Panik?

Kapan Gangguan Panik Harus Diperiksakan ke Dokter?

Dilansir dari Anxiety and Depression Association of America, gangguan panik adalah terjadinya serangan panik secara tidak terduga, kapan dan di mana saja, serta dialami berulang-ulang. Serangan ini dapat muncul kapan saja bahkan saat pengidapnya mengendarai mobil, di mal, tertidur lelap atau di tengah pertemuan bisnis.

Serangan panik memiliki banyak variasi, tetapi gejala biasanya memuncak dalam beberapa menit. Pengidap gangguan panik dapat merasa sangat lelah setelah serangan panik mereda. Melansir dari Mayo Clinic, berikut gejala yang ditimbulkan oleh gangguan panik:

  • Merasa malapetaka atau bahaya akan datang;
  • Takut kehilangan kendali atau mati;
  • Detak jantung yang cepat ;
  • Berkeringat;
  • Gemetaran;
  • Napas terengal-engal atau sesak di tenggorokan;
  • Panas dingin;
  • Muncul hot flashes;
  • Mual;
  • Kram perut;
  • Nyeri dada;
  • Sakit kepala;
  • Pusing atau pingsan;
  • Sensasi mati rasa atau kesemutan;
  • Merasa tidak nyata atau terlepas.

Salah satu hal terburuk gangguan panik adalah rasa takut yang kuat bahwa pengidapnya akan mengalami hal yang sama lagi. Mereka bisa merasa takut mengalami serangan panik berulang, sehingga sering menghindari situasi-situasi tertentu. Kondisi ini sulit dikelola sendiri, maka segera kunjungi dokter apabila kamu mengalami gejala-gejala serangan panik. 

Baca juga: Alami Kejadian Traumatis Bisa Picu Gangguan Panik

Meski jarang berbahaya, serangan panik membuat pengidapnya sangat tidak nyaman. Kondisi ini bahkan bisa memburuk tanpa perawatan. Gejala serangan panik juga dapat menyerupai gejala masalah kesehatan serius lainnya, seperti serangan jantung, jadi penting untuk mengunjungi dokter guna menerima perawatan sesegera mungkin.

Kalau kamu berencana mengunjungi rumah sakit, kamu dapat membuat janji dengan dokter terlebih dahulu melalui aplikasi Halodoc. Tinggal pilih dokter di rumah sakit yang tepat sesuai dengan kebutuhan kamu lewat aplikasi.

Bagaimana Gangguan Panik Diobati?

Perawatan untuk gangguan panik berfokus untuk mengurangi atau menghilangkan gejala. Perawatannya dapat berupa terapi dan obat-obatan. Terapi kognitif-perilaku (CBT) sering dijadikan opsi utama dalam menangani serangan panik. Terapi ini mengajarkan kamu untuk mengubah pikiran dan tindakan, sehingga kamu bisa mengelola rasa takut yang kamu miliki.

Sedangkan obat-obatan yang sering diresepkan untuk mengobati gangguan panik yaitu selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) dan antidepresan. Obat lain yang kadang digunakan untuk mengobati gangguan panik termasuk:

  • Inhibitor reuptake serotonin-norepinefrin (SNRI);
  • Obat anti kejang;
  • Benzodiazepin yang sering digunakan sebagai obat penenang;
  • Monoamine oxidase inhibitor (MAOIs), jenis antidepresan lain yang jarang digunakan karena efek sampingnya.

Baca juga: Perhatikan! Terlalu Panik Karena Corona Membuat Sistem Imunitas Melemah

Selain perawatan ini, ada beberapa langkah yang dapat kamu lakukan di rumah untuk mengurangi gejala gangguan panik, seperti olahraga teratur, cukup tidur, dan menghindari penggunaan stimulan seperti kafein.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Panic Attacks and Panic Disorder
Healthline. Diakses pada 2020. Panic Disorder
Anxiety and Depression Association of America. Diakses pada 2020. Panic Disorder