• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kapan Kateterisasi Otak Perlu Dilakukan?

Kapan Kateterisasi Otak Perlu Dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta – Otak adalah organ vital yang memengaruhi sistem kerja berbagai organ tubuh. Namun, otak juga merupakan organ yang rentan mengalami gangguan maupun terserang penyakit. 

Bila kamu mengalami gejala-gejala yang dicurigai merupakan gejala dari masalah pada otak, penting untuk segera melakukan pemeriksaan agar penyebabnya dapat diketahui. Nah, salah satu pemeriksaan otak yang bisa dilakukan untuk mendeteksi gangguan atau penyakit otak adalah dengan melakukan kateterisasi otak. Lantas, kapan prosedur tersebut perlu dilakukan?

Baca juga: Ini Gejala Aneurisma Otak yang Perlu Diwaspadai

Apa Itu Kateter Otak?

Kateter otak atau angiografi serebral adalah tes diagnostik yang menggunakan sinar-X untuk menghasilkan angiogram serebral, gambar yang membantu dokter menemukan penyumbatan atau adanya kelainan lain di pembuluh darah di kepala dan leher. Pasalnya, penyumbatan atau kelainan di kepala dapat menyebabkan stroke atau perdarahan di otak.

Kateter otak dilakukan dengan cara menyuntikkan bahan kontras ke dalam darah kamu. Bahan kontras tersebut membuat gambaran yang jelas tentang pembuluh darah kamu di otak saat disinari oleh sinar X, sehingga dokter dapat mengidentifikasi adanya penyumbatan atau kelainan yang terdapat di sana.

Kapan Kateter Otak Perlu Dilakukan?

Kateterisasi otak biasanya perlu dilakukan bila dokter mencurigai kamu memiliki kelainan pada pembuluh darah, seperti berikut:

  • Aneurisma, kantong yang berkembang di arteri karena kelemahan dinding arteri.
  • Aterosklerosis, penyempitan pembuluh darah.
  • Malformasi arteriovenosa, jalinan pembuluh darah yang melebar yang mengganggu aliran darah normal di otak.
  • Vaskulitis, peradangan yang biasanya mempersempit pembuluh darah.
  • Tumor otak.
  • Bekuan darah.
  • Robekan di dinding arteri, yang dikenal sebagai diseksi vascular.
  • Stroke.

Nah, dengan melakukan kateterisasi otak, masalah yang terjadi pada pembuluh darah di otak dapat terdeteksi atau dipastikan, sehingga dokter dapat merencanakan perawatan yang tepat. Selain itu, kateterisasi otak juga bisa digunakan untuk tujuan berikut:

  • Untuk mengevaluasi pembuluh darah di kepala dan leher sebelum operasi.
  • Untuk memberikan informasi tambahan tentang kelainan yang terlihat pada MRI atau CT scan kepala, seperti suplai darah ke tumor.
  • Untuk mempersiapkan perawatan medis lainnya, seperti dalam operasi pengangkatan tumor.
  • Sebagai bagian dalam persiapan untuk pengobatan invasif minimal dari kelainan pembuluh darah.

Kamu juga perlu melakukan kateterisasi otak, bila mengalami gejala-gejala berikut:

  • Sakit kepala parah.
  • Kesulitan berbicara atau cadel.
  • Pusing.
  • Mengalami masalah penglihatan, seperti penglihatan menjadi kabur atau penglihatan ganda.
  • Kelemahan atau mati rasa.
  • Kehilangan koordinasi atau keseimbangan.

Itulah waktu yang tepat untuk melakukan kateterisasi otak. Bila kamu mengalami gejala-gejala seperti di atas, kamu bisa melakukan pemeriksaan dengan buat janji di rumah sakit pilihan kamu melalui aplikasi Halodoc

Baca juga: Kateterisasi Jantung dan Otak, Adakah Efek Sampingnya?

Persiapan yang Perlu Dilakukan sebelum Kateterisasi Otak

Bila dokter menyarankan kamu untuk melakukan kateterisasi otak, bicarakan dengan dokter tentang persiapan apa saja yang perlu kamu lakukan. Kamu mungkin perlu berpuasa pada malam harinya sebelum hari prosedur.

Sebelum melakukan kateterisasi otak, dokter mungkin juga akan memintamu untuk berhenti mengonsumsi obat yang meningkatkan risiko perdarahan, seperti:

  • Obat pengencer darah.
  • Aspirin.
  • Obat antiinflamasi nonsteroid.

Bagi ibu yang menyusui, pompalah air susu ibu sebelum prosedur, dan jangan menyusui anak lagi setidaknya selama 24 jam setelah prosedur. Jeda waktu tersebut diperlukan agar bahan kontras yang disuntikkan ke darah ibu dapat keluar dari tubuh sepenuhnya.

Beri tahu juga pada dokter bila kamu memiliki alergi atau kondisi medis tertentu. Pasalnya, ada beberapa orang yang alergi terhadap bahan kontras yang digunakan selama prosedur. Beritahu pada dokter bila kamu memiliki alergi terhadap anestesi atau bahan kontras yang diberikan untuk CT scan. Dokter mungkin dapat meresepkan obat anti alergi sebelum tes.

Penyakit dan kondisi medis tertentu dapat meningkatkan risiko komplikasi selama tes. Jika kamu mengidap diabetes atau penyakit ginjal, bahan kontras menyebabkan kerusakan sementara pada ginjal kamu. Bila kamu hamil atau sedang merencanakan kehamilan, bicarakanlah pada dokter mengenai dampak paparan radiasi selama tes.

Baca juga: Perawatan Setelah Kateterisasi Jantung dan Otak

Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga agar kamu bisa mendapatkan solusi kesehatan terlengkap yang kamu butuhkan kapan saja dan di mana saja. 

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2020. Cerebral Angiography.
Radiology. Diakses pada 2020. Cerebral Angiography.