• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kapan Sebaiknya ke Dokter saat Anak Mengalami Gejala Tifus?

Kapan Sebaiknya ke Dokter saat Anak Mengalami Gejala Tifus?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta - Ingin anak selalu sehat, tentu tidak mungkin. Terkadang, ada saja penyakit yang bisa menyerang anak-anak. Terlebih daya tahan tubuhnya belum sebaik orang dewasa. Salah satu penyakit yang rentan menyerang anak-anak adalah demam tifoid atau tifus (tipes). Kapan sebaiknya ke dokter saat anak mengalami gejala tifus?

Tentu saja, secepatnya, ketika gejala muncul. Jika penanganan tidak dilakukan dengan cepat dan tepat, ada risiko komplikasi serius yang bisa membahayakan Si Kecil. Jadi, penting bagi para orangtua, untuk bisa mengenali apa saja gejala tifus pada anak.

Baca juga: Gejala Mirip Tipes, Meningitis Bisa Sebabkan Koma

Saat Anak Mengalami Gejala Tifus

Salmonella typhi adalah bakteri yang menyebabkan tifus pada anak. Bakteri ini bisa memasuki tubuh lewat makanan atau minuman yang terkontaminasi, lalu dikonsumsi oleh anak. Selain itu, penularan bakteri penyebab tifus juga bisa terjadi lewat kontak langsung dengan pengidap tifus yang kurang menjaga kebersihan.

Ketika masuk ke tubuh, bakteri Salmonella typhi berkembang biak dengan cepat dan menimbulkan gejala penyakit. Namun, perlu diketahui juga bahwa gejala tifus yang dialami bisa bervariasi pada setiap anak.

Gejala bisa muncul tiba-tiba ataupun bertahap dalam waktu beberapa minggu setelah terpapar bakteri. Sebab, masa inkubasi bakteri penyebab tifus umumnya adalah 7-14 hari.

Meski gejalanya bisa bervariasi, secara umum, berikut gejala tifus pada anak, mengutip Kids Health:

  • Demam tinggi, sekitar 39-40 derajat Celsius;
  • Sakit perut, diare, atau konstipasi;
  • Nyeri otot atau pegal-pegal pada tubuh;
  • Sakit kepala;
  • Sakit tenggorokan;
  • Tubuh terasa lemas dan lelah;
  • Muncul ruam atau bintik-bintik merah pada kulit dada dan perut.

Baca juga: Kena Tifus, Bolehkah Tetap Beraktivitas Berat?

Jika anak mengalami gejala tifus seperti yang telah disebutkan tadi, segera bawa ke klinik atau rumah sakit terdekat, agar bisa diperiksa oleh dokter. Kalau merasa ragu akan gejala yang muncul, apakah ada indikasi tifus atau tidak, ibu bisa download aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter, guna mendapat saran yang cepat dan tepat. 

Penanganan Tifus pada Anak

Saat mendiagnosis tifus, dokter pertama-tama akan bertanya tentang keluhan yang dialami anak dan riwayat medisnya. Setelah itu, biasanya akan dilakukan tes darah dan pengambilan sampel tinja untuk diperiksa di laboratorium. Berulah setelah hasilnya keluar, dokter bisa menentukan langkah penanganan tifus pada anak. 

Umumnya, tifus dapat sembuh dalam 3-4 minggu, jika tidak ada gangguan kesehatan lain yang dialami anak. Tergantung kondisi, dokter bisa menyarankan perawatan di rumah atau di rumah sakit, selama masa penyembuhan tifus. 

Baca juga: Sudah Sembuh, Gejala Tipes Bisa Datang Lagi?

Beberapa obat yang biasa diresepkan dokter untuk mengobati tifus pada anak adalah:

1.Antibiotik

Karena disebabkan oleh bakteri, pengobatan tifus bisa dilakukan dengan pemberian antibiotik. Setelah pemberian antibiotik, gejala biasanya akan berkurang dalam waktu 2-3 hari. Pastikan anak diberi antibiotik sesuai dengan petunjuk dan anjuran dari dokter, agar terhindar dari resistensi bakteri. 

2.Obat Pereda Nyeri

Untuk mengatasi gejala demam, sakit kepala, dan nyeri otot, dokter juga akan meresepkan obat pereda nyeri, seperti paracetamol. Sama seperti antibiotik, pastikan untuk memberi obat pada anak sesuai dosis dan anjuran dari dokter. 

Selain pemberian obat-obatan yang diresepkan dokter, pastikan juga anak minum air putih yang cukup agar terhindar dari dehidrasi. Agar proses penyembuhan maksimal dan risiko penularan bisa dicegah, pastikan anak istirahat total dan tidak keluar rumah, sampai benar-benar sembuh. Istirahat yang cukup juga merupakan kunci penyembuhan tifus pada anak

Referensi:
Kids Health. Diakses pada 2020. Typhoid Fever.
About Kids Health. Diakses pada 2020. Typhoid Fever.
WHO. Diakses pada 2020. Typhoid.