• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kapan Sebaiknya Otoacoustic Emissions (OAE) Dilakukan?

Kapan Sebaiknya Otoacoustic Emissions (OAE) Dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Telinga manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu telinga luar, tengah, dan dalam. Pemeriksaan Otoacoustic Emissions (OAE) digunakan untuk mengetahui seberapa baik telinga bagian dalam atau koklea bekerja. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengukur emisi otoacoustic atau OAE. Ini merupakan suara yang dikeluarkan oleh telinga bagian dalam saat merespons suara. 

Di dalam telinga juga terdapat sel-sel rambut yang merespons suara dengan getaran. Getaran menghasilkan suara yang sangat tenang yang menggema kembali ke telinga tengah. Suara ini merupakan OAE yang diukur. 

Baca juga: Jenis Tes Pendengaran, Ini Fakta Otoacoustic Emissions

Waktu Terbaik Melakukan Pemeriksaan Otoacoustic Emissions (OAE)

Apabila kamu memiliki pendengaran yang normal, maka akan menghasilkan OAE. Jika gangguan pendengaran yang kamu miliki lebih besar dari 24-30 desibel (dB), kamu tidak akan menghasilkan suara yang sangat lembut. 

Pemeriksaan ini juga dapat menunjukkan apakah adanya penyumbatan di telinga luar atau tengah. Jika ada penyumbatan, tidak ada suara yang bisa masuk ke telinga bagian dalam. Hal ini berarti bahwa tidak akan ada getaran atau suara yang kembali. 

Pemeriksaan otoacoustic emissions (OAE) juga sebaiknya segera dilakukan pada bayi yang baru lahir. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengukur gelombang suara di telinga bayi bagian dalam. Proses pelaksanaannya dilakukan dengan meletakkan perangkat kecil di telinga bayi, untuk menghasilkan bunyi klik yang lembut. Setelah itu, alat akan merekam respons telinga bayi terhadap bunyi tersebut. 

Pemeriksaan otoacoustic emissions merupakan hal yang penting dilakukan untuk membantu mendeteksi dan mencegah gangguan pendengaran. Dengan begitu, risiko atau kondisi yang menyebabkan gangguan pendengaran tersebut bisa mendapat penanganan yang tepat sejak dini, sehingga mencegah terjadinya komplikasi di masa depan.

Baca juga: 5 Jenis Gangguan Pendengaran yang Perlu Diketahui

Gangguan Pendengaran yang Dapat Diperiksa dengan OAE

Pemeriksaan pendengaran dilakukan untuk mengetahui kemampuan mendengar seseorang yaitu dengan mengukur seberapa baik suara terhantar ke otak. Proses mendengar terjadi saat gelombang suara masuk melalui telinga dan dihantarkan oleh saraf ke otak. Proses terganggu apabila ada bagian telinga yang rusak dan terjadi gangguan pendengaran. Berikut dua jenis gangguan pendengaran yang perlu diwaspadai dan sebaiknya dilakukan pemeriksaan OAE:

  • Tuli Konduktif. Jenis gangguan pendengaran ini terjadi jika terdapat masalah pada saluran telinga atau bagian tengah telinga. Akibatnya, gelombang suara terhadap dan tidak bisa masuk ke bagian dalam telinga. Gangguan pendengaran jenis ini berpotensi menyebabkan hilangnya pendengaran sementara atau permanen. 

  • Tuli Sensorineural, terjadi apabila organ pada bagian dalam telinga (koklea) atau saraf pendengaran tidak berfungsi normal. Alhasil, suara tidak terhantar ke otak dan menyebabkan tuli secara permanen.

Pemeriksaan otoacoustic emissions dianjurkan jika seseorang merasa ada suara dengung pada telinga (tinnitus), bicara terlalu keras tanpa sadar (akibat gangguan pendengaran), sering meminta lawan bicara mengulang pembicaraan, sulit mendengar, serta mendengarkan lagu atau TV terlalu kencang hingga mengganggu orang lain. Jika kamu memiliki gejala seperti ini sebaiknya segera bicara pada dokter melalui aplikasi Halodoc untuk penanganannya. 

Baca juga: Gangguan Pendengaran Bisa Pengaruhi Kesehatan Mental?

Pada anak-anak, sebaiknya pemeriksaan ini tidak dilewatkan, khususnya untuk mengidentifikasi gangguan pendengaran pada anak-anak. Dokter dapat memutuskan pemeriksaan mana yang penting untuk dilakukan dan melengkapinya dengan akurasi dan efisiensi. Jika gangguan pendengaran diidentifikasi, ahli audiologi anak akan memberi informasi mengenai gangguan pendengaran yang dialami dan pilihan untuk perawatan.

Selain otoacoustic emissions (OAE), gangguan pendengaran bisa dideteksi melalui tes bisik, garpu tala, audiometri tutur, audiometri nada murni, auditory brainstem response test, dan timpanometri. Semua jenis pemeriksan pendengaran tersebut dilakukan oleh semua orang karena tidak menimbulkan efek samping. 

Referensi:
ASHA. Diakses pada 2020. Otoacoustic Emissions (OAEs)
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Hearing Loss