• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kapan Tes Kolesterol Sebaiknya Dilakukan pada Remaja?

Kapan Tes Kolesterol Sebaiknya Dilakukan pada Remaja?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Yakin masih mau menganggap remeh kadar kolesterol yang tinggi dalam tubuh? Banyak ahli sudah mengatakan, kolesterol tinggi bisa menimbulkan berbagai masalah pada tubuh. Mulai dari penyakit kardiovaskular hingga stroke. Tuh, seram kan? 

Sudah tahu kan kalau kolesterol tinggi ini enggak pandang bulu? tak peduli wanita atau pria, tua atau muda, sama-sama punya risiko untuk mengidapnya. Sebab sebagian besar kasus kolesterol tinggi disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat. Seperti asupan makanan tinggi kolesterol, makanan siap saja, hingga jarang berolahraga. 

Nah, menyoal kolesterol ini, ada satu tindakan yang perlu kita lakukan untuk mengetahui kadar kolesterol dalam tubuh, yaitu cek kolesterol. Memeriksa kadar kolesterol itu amat penting, apalagi bagi seseorang yang berisiko tinggi. 

Pertanyaannya kapan sih waktu yang tepat untuk melakukan cek kolesterol pada remaja? 

Baca juga: Awas! Kolesterol Tinggi Picu Berbagai Penyakit

Dua Kali dan Bergantung Kondisi Tubuh

Pada dasarnya kita enggak perlu menunggu berbagai gejala muncul untuk melakukan cek kolesterol. Sebaiknya cek kolesterol ini dilakukan secara berkala dan sedini mungkin. Nah, menurut The American Heart Association, kadar kolesterol darah sebaiknya diperiksa setiap 5 tahun setelah seseorang berusia 20 tahun.

Namun, jika kadar kolesterol dalam tubuh melebihi 200 mg/dL, maka cek kolesterol sebaiknya dilakukan setiap 3 bulan sampai kadarnya normal kembali. Nah, andaikan kadar kolesterol telah normal, maka cek kolesterol bisa dilakukan minimal satu kali dalam setahun.

Lalu, bagaimana dengan remaja? 

Pakar di National Heart, Lung, and Blood Institute merekomendasikan tes kolesterol pada remaja dibagi menjadi dua. Pertama antara usia 9 dan 11 tahun, selanjutnya tes kolesterol dilakukan antara usia 17 dan 21 tahun. Namun, dokter akan merekomendasikan agar tes kolesterol dilakukan lebih rutin bila anak memiliki kondisi seperti:

  • Memiliki riwayat keluarga dengan penyakit arteri koroner.

  • Mengidap obesitas, diabetes, atau hipertensi.

  • Menerapkan pola makan tinggi lemak.

  • Jarang berolahraga dan sering mengonsumsi makanan yang tidak sehat.

Nah, andaikan anak memiliki kondisi-kondisi di atas, maka tes kolesterol sebaiknya dilakukan secara rutin. 

Lalu, bagaimana dengan prosedurnya? Kita diharuskan berpuasa sebelum melakukan cek kolesterol, setidaknya 9–12 jam. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan nilai basal kolesterol dalam tubuh, tanpa adanya intervensi. Di samping itu, cek kolesterol sebaiknya dilakukan di pagi hari, setelah berpuasa pada malam sebelumnya. 

Nah, kesimpulannya, cek kolesterol sebaiknya dilakukan sedini mungkin sebelum muncul berbagai gejalanya. Sebab dengan mengetahui kadar kolesterol dalam tubuh, kita bisa menjaga kondisi kesehatan dan terhindar dari berbagai penyakit yang diakibatkan oleh kolesterol tinggi. 

Baca juga: Tips Mengecek Gula Darah dan Kolesterol di Rumah

Atasi dengan Rutin Berolahraga

Umumnya, kalau kadar kolesterol sudah terlanjur tinggi, dokter akan menyarankan kamu untuk rutin berolahraga sebelum mengonsumsi obat-obatan. Enggak cuma itu, orang gemuk juga harus menurunkan berat badannya terlebih dahulu. Bagi mereka yang kadar trigliserida (salah satu jenis lemak yang dibawa dalam aliran darah) tinggi, juga perlu mengurangi konsumsi gula dan karbohidrat. 

Lalu, apa hubunganya olahraga dengan kolesterol tinggi? Nah, menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal Arteriosclerosis, Thrombosis, and Vascular Biology, mengatakan bahwa olahraga dapat meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL). Hal senada pun juga ditemukan para ahli dalam Lipids in Health and Disease. Menurut periset, wanita yang rajin berolahraga memiliki kadar HDL yang jauh lebih tinggi daripada perempuan dengan gaya hidup sedentary (tak aktif secara fisik).

Untuk kamu yang mengidap kolesterol tinggi dan obesitas, olahraga juga menyimpan keistimewaan. Kata ahli dalam Journal of Obesity, olahraga seperti berjalan, berlari, dan bersepeda, bisa menurunkan tingkat kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida. 

Baca juga: Gemar Makan Steak, Awas Kolesterol Tinggi

Namun, dalam memilih jenis olahraganya kamu harus cermat. Sebab pengidap kolesterol tinggi memiliki penumpukan plak dipembuluh darahnya. Nah, olahraga berat bisa membuat plak ini terlepas dan terbawa aliran darah. Imbasnya bisa menyumbat pembuluh darah, bahkan membuatnya pecah. Mau tahu akibatnya? Bila pecahnya terjadi di otak bisa berakibat stroke, sedangkan di jantung bisa berakibat serangan jantung, lho. 

Oleh sebab itu, sebaiknya kamu peru berdiskusi dulu dengan dokter untuk memilih jenis olahraga yang tepat sebagai kiat mengelola kolesterol tinggi. Pastinya olahraga perlu dilakukan bertahap dan progresif. 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
National Institute of Health. Diakses pada 2020. U.S. National Library of Medicine MedlinePlus. Cholesterol Levels.
American Heart Association. Diakses pada 2020. How To Get Your Cholesterol Tested.
Web MD. Diakses pada 2020. Exercise To Lower Cholesterol.