Kapan Waktu yang Tepat Lakukan Tes Buta Warna?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Kapan Waktu yang Tepat Lakukan Tes Buta Warna?

Halodoc, Jakarta - Coba tebak, kira-kira berapa banyaknya pengidap buta warna di seluruh dunia? Bagi kamu yang menjawab kisaran 1–10 juta rasanya kurang tepat. Berdasarkan data Colour Blind Awareness, setidaknya 300 juta orang di seluruh dunia mengidap buta warna. Dengan kata lain, melebihi jumlah penduduk Indonesia, sangat banyak bukan? 

Buta warna sendiri sebenarnya bisa dicegah lewat pemeriksaan dan tindakan segera. Oleh sebab itu, deteksi dini white pupil (pupil putih) menjadi hal yang sangat penting dalam pencegahan kebutaan pada anak. 

Lantas, kapan sih waktu yang tepat untuk melakukan tes buta warna? 

Jangan Tunggu Masalah Muncul, Apalagi Dewasa

Kira-kira sekitar 5–10 persen akan di usia pra sekolah, dan 25 persen mereka yang menginjak usia sekolah, mengalami gangguan pada penglihatannya. Artinya, gangguan mata bukanlah monopoli orang dewasa atau lansia saja. Di samping itu, risiko gangguan mata pada anak ini juga makan meningkat ketika ada anggota keluarga yang memiliki masalah penglihatan. 

Kembali ke pertanyaan di atas, kapan sih waktu yang tepat untuk melakukan tes buta warna? Jawabannya simpel, sedini dan segera mungkin. Menurut ahli di American Academy of Ophthalmology dan American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus, orangtua perlu mulai memeriksakan mata anaknya sejak awal dilahirkan. Tujuannya untuk menelisik ada tidaknya kemungkinan tanda-tanda kelainan penglihatan.

Selanjutnya, ketika dirinya sudah menginjak usia enam bulan sampai satu tahun, cobalah periksa kembali perkembangan matanya. Tahap selanjutnya pada usia 3 sampai 3,5 tahun, lakukan pemeriksaan lanjutan dan tes ketajaman mata. Nah, di usia 5–6 tahun, ketika Si Kecil sudah mulai mengenal warna, cobalah lakukan pemeriksaan tes buta warna. Andaikan anak sudah mulai mengenal warna di bawah usia tersebut, tes buta warna juga boleh saja kok dilakukan. 

Hal yang perlu digarisbawahi, lakukanlah pemeriksaan tes buta warna bila anak atau dirimu mengalami gejala-gejala di bawah ini:

  • Sulit membedakan warna lampu lalu lintas.

  • Sulit mengikuti pelajaran di sekolah yang berhubungan dengan warna. 

  • Sulit membedakan warna makanan atau buah-buahan.

  • Sulit mengidentifikasi warna.

  • Sensitif terhadap cahaya terang.

  • Sulit mengidentifikasi warna ketika saat berada di lingkungan atau kondisi dengan cahaya yang redup. 

Bukan Cuma Dipengaruhi Genetik

Mata memiliki sel-sel saraf khusus mengandung pigmen yang bereaksi terhadap warna dan cahaya. Nah, sel ini punya tiga pigmen yang berfungsi untuk mendeteksi warna merah, hijau, dan biru. Namun, sel pigmen ini mengalami kerusakan atau tidak berfungsi pada pengidap buta warna. Alhasil, mereka enggak bisa mendeteksi warna-warna tertentu atau bahkan seluruh warna. 

Penyebab utama dari masalah ini sebenarnya faktor genetik alias kelainan gen yang diwarisi dari orangtua. Namun, ada juga beberapa faktor lainnya yang bisa menyebabkan rusaknya sel-sel tersebut. Misalnya, penyakit diabetes, glaukoma, atau multiple sclerosis. Di samping itu, efek samping obat-obatan, kecelakaan, dan terpapar bahan kimia juga bisa saja memicu terjadi kerusakan sel mata. 

Baca juga: 5 Cara Tes Buta Warna yang Akurat

Sayangnya, tak ada obat untuk mengobati buta warna yang disebabkan oleh genetik. Selain itu, banyak pula orang yang tak menyadari kalau mereka mengalami buta warna. Kok bisa? Pasalnya, mereka sudah dilahirkan dengan kondisi tersebut, dan tak menyadari kalau orang lain bisa melihat berbagai macam warna melalui matanya.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa kapan dan di mana saja mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
The American Academy of Ophthalmology (AAO). Diakses pada 2019. Eye Screening for Children.
Healthline. Diakses pada 2019. What Causes Color Blindness?