• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kecanduan Media Sosial atau Alkohol, Mana yang Lebih Bahaya?

Kecanduan Media Sosial atau Alkohol, Mana yang Lebih Bahaya?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Menghabiskan waktu menggunakan media sosial saat sedang merasa bosan memang bisa sangat menyenangkan bagi sebagian besar orang. Namun, siapa sangka jika menggunakan media sosial juga bisa membuat kecanduan. Sama seperti halnya jika kamu mengonsumsi alkohol, media sosial bisa memberikan efek candu yang sama.


Perbedaan yang terlihat saat seseorang mengalami kecanduan media sosial dibandingkan alkohol terletak pada dampaknya pada tubuh. Kecanduan alkohol dapat menyebabkan seseorang mengalami dampak buruk pada fisik, terutama ginjal. Jika seseorang mengalami ketergantungan pada media sosial, kerusakan dapat terjadi pada emosi, perilaku, dan hubungan antar manusia. Namun, mana yang lebih berbahaya? Berikut pembahasannya!

 

Baca juga: Kecanduan Media Sosial? Begini Tips Ampuh Mengatasinya

 

Perbandingan Bahaya Antara Kecanduan Media Sosial dengan Alkohol

 

Pada generasi yang lebih tua, kecanduan yang umum terjadi disebabkan alkohol, dan obat-obatan. Namun pada generasi sekarang, atau disebut juga milenial, media sosial juga dapat menyebabkan ketergantungan. Teknologi yang seharusnya digunakan untuk bersantai atau berinteraksi dengan orang lain menjadi sesuatu yang membuat seseorang sulit untuk meninggalkannya karena menimbulkan rasa adiksi.

 

Dalam studi yang dilakukan oleh University of Chicago Booth School of Business, ditemukan bahwa media sosial bisa lebih membuat kecanduan dibandingkan alkohol. Alasannya, keinginan untuk mengonsumsi alkohol bisa dikontrol atau diturunkan. Namun, keinginan untuk memeriksa apa yang terjadi di media sosial bisa dibilang sulit ditahan. Tentu saja ini bisa disebut sebagai salah satu kecanduan yang serius.

 

Studi yang ditemukan University of Chicago Booth School of Business ini dilakukan pada 250 orang di Jerman berusia 18 hingga 85 tahun. Uniknya dalam studi ini ditemukan bahwa kebanyakan orang-orang tersebut dapat menahan keinginan mereka, seperti tidur atau berhubungan intim pada siang hari. Namun, ini tidak berlaku untuk media sosial. Keinginan untuk menggunakan media sosial jauh lebih tinggi dibandingkan keinginan lain yang mereka rasakan.

 

Lalu kenapa media sosial bisa lebih membuat kecanduan dibandingkan alkohol?

 

  • Alasan terbesar adalah karena media sosial lebih mudah “didapatkan” daripada alkohol. Kamu hanya butuh smartphone dan sambungan internet.


  • Media sosial jelas lebih murah dibandingkan alkohol. Tak perlu merogoh kantong terlalu dalam untuk membuka media sosial. Tentu saja berbeda dengan alkohol yang memerlukan “biaya” tambahan bagi kamu jika ingin mengonsumsinya.


  • Keinginan untuk menggunakan media sosial lebih sulit ditolak dibandingkan alkohol. Oleh karena lebih mudah didapatkan, menggunakan media sosial menjadi candu yang sulit ditinggalkan. Lagi dan lagi, saat sudah menggunakan media sosial, kamu akan tergoda untuk menggunakannya terus-menerus.


  • Tak ada larangan menggunakan media sosial di depan publik. Seseorang mungkin kesulitan mengonsumsi alkohol secara terang-terangan saat kamu bekerja atau berada di tempat umum. Namun, berbeda dengan media sosial yang tak butuh ijin dari orang lain. Kamu bisa mengunggah status kapan dan di mana saja, tanpa batasan ruang dan waktu.

 

Baca juga: Kecanduan Media Sosial atau Alkohol, Mana yang Lebih Bahaya?

 

Penggunaan media sosial secara berlebihan dapat menimbulkan dampak negatif seperti:

 

  • Membuang-buang waktu. Bukannya tidak boleh menggunakan media sosial. Namun jika secara berlebihan, maka sama halnya dengan menyia-nyiakan waktu luang. Misalnya, waktu kerja dan istirahat jadi terganggu.


  • Menurunkan rasa percaya diri. Saat mengetahui teman di media sosial terlihat menikmati hidup mereka, bukan tidak mungkin kamu akan merasa tertekan dengan fakta itu karena hidup kamu tidak seperti mereka. Sayangnya, orang lebih mudah percaya melihat apa yang ditampilkan di media sosial tanpa menyadari kenyataan yang sesungguhnya. Percayalah, apa yang ada di media sosial tidak sepenuhnya benar dan bisa jadi hanya karangan belaka.

 

  • Perubahan suasana hati. Seseorang yang mengalami kecanduan media sosial dapat mengalami masalah pada suasana hati, seperti perilaku, kognitif keadaan, dan emosional yang tidak stabil. Toleransi terhadap penggunaan media sosial juga dapat meningkat dari waktu ke waktu. Terakhir, konflik yang berhubungan dengan masalah interpersonal juga dapat terjadi karena penggunaan media sosial.

 

Fenomena kecanduan dari media sosial sebagian besar dapat berkontribusi pada lingkungan sosial yang memicu dopamin. Platform media sosial, seperti Facebook, Snapchat, dan Instagram, mampu menghasilkan masalah saraf yang sama ditimbulkan saat seseorang berjudi dan mengonsumsi obat-obatan terlarang untuk menjaga ketergantungan pada produknya. Interaksi dari media sosial dapat memengaruhi area otak untuk memicu reaksi kimia yang sama layaknya kokain.

 

Lalu, seperti apa tanda seseorang yang sudah kecanduan media sosial? Perhatikan kebiasaan menggunakan media sosial. Apabila kamu memperbarui status pada tengah malam dan bukannya tidur, maka dapat dikatakan bahwa kamu sudah masuk dalam fase awal kecanduan media sosial. Untuk itu sebaiknya lebih memerhatikan diri sendiri dengan mempedulikan kondisi tubuh dan kesehatanmu.

 

Baca juga: 6 Cara Efektif Mengatasi Kecanduan Alkohol

 

Apabila merasa dorongan menggunakan media sosial semakin besar, bisa jadi ada yang salah dengan kondisi psikologis kamu. Kalau sudah begini, tak perlu malu menghubungi dokter.

 

Kamu bisa menghubungi psikolog atau dokter jiwa pilihanmu melalui Halodoc. Gunakan fitur Chat, Video Call, dan Voice Call untuk berkonsultasi kapan dan di mana saja. Selain konsultasi dengan ahlinya, kamu juga bisa menggunakan Halodoc untuk belanja kebutuhan medis, seperti obat atau vitamin yang diinginkan. Download aplikasi Halodoc sekarang melalui App Store dan Google App sekarang. 


Referensi:
Addiction Center. Diakses pada 2021. Social Media Addiction.
Business Standard. Diakses pada 2021. Social media addiction is as harmful as alcohol and drugs for millennials.