• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kehamilan di Usia 40-an, Berisiko atau Tidak?

Kehamilan di Usia 40-an, Berisiko atau Tidak?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
undefined

Halodoc, Jakarta – Susan Heitler therapist pernikahan dari Denver, Colorado mengatakan waktu terbaik memiliki anak adalah menginjak usia akhir 20-an hingga awal 30-an. Usia 40-an adalah usia yang cukup berisiko untuk kehamilan. Pertimbangannya tidak saja sesederhana perbedaan usia antara orangtua dan anak yang sangat berjarak tetapi juga kesehatan, usia yang tidak muda lagi sehingga daya tahan dan pemulihan butuh lebih lama ketimbang mereka yang berusia muda. Berikut adalah beberapa risiko hamil di umur 40 yang perlu menjadi catatan:

  1. Risiko Kelainan Genetik Lebih Besar

Wanita hamil di umur 40 tahun lebih berisiko melahirkan anak dengan kelainan genetik. Bahkan menurut penelitian Royal College of Obstetricians and Gynaecologists, kehamilan 40-an bisa berisiko ibu hamil mengidap preeklampsia dan keguguran. Sekali lagi risiko ini terkait dengan usia dan daya tahan tubuh yang menurun karena faktor umur.

  1. Kemungkinan Terjadi Kelainan Kromosom

Kelainan kromosom sangat umum terjadi menginjak usia 40-an. Sel telur mengalami kesulitan membelah seiring dengan usia yang merangkak naik. Sangat disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter untuk memeriksa kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di kehamilan usia tua ini.

Supaya lebih jelas, orangtua bisa menanyakan langsung informasi risiko hamil di umur 40 ke Halodoc. Cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store, melalui fitur Contact Doctor orangtua bisa memilih ngobrol lewat Video/Voice Call atau Chat dan langsung terhubung dengan dokter-dokter spesialis di bidangnya.

  1. Kondisi Kesehatan yang Bisa Membahayakan Janin

Bisa dibilang semakin menginjak usia matang, kondisi kesehatan tidak lagi prima seperti usia 20-an atau 30-an. Ada beberapa penyakit yang seringnya terlambat diketahui setelah ada pemeriksaan kehamilan seperti diabetes, darah tinggi, jantung, tiroid ataupun obesitas. Kondisi kesehatan seperti ini bisa menjadi salah satu risko hamil di umur 40. (Baca juga 7 Cara Suami Manjakan Istri yang Sedang Hamil)

  1. Kualitas Sperma Pasangan yang Menurun

Persoalan bukan hanya pada sel telur tetapi juga pada sperma pasangan. Sperma pria dengan usia yang menua bisa membawa cacat genetik untuk anak. Mulai dari down syndrome, schizophrenia dan autis.

  1. Tanggung Jawab Finansial

Mengingat kehamilan di umur yang sudah hampir setengah abad, kemampuan bekerja juga tidak maksimal lagi ditambah tanggungan anak yang harus dipikirkan mulai dari kesehatan sampai kepada pendidikannya. Persoalan ini jangan dianggap sederhana karena pada akhirnya menjadi hal yang perlu dipikirkan dan dicari solusinya. Ketika teman-teman sudah mulai memikirkan pensiun, orangtua masih memikirkan kuliah anak dan lain-lainnya.

Walaupun ada beberapa risiko bukan berarti tanpa solusi. Ada beberapa hal positif untuk wanita yang hamil di usia 40, yaitu:

  1. Lebih Berpengalaman

Usia yang sudah matang membuat calon orangtua melihat dunia dengan cara yang luas dan berbeda. Pengalaman maupun suka duka masa muda telah direguk sampai tuntas. Tidak ada pertanyaan-pertanyaan lagi mengenai hidup dan romantika yang ada hanya keinginan untuk menciptakan keluarga lengkap melalui kehadiran anak.

  1. Lebih Dewasa

Usia yang matang akan membuat calon orangtua bisa menentukan dan memutuskan segala sesuatu lebih rasional dan logika. Tidak sekadar senang-senang ataupun lucu-lucuan, sesuatu yang sering dialami pasangan muda. Misalnya, membeli perlengkapan bayi tidak hanya karena bentuknya cantik tetapi juga fungsional dan sesuai dengan kebutuhan bayi.

  1. Finansial Lebih Oke

Walaupun calon orangtua kelak harus memikirkan finansial lebih detail lagi untuk pendidikan dan kebutuhan anak di masa mendatang. Seharusnya di usia kepala empat, keuangan bisa dibilang cukup stabil. Biaya persalinan pun seharusnya tidak menjadi isu utama.