• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kehamilan Pertama, Pilih Persalinan Caesar atau Normal?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kehamilan Pertama, Pilih Persalinan Caesar atau Normal?

Kehamilan Pertama, Pilih Persalinan Caesar atau Normal?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 24 Juni 2021
Kehamilan Pertama, Pilih Persalinan Caesar atau Normal?Kehamilan Pertama, Pilih Persalinan Caesar atau Normal?

“Ibu hamil direkomendasikan untuk melakukan persalinan normal jika kehamilannya dianggap berisiko rendah. Dokter kandungan hanya akan melakukan operasi caesar jika ada kemungkinan komplikasi yang berpotensi muncul selama persalinan. Pasalnya, operasi caesar dapat membawa dampak kesehatan di masa mendatang pada ibu.”

Halodoc, Jakarta –  Meskipun operasi caesar umumnya dianggap aman dan dalam beberapa situasi dianggap minim risiko, untuk kehamilan pertama persalinan normal lebih direkomendasikan. Pasalnya, ketika melakukan operasi caesar pada kehamilan pertama, risiko untuk melahirkan dengan operasi caesar di kehamilan selanjutnya lebih besar. 

Ketika persalinan caesar dilakukan pada kehamilan pertama, butuh pertimbangan untuk menjalani persalinan normal di kehamilan berikutnya. Ini berkaitan dengan lokasi sayatan caesar, karena persalinan normal dapat membuka sayatan lama yang terjadi ketika persalinan caesar dilakukan di kehamilan selanjutnya.

Persalinan Normal Lebih Disarankan

Menurut BMC Pregnancy and Childbirth, ibu hamil direkomendasikan untuk melakukan persalinan normal jika kehamilannya dianggap berisiko rendah. Dokter kandungan hanya akan melakukan operasi caesar jika ada kemungkinan komplikasi yang berpotensi muncul selama persalinan. Operasi caesar dapat membawa dampak kesehatan di masa mendatang pada ibu. Apa sajakah dampaknya?

Baca juga: Lakukan Persalinan Normal, Persiapkan 8 Hal Ini

1. Infeksi luka yang menyebabkan kemerahan, pembengkakan, peningkatan rasa sakit, dan keluarnya cairan dari luka.

2. Infeksi pada lapisan rahim yang gejalanya meliputi demam, sakit perut, keputihan yang tidak normal, dan pendarahan vagina yang berat.

3. Pendarahan berlebihan. Walau jarang terjadi, tetapi kondisi ini memerlukan transfusi darah. Pada kasus yang parah, operasi mungkin dilakukan untuk menghentikan pendarahan.

4. Deep Vein Thrombosis (DVT) yaitu munculnya bekuan darah di kaki yang dapat menyebabkan rasa sakit dan bengkak, dan bisa sangat berbahaya jika berjalan ke paru-paru (emboli paru).

5. Kerusakan pada kandung kemih atau saluran yang menghubungkan ginjal dan kandung kemih yang mungkin memerlukan pembedahan lebih lanjut.

Selain risiko pada ibu, operasi caesar terkadang dapat menyebabkan beberapa masalah pada bayi, seperti kesulitan bernapas. Ini paling sering terjadi pada bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 39 minggu. 

Persalinan caesar juga dapat memengaruhi persalinan selanjutnya, seperti bekas luka di rahim yang terbuka, plasenta menempel secara tidak normal pada dinding rahim, kesulitan mengeluarkan plasenta, sampai bayi lahir dengan kondisi tidak bernyawa.

Baca juga: Bercak Darah Tanda Kehamilan yang Harus Diketahui

Kelahiran melalui operasi caesar juga ada batasnya, yaitu maksimum dilakukan sebanyak tiga kali. Meskipun begitu, operasi caesar menjadi satu-satunya pilihan persalinan normal terlalu berisiko. Misalnya jika bayi terlalu besar atau jika ibu memiliki panggul kecil, atau jika bayi tidak dalam posisi kepala di bawah dan upaya untuk membalikkan bayi proses melahirkan tidak berhasil. 

Bagaimana Meningkatkan Peluang Persalinan Normal?

Mengetahui peluang melahirkan normal lebih baik ketimbang caesar, ibu bisa melakoni beberapa kiat untuk meningkatkan peluang persalinan normal. 

Baca juga: 6 Cara Mengatasi Stres saat Hamil

1. Berlatih pijat perineum. Ibu dapat berlatih pijat perineum untuk mempersiapkan jalan lahir sekaligus melatih peregangan. Pijat perineum yang dilakukan sekali atau dua kali seminggu pada minggu-minggu terakhir kehamilan lebih efektif daripada setiap hari

2. Tetap bergerak di tahap awal persalinan. Bukti menunjukkan bahwa tetap aktif, berjalan, dan tetap tegak dapat mempersingkat durasi persalinan. Bahkan ini terbukti mengurangi kemungkinan kelahiran caesar.

3. Bekerja dengan hormon alami. Hormon utama yang membuat persalinan terjadi adalah oksitosin. Oksitosin tidak akan bekerja dengan baik jika takut atau stres dengan apa yang terjadi. Saat kadar adrenalin meningkat, kadar oksitosin turun. Jadi, memahami apa yang terjadi dan mencoba untuk tetap sesantai mungkin akan membantu tubuh melepaskan hormon ini yang akan membantu kemajuan persalinan.

4. Latih teknik relaksasi dan pernapasan. Mempraktikkan teknik relaksasi seperti pernapasan dalam, pijatan, dan meditasi selama kehamilan akan membantu ibu mendapatkan lebih banyak manfaat dalam persalinan. Teknik relaksasi dan hipnosis yang mendalam dapat membantu mengatasi kecemasan sehingga merasa lebih positif tentang persalinan.

Itulah sekilas informasi mengenai persalinan caesar dan normal. Butuh informasi lebih lanjut mengenai kesehatan ibu dan anak, tanyakan langsung pada pakarnya melalui Halodoc. Mau buat janji untuk pemeriksaan kesehatan kehamilan, bisa juga dilakukan melalui Halodoc.

Referensi:
National Health Service. Diakses pada 2021. Caesarean section.
Live Science. Diakses pada 2021. Vaginal birth vs. C-Section: Pros & cons.
BMC Pregnancy and Childbirth. Diakses pada 2021. Is it the decision of women to choose a cesarean section as the mode of birth? A review of literature on the views of stakeholders.