• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kehilangan Memori Bisa Menjadi Gejala dari Gangguan Disosiatif
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kehilangan Memori Bisa Menjadi Gejala dari Gangguan Disosiatif

Kehilangan Memori Bisa Menjadi Gejala dari Gangguan Disosiatif

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani : 09 Agustus 2020
Kehilangan Memori Bisa Menjadi Gejala dari Gangguan Disosiatif

Halodoc, Jakarta – Gangguan disosiatif adalah gangguan mental yang melibatkan pengalaman terputus dan kurangnya kontinuitas antara pikiran, ingatan, lingkungan, tindakan, dan identitas. Orang dengan gangguan disosiatif melarikan diri dari kenyataan dengan cara yang tidak disengaja dan tidak sehat dan menyebabkan masalah fungsi dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini menyebabkan mereka yang mengidap gangguan disosiatif bisa mengalami kehilangan memori. Orang yang mengidap gangguan disosiatif tidak dapat mengingat informasi tentang dirinya, atau peristiwa yang terjadi, termasuk orang-orang dalam hidupnya, terutama dari pengalaman traumatis. Informasi selengkapnya mengenai gangguan disosiatif bisa dibaca di sini!

Kehilangan Memori Akibat Trauma

Kehilangan memori sebagai gejala dari gangguan disosiatif biasanya berkembang sebagai reaksi terhadap trauma. Kehilangan memori adalah upaya untuk menjauhkan ingatan yang sulit. Gejalanya mulai dari kehilangan memori sampai stres yang memperburuk gejala. 

Baca juga: Daya Ingat Menurun karena Kurang Tidur, Benarkah?

Untuk lebih jelasnya lagi mengenai gejala dari gangguan disosiatif, simak pembahasan berikut:

1. Kehilangan memori (amnesia) dari periode waktu tertentu, kejadian, orang dan informasi pribadi tertentu.

2. Perasaan terlepas dari diri sendiri dan emosi.

3. Persepsi kalau orang-orang di sekitar sebagai sesuatu yang tidak nyata.

4. Identitas yang mengabur.

5. Stres atau masalah yang signifikan dalam hubungan, pekerjaan, atau area penting lainnya dalam hidup.

6. Ketidakmampuan untuk mengatasi stres emosional atau profesional dengan baik.

7. Masalah kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, dan pikiran serta perilaku untuk bunuh diri.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, kehilangan memori sebagai gejala dari gangguan disosiatif ini kerap terpicu karena pengalaman traumatis. Gangguan ini paling sering terjadi pada anak-anak yang mengalami pelecehan fisik, seksual, atau emosional dalam jangka panjang atau di lingkungan rumah yang tidak sehat. Situasi perang atau bencana alam juga dapat menyebabkan gangguan disosiatif.

Seorang anak yang mengalami pengalaman traumatis mencoba untuk bertahan dengan menggunakan mekanisme koping ini sebagai respons terhadap tekanan yang dirasakannya. Informasi selengkapnya mengenai gangguan disosiatif bisa ditanyakan langsung di Halodoc.  

Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Risiko dan Penanganan Gangguan Disosiatif

Orang yang mengalami pelecehan fisik, seksual atau emosional jangka panjang selama masa kanak-kanak memiliki risiko terbesar untuk mengembangkan gangguan disosiatif. Anak-anak dan orang dewasa yang mengalami peristiwa traumatis lainnya, seperti perang, bencana alam, penculikan, penyiksaan, atau prosedur medis awal kehidupan yang panjang, traumatis, juga dapat mengembangkan kondisi ini.

Baca juga: Mitos atau Fakta, Stroke Bisa Sebabkan Gangguan Memori

Perlu diketahui kalau mereka yang mengalami gangguan disosiatif tidak hanya mengalami kehilangan memori tetapi juga komplikasi lainnya. Ini termasuk juga:

1. Melukai diri sendiri atau mutilasi.

2. Keinginan atau bahkan melakukan tindakan bunuh diri.

3. Disfungsi seksual.

4. Alkoholisme dan gangguan penggunaan narkoba.

5. Gangguan depresi dan kecemasan.

6. Gangguan stres pascatrauma.

7. Gangguan kepribadian.

8. Gangguan tidur, termasuk mimpi buruk, insomnia, dan berjalan dalam tidur.

9. Gangguan makan.

10. Gejala fisik seperti sakit kepala ringan atau kejang non-epilepsi.

11. Kesulitan interaksi dengan lingkungan.

Perawatan gangguan disosiatif dapat bervariasi berdasarkan jenis gangguan yang dimiliki, tetapi umumnya termasuk psikoterapi dan obat-obatan. Psikoterapi adalah pengobatan utama untuk gangguan disosiatif. 

Baca juga: Mulai Pikun, Adakah Cara Agar Tidak Mudah Lupa?

Bentuk terapi ini, juga dikenal sebagai terapi wicara, konseling, atau terapi psikososial yang melibatkan pembicaraan tentang gangguan disosiatif dengan ahli kesehatan mental. 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Dissociative disorders
WebMD. Diakses pada 2020. Mental Health and Dissociative Amnesia