Kelahiran Prematur Tingkatkan Risiko Retensi Plasenta

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Kelahiran Prematur Tingkatkan Risiko Retensi Plasenta

Halodoc, Jakarta – Tahap akhir persalinan seorang wanita hamil terjadi ketika plasenta dikeluarkan dari rahimnya. Bagi banyak wanita, proses ini terjadi dengan sendirinya setelah bayi melalui jalan lahir, tapi bagi sebagian orang, proses ini tidak terjadi secara otomatis, sehingga menghasilkan fenomena yang disebut retensi plasenta.

Plasenta yang tertahan terjadi ketika plasenta tetap berada di dalam rahim dan tidak diberikan dengan sendirinya secara alami. Ketika ini terjadi, prosesnya harus dimanipulasi, sehingga plasenta dapat dikeluarkan dari rahim wanita.

Jika plasenta tetap berada di dalam rahim wanita, maka efek setelahnya dapat mengancam jiwa, mengakibatkan infeksi dan bahkan kematian. Jika wanita itu tidak mengeluarkan plasenta setelah 30 menit melahirkan, ini dianggap sebagai plasenta yang tertahan karena tubuh wanita menyimpan plasenta alih-alih mengeluarkannya.

Jika plasenta yang tertahan tidak dirawat, ibu rentan terhadap infeksi dan kehilangan darah yang ekstrem, yang bisa mengancam jiwa. Jika kehamilan telah melalui tahap persalinan dan kelahiran secara normal, kamu dapat memilih cara menangani tahap akhir persalinan. Proses ini biasanya menjadi bagian dari diskusi rencana kelahiran wanita.

Baca juga: 5 Penyebab Bayi Lahir Prematur

Biasanya ada dua pendekatan yang digunakan ketika berhadapan dengan plasenta, apakah pendekatan alami atau pendekatan terkelola. Pendekatan alami memungkinkan tubuh wanita secara alami mengeluarkan plasenta sendiri.

Tenaga medis membantu pendekatan yang terkelola dan biasanya, terjadi ketika suntikan diberikan ke paha saat bayi dilahirkan untuk menyebabkan wanita mengeluarkan plasenta. syntometrine, ergometrin, dan oksitosin adalah obat yang digunakan untuk menyebabkan tubuh wanita berkontraksi dan mendorong keluar plasenta. Jika seorang wanita memiliki komplikasi, seperti tekanan darah tinggi atau preeklamsia selama kehamilannya, syntocinon diberikan.

Ketika plasenta gagal dikeluarkan sepenuhnya dari rahim satu jam setelah kelahiran bayi, ini adalah tanda yang paling jelas dari plasenta yang tertahan. Berikut ini gejala-gejalanya:

  1. Demam

  2. Keluarnya cairan berbau busuk dari area Miss V

  3. Potongan-potongan besar jaringan yang berasal dari plasenta

  4. Pendarahan berat

  5. Rasa sakit yang tidak berhenti

Baca juga: Inilah 8 Tips Mengejan Saat Persalinan

Prematur jadi Risiko Retensi Plasenta

Dalam kasus kelahiran prematur, risiko retensi plasenta meningkat. Karena plasenta perlu bertahan selama sekitar 40 minggu di tempatnya, sehingga persalinan prematur dapat menyebabkan plasenta tertahan.

Selain itu, wanita hamil berusia di atas 30 tahun, memiliki persalinan tahap pertama atau kedua yang berkepanjangan dan memiliki bayi yang lahir mati adalah faktor-faktor yang meningkatkan terjadinya retensi plasenta

Baca juga: Cara Cepat dan Tepat untuk Pulih dari Operasi Caesar

Beberapa masalah yang mungkin dialami bayi prematur meliputi:

  1. Ketidakstabilan suhu, ketidakmampuan untuk tetap hangat karena lemak tubuh rendah

  2. Masalah pernapasan

  3. Penyakit membran hialin/sindrom gangguan pernapasan, yakni suatu kondisi di mana kantung udara tidak dapat tetap terbuka karena kurangnya surfaktan di paru-paru.

  4. Penyakit paru-paru kronis, masalah pernapasan jangka panjang yang disebabkan oleh cedera pada jaringan paru-paru.

  5. Udara bocor dari ruang paru-paru normal ke jaringan lain

  6. Perkembangan paru tidak lengkap

  7. Apnea atau berhenti bernapas

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai pencegahan retensi plasenta pada ibu hamil, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Talk to A Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.