• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kelola Stres dengan Baik Bisa Mencegah Distimia

Kelola Stres dengan Baik Bisa Mencegah Distimia

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Persistent Depressive Disorder (PDD) atau gangguan depresi persisten atau distimia merupakan diagnosis baru yang ditandai dengan depresi kronis. Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) edisi terbaru, dituliskan bahwa distimia dan gangguan depresi, termasuk dalam gangguan depresi persisten yang mencakup depresi kronis dari gejala ringan hingga akut.

Ketika mengidap distimia, kamu mungkin menjadi tidak tertarik dengan aktivitas sehari-hari, merasa sangat putus asa, kurang semangat, tidak produktif, tidak percaya diri, dan memiliki harga diri yang rendah. Perasaan ini bisa berlangsung hingga bertahun-tahun, dan sudah pasti mengganggu pekerjaan, sekolah, bahkan hubungan dengan pasangan. 

Stres dan Distimia

Sama seperti gangguan mental lainnya, apa yang menyebabkan seseorang mengalami distimia pun belum diketahui dengan pasti. Namun, diyakini ada peranan stres berlebihan yang memicu terjadinya masalah ini. Perasaan traumatik, seperti kehilangan orang yang disayangi, perundungan, hingga masalah keuangan bisa memicu stres yang berujung pada depresi dan distimia. 

Baca juga: Depresi Ternyata Bisa Sebabkan Gangguan Pencernaan

Selain itu, distimia disinyalir juga bisa terjadi karena beberapa penyebab, yaitu faktor genetik atau keturunan, adanya perbedaan biologis, dan perubahan dalam fungsi dan efek neurotransmitter pada otak. Orang-orang dengan keluarga yang pernah mengidap distimia, pernah mengalami stres dan depresi berat, pesimis, rendah diri, hingga memiliki riwayat gangguan mental lain, seperti gangguan kepribadian memilki risiko tinggi mengidap distimia.

Sayangnya, belum ada cara untuk mencegah seseorang mengalami distimia, tetapi kamu bisa mencoba beberapa cara untuk mengurangi gejalanya. Salah satunya adalah mengelola stres dengan baik. Lakukan olahraga ringan, meditasi, yoga, dengarkan musik, baca buku, atau melakukan hal yang kamu sukai bisa membantu mengurangi stres berlebihan.

Baca juga: Inilah Dampak Buruk Distimia bagi Pengidapnya

Berbagilah dengan sahabat, keluarga, atau pasangan. Ceritakan kondisi yang kamu alami, sehingga mereka bisa membantumu melalui masa-masa sulit. Jika memang dibutuhkan, kamu bisa minta bantuan pada psikolog melalui aplikasi Halodoc. Kapan saja kamu ingin bercerita, memiliki keluhan kesehatan, dan ingin lebih mudah ketika berobat ke rumah sakit, pakai saja aplikasi Halodoc. 

Penanganan Distimia

Penanganan terbaik untuk mengatasi distimia adalah gabungan antara psikoterapi dan obat-obatan. Jenis psikoterapi yang paling membantu bergantung pada sifat pembawa stres, ketersediaan dan dukungan keluarga, juga riwayat medis pengidap. Terapi umumnya akan mencakup dukungan emosional tentang depresi. Jika memang dibutuhkan, dokter akan meresepkan obat antidepresan untuk mengurangi depresi berlebihan.

Perlu diketahui bahwa gangguan depresi persisten adalah kondisi yang tidak bisa disembuhkan dengan instan, sehingga kamu perlu tekun menjalani pengobatan. Selain mengelola stres dengan baik, kamu bisa menerapkan kebiasaan hidup sehat, seperti menjalani pola makan sehat, tidak merokok dan mengonsumsi alkohol, atau menulis jurnal tentang aktivitas sehari-hari atau kapanpun kamu merasakan adanya gejala.

Baca juga: Kejadian Traumatis Bisa Sebabkan Distimia

Dengan pengobatan dan dukungan orang-orang terdekat, gejala gangguan distimia dapat dikurangi. Bahkan, pada beberapa pengidap, gejala tidak lagi muncul. Namun, tanpa adanya pengobatan, pengidap akan cenderung memiliki peningkatan risiko terkena depresi berat, yang berujung pada kurangnya kualitas hidup, sulit membina hubungan, penurunan produktivitas, hingga keinginan untuk bunuh diri.

Referensi: 
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Persistent Depressive Disorder (Dysthymia).
Verywell Mind. Diakses pada 2020. An Overview of Persistent Depressive Disorder (Dysthymia).
Healthline. Diakses pada 2020. Persistent Depressive Disorder (Dysthymia).