26 July 2018

Kenalan dengan 3 Tipe Hemofilia dan Gejalanya

tipe hemofila, gejala hemofilia,hemofilia

Halodoc, Jakarta - Meskipun kasusnya jarang terjadi, tapi setidaknya menurut World Federation of Hemophilia (WFH) sekitar satu dari 10.000 orang terlahir sebagai pengidap Hemofilia. Penyakit hemofilia sendiri merupakan yang suatu penyakit yang menyebabkan gangguan perdarahan karena kekurangan faktor pembekuan darah. Alhasil, perdarahan bisa berlangsung lama saat tubuh mengalami luka.

Kata ahli, orang yang mengidap hemofilia memiliki kekurangan suatu protein dalam darahnya. Padahal, protein itulah yang membantu darah menggumpal dengan sempurna ketika terluka dan berdarah. Nah, karena darah enggak mampu menggumpal dengan sempurna, luka yang dialami pengidap hemofilia akan lebih sulit sembuh. Yang perlu diketahui, hemofilia sendiri terdiri dari beberapa macam.

Baca juga: Hematohidrosis Keluarnya Keringat darah Pada Tubuh

Hemogilia Dibagi Menjadi 3 Tipe

Penyakit yang satu ini merupakan penyakit bawaan yang umumnya dialami pria. Menurut penjelasan ahli, hemofilia diturunkan karena mutasi gen yang mengakibatkan perubahan dalam untaian DNA sehingga membuat proses dalam tubuh tak berjalan dengan normal. Nah, mutasi gen ini bisa berasal dari ayah, ibu, atau kedua orangtua.

Dalam literatur medis, setidaknya hemofilia dibagi menjadi tiga tipe. Berikut tipe hemofilia yang perlu diketahui:

1. Hemofilia A

Tipe hemofilia yang satu ini juga biasa disebut sebagai hemofilia klasik atau yang disebabkan bukan dari faktor genetik. Hemofilia tipe ini terjadi saat tubuh kekurangan faktor pembekuan darah VIII yang umumnya terkait dengan kehamilan, kanker, penggunaan obat-obatan tertentu, dan penyakit seperti lupus. Kata ahli, tipe hemofilia A termasuk langka dan berbahaya.

2. Hemofilia B

Lain tipe hemofilia A, lain pula hemofilia B. Hemofilia tipe ini disebabkan karena kekurangan faktor pembeku darah IX. Umumnya kondisi ini diturunkan oleh ibu, tapi juga bisa terjadi ketika gen berubah atau bermutasi sebelum bayi dilahirkan.

Menurut data, tipe hemofilia ini cenderung lebih banyak diidap oleh anak perempuan. Seperti dilansir Medical News Today, sekitar 1 dari 5.000 bayi laki-laki lahir mengidap hemofilia A. Sementara itu sekitar 1 dari 30.000 bayi laki-laki mengalami hemofilia B.

Baca juga: Sebelum Donor Darah Konsumsi 3 Makanan Ini Dulu

3. Hemofilia C

Tipe hemofilia C tergolong lebih jarang ditemukan dibandingkan dengan hemofilia A dan B. Hemofilia tipe C sendiri disebabkan oleh tubuh yang kekurangan faktor pembeku darah XI. Selain itu, hemofilia C juga sulit untuk diketahui diagnosis-nya. Pasalnya, meski perdarahannya berlangsung lama, tapi aliran darahnya sangat ringan sehingga lebih sulit diketahui.

Bagaimana dengan Gejalanya?

Pada dasarnya sih hemofilia A, B, dan C memiliki gejala yang berbeda. Namun, gejala yang ditimbulkan oleh ketiga hemofilia ini hampir serupa.  Gejala utama hemofilia sendiri adalah perdarahan yang sulit berhenti atau berlangsung lama. Selain itu gejala umum hemofilia meliputi mudah memar, mudah berdarah (sering muntah darah, mimisan, BAB berdarah, atau urin berdarah), mati rasa, nyeri sendi, dan kerusakan sendi.

Baca juga: Pertolongan Pertama Saat Tekanan Darah Melonjak

Yang mesti diketahui, tingkat keparahan perdarahannya tergantung dari jumlah faktor pembeku dalam darah. Untuk hemofilia ringan, jumlah faktor pembekuan berkisar antara 5-50 persen. Gejalanya perdarahan berkepanjangan baru muncul saat penderita mengalami luka atau setelah menjalani prosedur medis, seperti operasi.

Sedangkan hemofilia sedang, faktor pembekuannya berkisar antara 1-5 persen. Pengidap hemofilia sedang akan mengalami gejala seperti kulit mudah memar, perdarahan di sekitar area sendi, dan kesemutan serta nyeri ringan pada lutut, siku dan pergelangan kaki.

Bagaimana dengan hemofilia berat? Kata ahli, faktor pembekuannya kurang dari 1 persen. Alhasil, pengidapnya sering mengalami perdarahan secara spontan. Misalnya, seperti mimisan, gusi berdarah, atau perdarahan pada sendi dan otot tanpa sebab yang jelas.

Nah, bila kamu atau anggota keluarga mengalami beberapa gejala seperti di atas, segeralah berdiskusi dengan dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat. Kamu bisa bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!