• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kenalan dengan 3 Tipe Hemofilia dan Gejalanya

Kenalan dengan 3 Tipe Hemofilia dan Gejalanya

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta - Saat seseorang mengalami luka, tubuhnya kemungkinan besar akan mengeluarkan darah. Jika luka yang terjadi kecil, darah akan berhenti sendiri tanpa pengobatan. Lalu, jika luka yang terjadi terbilang parah, setelah dilakukan pengobatan, darah akan berhenti keluar.

Namun, bagaimana jika seseorang terus mengeluarkan darah meski luka yang didapatkan tidak parah sedikitpun? Kemungkinan besar orang tersebut mengidap gangguan yang disebut dengan hemofilia. Ternyata, gangguan tersebut terbagi menjadi beberapa tipe dan tingkat keparahannya dapat berbeda. Berikut bahasan lengkap tentang jenis hemofilia!

Baca juga: Pria Lebih Rentan Alami Hemofilia, Ini Alasannya

Beberapa Tipe Hemofilia yang Dapat Terjadi

Penyakit hemofilia adalah suatu penyakit yang dapat menyebabkan gangguan perdarahan karena kekurangan faktor pembekuan darah. Akhirnya, perdarahan bisa berlangsung lama saat tubuh mengalami luka. Selain itu, disebutkan bahwa sekitar 1 dari 10.000 bayi yang lahir akan mengidap hemofilia di seluruh dunia.

Seseorang yang mengidap hemofilia mengalami kekurangan suatu protein dalam darahnya. Padahal, protein tersebut yang membantu darah untuk menggumpal dengan sempurna ketika terluka dan berdarah. Hal tersebut menyebabkan luka yang terjadi menjadi sulit untuk sembuh. Walau begitu, hemofilia terbagi menjadi beberapa tipe. Berikut beberapa tipe yang wajib kamu ketahui tentang hemofilia:

1. Hemofilia A

Tipe hemofilia yang pertama adalah hemofilia tipe A. Jenis ini biasa disebut juga dengan hemofilia klasik atau yang disebabkan bukan dari faktor genetik. Gangguan tipe ini terjadi saat tubuh kekurangan faktor pembekuan darah VIII. Hal ini umumnya berhubungan dengan kehamilan, kanker, penggunaan obat-obatan tertentu, dan penyakit seperti lupus. Tipe hemofilia A ini termasuk langka dan berbahaya jika terjadi.

2. Hemofilia B

Berbeda dengan tipe A, hemofilia tipe B disebabkan karena tubuh kekurangan faktor pembeku darah IX. Umumnya, gangguan ini diturunkan oleh sang ibu, tetapi juga dapat terjadi disebabkan oleh perubahan atau mutasi pada gen sebelum bayi tersebut dilahirkan. Seorang bayi perempuan lebih berisiko mengalami hemofilia jenis ini dibandingkan dengan bayi laki-laki.

3. Hemofilia C

Tipe hemofilia yang paling terakhir adalah hemofilia tipe C. Gangguan jenis ini terbilang lebih jarang dibandingkan tipe-tipe sebelumnya. Kelainan ini disebabkan oleh tubuh yang kekurangan faktor pembeku darah XI. Selain itu, seseorang yang mengidap kelainan ini akan sulit didiagnosis. Hal tersebut karena aliran darah yang sangat ringan meski dapat berlangsung lama, sehingga sulit diketahui.

Lalu, jika kamu mempunyai pertanyaan terkait gangguan hemofilia, dokter dari Halodoc siap membantu. Caranya mudah, kamu cukup download aplikasi Halodoc di smartphone yang digunakan!

Baca juga: Kenali Lebih Dalam 3 Jenis Hemofilia

Gejala Hemofilia yang Dapat Timbul

Hemofilia yang menyerang ternyata memiliki gejala yang berbeda-beda, lho. Hemofilia jenis A, B, dan C menimbulkan gejala yang berbeda tetapi serupa. Gejala yang pasti terjadi adalah perdarahan yang sulit untuk berhenti atau berlangsung dengan lama. Selain itu, pengidapnya kerap mengalami gejala seperti mudah memar, mudah mengeluarkan darah, mati rasa, dan gangguan pada sendi.

Namun, hal yang harus diketahui pasti adalah tingkat keparahan dari perdarahan tergantung dari jumlah pembeku yang ada di dalam darah. Seseorang dikatakan mengalami hemofilia ringan jika jumlah faktor pembekuannya antara 5-50 persen. Perdarahan berkepanjangan baru terjadi ketika pengidapnya mengalami luka atau sehabis mengalami prosedur medis.

Lalu, seseorang dikatakan mengalami hemofilia sedang jika faktor pembekuannya di antara 1-5 persen. Seseorang yang mengidap gangguan ini akan mengalami gejala, seperti kulit yang mudah memar, perdarahan di sekitar sendi, kesemutan, serta nyeri pada lutut, siku, dan pergelangan kaki.

Terakhir adalah seseorang yang dapat dikatakan mengalami hemofilia berat adalah ketika faktor pembekuannya kurang dari 1 persen. Seseorang yang mengidap hal ini akan mengalami perdarahan secara spontan, seperti mimisan gusi berdarah, hingga perdarahan pada sendi dan otot tanpa sebab yang pasti.

Baca juga: Ibu Perlu Tahu Cara Pencegahan Pendarahan pada Hemofilia

Maka dari itu, jika kamu mengalami gejala-gejala yang menandakan hemofilia, segerakan untuk memeriksakan diri. Dengan pencegahan dini, bukan tidak mungkin gangguan yang timbul akan lebih mudah untuk diatasi dan kemungkinan untuk sembuh meningkat.

 

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2020. Hemophilia
IHTC. Diakses pada 2020. Types of Hemophilia