Kenali 3 Pengobatan untuk Atasi Sarkoma Kaposi

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Kenali 3 Pengobatan untuk Atasi Sarkoma Kaposi

Halodoc, Jakarta - Muncul akibat infeksi virus, sarkoma kaposi merupakan suatu jenis kanker yang menyebabkan pertumbuhan jaringan abnormal berupa bercak-bercak merah atau ungu, pada bagian bawah kulit, tepi mulut, hidung, kelenjar limfa, serta organ-organ tubuh lain. Bagaimana pengobatan untuk sarkoma kaposi?

Umumnya, sarkoma kaposi tidak bisa disembuhkan. Namun, perkembangan penyakit bisa diperlambat dengan penanganan yang tepat, seperti dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Sebab, sarkoma kaposi dapat meningkat risikonya pada orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah, seperti pengidap HIV, orang lanjut usia, atau pasien transplantasi ginjal. 

Baca juga: Waspada, Virus Herpes Mampu Sebabkan Sarkoma Kaposi

Pada pengidap HIV, pengobatan sarkoma kaposi dapat dilakukan dengan memberi obat untuk mencegah virus berlipat ganda, sekaligus memulihkan sistem kekebalan tubuh. Pulihnya sistem kekebalan tubuh dengan sendirinya akan mengurangi jumlah virus di dalam tubuh.

Namun, jika ukuran sarkoma masih kecil dan jumlahnya tidak banyak, dapat ditangani dengan beberapa prosedur berikut:

  • Radioterapi. Dilakukan dengan menggunakan sinar radiasi untuk menghancurkan sel kanker.

  • Kemoterapi. Menggunakan obat-obatan tertentu yang mampu menghentikan perkembangan sel kanker dan biasanya diberikan sebelum pasien melalui radioterapi.

  • Krioterapi. Terapi ini dilakukan dengan cara membekukan area tubuh atau jaringan yang berada di sekitar lokasi sel kanker.

Agar lebih jelas, jika kamu atau anggota keluarga mengidap sarkoma kaposi, sebaiknya temui dan diskusikan lebih lanjut tentang pilihan penanganan yang bisa dilakukan. Untuk melakukan pemeriksaan, kini kamu bisa langsung buat janji dengan dokter di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc, lho. Jadi, pastikan kamu sudah download aplikasinya di ponselmu, ya.

Selain pengobatan medis, ada juga beberapa perubahan gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat menunjang pengobatan sarkoma kaposi, yaitu:

  • Ingat, pengobatan sarkoma kaposi tergantung pada jenisnya. Jadi, selalu diskusikan ke dokter untuk pengobatan yang sesuai dengan kebutuhan. Sekarang, diskusi dengan dokter spesialis yang kamu inginkan juga bisa dilakukan di aplikasi Halodoc, lho. Dengan aplikasi ini, kamu bisa obrolkan langsung gejalamu melalui Chat atau Voice/Video Call.

  • Minum obat sesuai dengan arahan dokter.

  • Rutin cek kesehatan untuk memantau kondisi Anda.

  • Lakukan hubungan intim yang aman.

  • Hindari hubungan intim anal, karena sarkoma kaposi mungkin menyebar melalui seks inil.

  • Jangan gunakan obat‐obatan terlarang.

Baca juga: Kenali Gejala Awal Sarkoma Kaposi yang Harus Diwaspadai

Jenis-Jenis Sarkoma Kaposi

Berdasarkan populasi orang yang mengidapnya, sarkoma kaposi terbagi menjadi 4 jenis. Namun, perkembangan dan perubahan sel kankernya sangat mirip. Keempat jenis sarkoma kaposi yang dimaksud adalah:

1. Sarkoma Kaposi Epidemik (terkait AIDS)

Orang dengan HIV/AIDS memiliki risiko tinggi untuk terserang sarkoma kaposi. Hal ini lantaran ketidakmampuan sistem kekebalan tubuh untuk melindungi dari infeksi, sehingga memungkinkan virus herpes terkait sarkoma kaposi bereplikasi. 

2. Sarkoma Kaposi Klasik (Mediterranean)

Sarkoma kaposi tipe ini umumnya terjadi pada orang berusia lanjut dari keturunan Eropa Timur, Mediterania, dan Timur Tengah. Biasanya terdapat satu atau beberapa lesi sarkoma kaposi pada kaki, pergelangan tangan, atau telapak kaki. Pada sarkoma kaposi jenis ini, sel-sel kanker berkembang lambat, sekitar 10-15 tahun. 

3. Sarkoma Kaposi Endemik (Afrika)

Sarkoma kaposi endemik umum terjadi pada orang yang tinggal di Afrika. Itulah sebabnya jenis ini disebut Sarkoma Kaposi Afrika. Sarkoma kaposi terkait infeksi virus herpes umum ditemukan di Afrika dibandingkan bagian dunia lain, sehingga risiko sarkoma kaposi jauh lebih tinggi pada orang Afrika atau yang tinggal di Afrika.

Baca juga: Sarkoma Jaringan Lunak, Tumor Menyerang Jaringan Lunak

Alasan lain yang membuat orang Afrika lebih sering terkena sarkoma kaposi endemik adalah penyakit atau kondisi lain yang melemahkan sistem kekebalan tubuh, seperti malaria, infeksi kronis, dan kekurangan gizi. Sarkoma kaposi jenis ini biasanya berkembang pada kelenjar getah bening, secara cepat atau agresif. 

4. Sarkoma Kaposi Iatrogenik (Terkait Transplantasi)

Sarkoma kaposi jenis ini berkembang pada orang yang sistem kekebalannya ditekan setelah transplantasi organ. Hal ini karena sebagian besar pengidap transplantasi organ diberikan obat-obatan imunosupresan atau penekan imun agar sistem kekebalan tubuhnya tidak menolak atau menyerang organ baru yang ditransplantasikan. 

Nah, sistem kekebalan tubuh yang melemah ini dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terinfeksi virus herpes terkait sarkoma kaposi dan akan berkembang menjadi lesi kanker. Selain itu, penghentian konsumsi imunosupresan atau menurunkan dosisnya dapat membuat lesi sarkoma kaposi menghilang atau mengecil.

Referensi:

American Cancer Society. Diakses pada 2019. What is Kaposi Sarcoma?

Medical News Today. Diakses pada 2019. What is Kaposi Sarcoma?

Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Soft tissue sarcoma