• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kenali 7 Mitos Seputar Anak Step yang Perlu Diluruskan

Kenali 7 Mitos Seputar Anak Step yang Perlu Diluruskan

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Kenali 7 Mitos Seputar Anak Step yang Perlu Diluruskan

Halodoc, Jakarta – Step atau kejang pada anak terjadi ketika sistem saraf di dalam otak mengalami gangguan. Otak terdiri dari sel-sel saraf yang saling berkomunikasi melalui aktivitas listrik. Nah, step terjadi ketika satu atau lebih bagian otak mengalami ledakan sinyal listrik abnormal, sehingga mengganggu sinyal normal otak. 

Apa pun yang mengganggu koneksi normal antara sel saraf di otak dapat menyebabkan kejang. Ini termasuk demam tinggi, gula darah tinggi atau rendah, kecanduan alkohol atau obat, atau gegar otak. Selama ini masih banyak mitos seputar step yang beredar di masyarakat. Beberapa diantaranya bahkan berisiko membahayakan pengidap sehingga perlu diluruskan. 

Baca juga: Ini Penyebab dan Cara Atasi Kejang Demam pada Anak

Mitos Seputar Step yang Perlu Diluruskan

Ada banyak kesalahpahaman seputar kejang pada anak. Berikut beberapa mitos seputar step yang perlu diluruskan:

1. Ketika anak mengalami kejang, harus ada yang dimasukan ke dalam mulutnya untuk mencegahnya tersedak

Informasi ini tentu salah besar dan bisa membahayakan anak yang sedang step. Faktanya, jangan pernah memasukkan apa pun ke dalam mulut seseorang yang mengalami kejang. Hal ini bisa semakin menyakiti orang tersebut dan bahkan berisiko tersedak. Penanganan yang benar adalah gulingkan orang tersebut ke satu sisi dan letakkan sesuatu yang lembut di bawah kepalanya supaya tetap aman sampai pengidap sadar.

2. Anak yang sedang kejang harus ditahan badannya

Jangan pernah menahan seseorang saat kejang. Menahan seseorang dapat menyebabkan cedera tulang atau otot. Sebaliknya, pastikan area di sekitarnya bebas dari benda-benda membahayakan dan lindungi kepalanya dengan sesuatu yang lembut.

3. Anak kesakitan saat mengalami kejang

Selama kejang, anak tidak sadar dan tidak akan mengalami rasa sakit apa pun. Namun, beberapa orang mungkin mengalami nyeri otot dan bisa lelah setelah kejang yang berkepanjangan.

Baca juga: Penanganan Pertama Kejang Demam pada Anak

4. Anak yang mengalami kejang mengidap sakit jiwa atau cacat intelektual

Penyakit mental dan cacat intelektual adalah semua kondisi yang mempengaruhi otak. Namun, anak yang mengalami kejang atau mengidap epilepsi, bukan berarti ia memiliki disabilitas intelektual atau penyakit mental. Kemampuan seseorang untuk belajar dapat dipengaruhi oleh frekuensi dan kekuatan aktivitas kejang mereka. Faktanya, pengidap epilepsi cenderung memiliki tingkat kecerdasan yang sama dengan orang yang tidak mengidap epilepsi

5. Anak yang mengalami kejang pasti mengidap epilepsi

Gejala utama epilepsi adalah kejang terjadi berulang kali. Namun, kejang tidak selalu disebabkan oleh penyakit epilepsi. Kejang dapat terjadi sebagai akibat dari beberapa kondisi medis lain seperti gegar otak, demam tinggi, atau gula darah rendah. 

6. Video game atau lampu sorot akan memicu kejang

Melansir dari laman Valley Children’s Healthcare, hanya 3% pengidap epilepsi yang mengalami kejang akibat pemicu visual. Video game dengan lampu berkedip cepat atau pola warna bergantian terkadang dapat memicu kejang, tetapi ini sangat jarang terjadi.

7. Kejang lebih sering dialami anak-anak

Kejang atau epilepsi memang paling sering terjadi pada orang yang sangat muda dan orangtua. Namun, kondisi ini bisa berkembang pada usia berapa pun.

Baca juga: Kejang Demam pada Anak Bisa Sebabkan Kelumpuhan?

Itulah mitos-mitos seputar step atau kejang pada anak yang perlu diluruskan. Apabila ibu punya pertanyaan lain mengenai step pada anak, jangan ragu untuk hubungi dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat Halodoc, konsultasi dengan dokter lebih mudah dan praktis. 

Referensi:
John Hopkins Medicine. Diakses pada 2021. Seizures and Epilepsy in Children.
Valley Children’s Healthcare. Diakses pada 2021. Epilepsy: 13 Epilepsy Myths Busted.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2021. 13 Common Epilepsy Myths, Debunked.