• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kenali Bahaya Sindrom Antifosfolipid pada Bumil
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kenali Bahaya Sindrom Antifosfolipid pada Bumil

Kenali Bahaya Sindrom Antifosfolipid pada Bumil

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 07 Oktober 2020
Kenali Bahaya Sindrom Antifosfolipid pada Bumil

Halodoc, Jakarta - Masalah kehamilan sebenarnya bukan hanya bersinggungan dengan morning sickness, sakit punggung, kelelahan, kram, atau anemia saja. Apa bumil pernah mendengar sindrom antifosfolipid? Sindrom ini merupakan gangguan autoimun yang menyebabkan darah jadi mudah membeku dan menggumpal. Kondisi ini sering disebut dengan darah kental. 

Antibodi dalam kondisi tubuh yang normal berperan untuk melawan infeksi. Namun, pada tubuh pengidap sindrom antifosfolipid lain lagi ceritanya. Antibodi pengidapnya justru menyerang senyawa lemak yang disebut fosfolipid yang berperan dalam proses pembekuan darah. 

Hal yang perlu ditegaskan, menurut para ahli sindrom ini lebih umum menyerang wanita ketimbang pria. Namun, sindrom ini terjadi pada wanita yang tengah mengandung? Kira-kira apa bahaya bahaya sindrom antifosfolipid pada bumil? 

Baca juga: Sering Kelelahan, Waspada Gejala Sindrom Antifosfolipid

Keguguran sampai Eklamsia

Sindrom antifosfolipid bukanlah sebuah kondisi yang bisa dianggap enteng. Pasalnya, kondisi ini bisa memicu berbagai masalah serius pada bumil. Mau tahu apa saja bahaya sindrom antifosfolipid pada bumil?

Menurut jurnal di US National Library of Medicine National Institutes of Health, komplikasi sindrom antifosfolipid pada bumi dapat berupa:

  • Keguguran berulang;
  • Persalinan dini atau kelahiran prematur;
  • Gawat janin;
  • Oligohidramnion atau cairan ketuban sedikit;
  • Trombosis arteri atau vena;
  • Trombosis janin atau neonatal;
  • Sindrom HELLP;
  • Insufisiensi plasenta;
  • Preeklamsia atau eklamsia.

Tuh, tidak main-main bukan dampak sindrom antifosfolipid pada ibu hamil? Maka dari itu, ibu harus rutin cek kandungan ke dokter untuk memantau kondisi ibu dan janin.

Kini, pemeriksaan kesehatan ke rumah sakit bisa lebih mudah. Caranya, ibu bisa membuat janji dengan dokter melalui aplikasi Halodoc sehingga tidak perlu mengantre sesampainya ke rumah sakit.

Wanita Lebih Rentan, Apa Sebabnya? 

Hingga kini, penyebab sindrom antifosfolipid belum diketahui. Meski sindrom antifosfolipid bisa terjadi pada orang-orang dari segala usia, tapi umumnya lebih sering terjadi pada wanita dan orang-orang yang memiliki gangguan autoimun atau rematik lainnya, seperti lupus.

Hal yang bikin resah lagi, ternyata penyakit autoimun ini diketahui lebih sering menyerang wanita ketimbang pria. Sebagian besar kasusnya terjadi pada mereka di usia 20—40 tahun. 

Contoh penyakit autoimun yang lebih sering menyerang wanita seperti lupus, multiple sclerosis (MS), tiroiditis hashimoto, dan graves. Lalu, apa sih yang membuat penyakit autoimun lebih rentan dialami wanita?

Ternyata penyakit autoimun sering berhubungan dengan hormonal, khususnya hormon estrogen. Nah, beruntunglah kaum adam, sebab pada dasarnya perempuan memang lebih banyak memiliki hormon estrogen dalam tubuhnya. 

Baca juga: 6 Jenis Penyakit yang Sering Menyerang Wanita

Hormon estrogen berperan penting dalam perkembangan dan pertumbuhan karakteristik seksual wanita serta proses reproduksi. Selain itu, fungsinya mengatur fungsi organ dan sel hingga mengatur perkembangan dan metabolisme. 

Banyak penyakit autoimun yang cenderung membaik atau memburuk seiring dengan fluktuasi hormon wanita. Misalnya, ketika mereka hamil, menggunakan kontrasepsi oral, ataupun sejalan dengan siklus menstruasi. Nah, hal ini yang mengindikasikan kalau hormon seksual mungkin berperan dalam banyak penyakit autoimun. 

Awasi Faktor Risiko Sindrom Antifosfolipid

Selain hal-hal di atas, ada beberapa kondisi lainnya yang membuat seseorang lebih rentan mengidap sindrom antifosfolipid, yaitu:

  • Mengalami infeksi hepatitis C, HIV/AIDS, atau sifilis.
  • Memiliki riwayat penyakit autoimun, seperti lupus atau sindrom Sjogren.
  • Memiliki riwayat keluarga dengan riwayat sindrom antifosfolipid.
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti antibiotik amoksisilin.

Mau tahu lebih jauh mengenai sindrom antifosfolipid pada ibu hamil? Atau memiliki keluhan kehamilan lainnya? Ibu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Tidak perlu keluar rumah, ibu bisa menghubungi dokter ahli kapan saja dan di mana saja. Praktis, kan? 

Referensi:
US National Library of Medicine National Institutes of Health. Diakses pada 2020. Antiphospholipid Syndrome during pregnancy: the state of the art
National Health Service - UK. Diakses pada 2020. Antiphospholipid syndrome (APS)
Mayo Clinic. Diakses pada Oktober 2019. Diseases and Conditions. Antiphospholipid Syndrome.