Kenali Gejala Hematochezia pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
kenali-gejala-hematochezia-pada-anak-halodoc

Halodoc, Jakarta – Orangtua perlu waspada terhadap berbagai penyakit yang bisa menyerang anak. Salah satunya adalah hematochezia. Ini adalah penyakit yang ditandai dengan munculnya darah segar pada tinja. Selain dengan melihat tinja anak, ada beberapa gejala hematochezia lainnya pada anak yang penting untuk dicermati. Simak penjelasannya di sini.

Bila ibu menemukan darah segar saat menyeka area intim anak setelah ia buang air besar, sebaiknya hati-hati. Bisa jadi anak mengidap hematochezia. Darah yang terdapat pada tinja biasanya berasal dari saluran pencernaan bagian bawah, meskipun tidak menutup kemungkinan hematochezia juga bisa disebabkan oleh perdarahan saluran pencernaan bagian atas.

Hematochezia biasanya terjadi pada lansia, tetapi penyakit ini juga bisa dialami oleh siapa saja, termasuk anak-anak. Kondisi adanya darah dalam tinja perlu mendapatkan penanganan segera, karena bisa berakibat fatal.

Baca juga: BAB Berdarah Tiba-Tiba, Berbahayakah?

Gejala Hematochezia pada Anak yang Perlu Dicermati

Gejala utama hematochezia adalah darah berwarna merah cerah yang keluar bersama tinja. Selain mengeluarkan darah saat BAB, anak yang mengidap hematochezia juga bisa mengalami beberapa gejala lainnya, seperti:

  • Diare.

  • Perubahan kebiasaan buang air besar.

  • Sakit perut.

  • Demam.

  • Menurunnya berat badan.

Bila darah yang keluar cukup banyak, Si Kecil juga bisa mengalami gejala anemia, seperti lemas, detak jantung tidak beraturan, dan pingsan. Kondisi ini perlu diwaspadai, karena pengidapnya bisa mengalami syok hingga kematian.

Gejala syok yang perlu diwaspadai, antara lain:

  • Keringat dingin.

  • Jantung berdebar.

  • Berkurangnya frekuensi buang air kecil.

  • Kesadaran menurun.

Apa yang Menjadi Penyebab Hematochezia?

Hematochezia pada anak terjadi karena ada perdarahan di suatu tempat di saluran pencernaannya. Jumlah darahnya kadang-kadang hanya sedikit, sehingga hanya bisa dideteksi dengan tes okultisme tinja. Di sisi lain, darah yang keluar mungkin bisa ditemukan di tisu toilet atau di toilet setelah buang air besar. 

Baca juga: Inilah Kondisi Kesehatan yang Memerlukan Cek Feses

Perdarahan dalam tinja tidak selalu disebabkan oleh kondisi yang serius. Meski demikian, kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai karena bisa menjadi pertanda adanya penyakit yang serius. Berikut ini beberapa kemungkinan penyebab hematochezia:

  • Penyakit Divertikular

Divertikula adalah kantong kecil yang menonjol di dinding usus besar. Biasanya divertikula tidak menyebabkan masalah, tetapi kadang-kadang juga bisa berdarah atau terinfeksi.

  • Celah Anal

Celah anal adalah robekan kecil di jaringan yang melapisi anus, mirip seperti retakan yang terjadi ketika bibir pecah-pecah. Kondisi ini sering diakibatkan oleh buang air besar yang keras dan menyakitkan.

  • Radang Usus (Kolitis)

Ini adalah penyebab hematochezia yang paling umum.

  • Angiodysplasia

Suatu kondisi di mana pembuluh darah yang tidak normal dan rapuh menyebabkan perdarahan.

  • Tukak Lambung

Tukak lambung adalah luka terbuka di lapisan perut atau duodenum. Kebanyakan tukak lambung disebabkan oleh infeksi bakteri Helicobacter pylori (H.pylori). Penggunaan jangka panjang atau dosis tinggi obat-obatan antiinflamasi, seperti aspirin, ibuprofen, dan naproxen juga bisa menyebabkan tukak lambung.

  • Polip atau Kanker Usus Besar

Polip adalah pertumbuhan jinak yang bisa tumbuh, berdarah, dan menjadi kanker. Kanker usus besar adalah jenis kanker paling umum keempat di Amerika Serikat. Kanker ini sering menyebabkan perdarahan yang tidak terlihat oleh mata telanjang.

Baca juga: Ketahui 4 Cara untuk Cegah Kondisi Hematochezia

Bila anak mengalami gejala hematochezia seperti di atas, segera periksakan ia ke dokter. Untuk melakukan pemeriksaan kesehatan terkait kondisi yang dialami Si Kecil, ibu bisa buat janji dengan dokter di rumah sakit pilihan kamu lewat aplikasi Halodoc. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2019. Blood in Stool.