• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kenali Jenis Onset pada Alzheimer dan Dampak yang Ditimbulkan
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kenali Jenis Onset pada Alzheimer dan Dampak yang Ditimbulkan

Kenali Jenis Onset pada Alzheimer dan Dampak yang Ditimbulkan

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 12 Agustus 2022

“Alzheimer dibedakan menjadi dua jenis atas kemunculannya yaitu early onset dan late onset. Mengetahui gejalanya bisa meminimalisir dampak yang ditimbulkan kondisi ini.”

Kenali Jenis Onset pada Alzheimer dan Dampak yang DitimbulkanKenali Jenis Onset pada Alzheimer dan Dampak yang Ditimbulkan

Halodoc, Jakarta – Alzheimer merupakan sebuah penyakit progresif yang menyebabkan penyusutan otak (atrofi) dan kematian sel-sel otak. Kondisi ini sering menjadi penyebab utama demensia, yaitu serangkaian gejala penurunan memori.

Tanda-tanda awal penyakit ini adalah kesulitan mengingat peristiwa atau percakapan yang baru saja dilakukan. Seiring perkembangan penyakit, gangguan memori tersebut semakin memburuk hingga mengubah perilaku dan ketidakmampuan melakukan tugas sehari-hari.

Kenali Gejala Early Onset dan Late Onset Alzheimer

Berdasarkan kemunculannya, Azheimer dibedakan menjadi dua jenis, yaitu early onset dan late onset. Supaya kamu lebih waspada, ketahui gejala kedua jenis alzheimer tersebut.

1. Early onset

Penyakit Alzheimer umumnya menyerang para lansia di atas 65 tahun. Namun, penyakit ini nyatanya juga bisa berkembang lebih cepat (early) yaitu di usia 30 sampai 40-an. 

Gaya hidup tidak sehat ditengarai menjadi faktor pemicunya. Di luar faktor terkait gaya hidup tidak sehat di atas, ada faktor genetik, lingkungan, dan peradangan yang cenderung tidak dapat dikendalikan.

Melansir dari WebMD, pengidap sindrom Down lebih berisiko tinggi mengalami early onset Alzheimer. Peneliti juga mengungkap jika bentuk awal Alzheimer ini berkaitan dengan kecacatan DNA. 

Nah, gejala early onset Alzheimer yang perlu diwaspadai, yaitu:

  • Melupakan hal-hal penting, terutama informasi yang baru dipelajari atau tanggal-tanggal penting
  • Kesulitan mencerna informasi sederhana. 
  • Tersesat saat bepergian ke tempat yang biasa didatangi. 
  • Masalah penglihatan
  • Kesulitan untuk bergabung dengan sebuah percakapan karena pengidapnya tidak bisa memilih kata yang tepat untuk mendeskripsikan sesuatu. 
  • Perubahan suasana hati dan kepribadian

2. Late onset

Sebagian besar penyakit Alzheimer bersifat lambat atau late onset. Artinya, gejala muncul dengan jelas di usia 60-an. Jenis Alzheimer tidak disebabkan karena masalah genetik. Sejauh ini, para peneliti belum menemukan gen tertentu yang menyebabkannya. 

Gejala late onset Alzheimer kurang lebih sama dengan early onset, yaitu:

  • Kehilangan memori yang mengganggu kehidupan sehari-hari.
  • Sulit merencanakan atau memecahkan masalah.
  • Kesulitan menyelesaikan tugas-tugas di rumah maupun di tempat kerja
  • Kebingungan dalam waktu atau tempat.
  • Kesulitan memahami gambar visual dan hubungan spasial.
  • Masalah memilih kata-kata saat berbicara atau menulis.

Cara Mencegah Perkembangan Alzheimer

Kunci utama pencegahan Alzheimer adalah penerapan gaya hidup sehat, seperti olahraga, konsumsi makanan bergizi dan sering bersosialisasi. 

1. Olahraga

Latihan fisik secara rutin mampu mencegah perkembangan Alzheimer maupun memperlambat perkembangannya. Usahakan meluangkan waktu untuk berolahraga setidaknya 30 menit setiap harinya. 

2. Konsumsi makanan bergizi

Perbanyak konsumsi sayuran segar, buah-buahan, biji-bijian, kacang-kacangan, ikan, daging unggas, telur, dan susu. Batasi daging merah dan pilih jenis minyak yang lebih sehat, seperti minyak zaitun, minyak kelapa atau minyak kanola. 

3. Cukupi kebutuhan tidur

Melansir dari Harvard Health Publishing, studi membuktikan kalau tidur yang cukup mampu mencegah perkembangan Alzheimer. Setiap orang dewasa dianjurkan untuk tidur 7-8 jam setiap harinya. 

4. Pelajari hal-hal baru

Selain menerapkan gaya hidup sehat di atas, mempelajari hal-hal baru diklaim mampu mencegah perkembangan Alzheimer. Pasalnya, aktivitas ini mampu menstimulasi otak sehingga terbentuk sel-sel baru. 

5. Bersosialisasi

Melakukan kontak sosial juga dinilai mencegah Alzheimer lantaran menurunkan risiko penurunan kognitif dan Alzheimer. Para ahli meyakini jika stimulasi sosial ini mampu memperkuat hubungan antara sel-sel saraf di otak.

Selain kesehatan fisik, kesehatan mental juga tak kalah penting untuk diperhatikan. Bila kamu mengalami masalah yang berhubungan dengan mental, jangan ragu untuk menemui psikolog. Segera buat janji medis dengan psikolog di aplikasi Halodoc. Jangan tunda sebelum kondisinya semakin memburuk, download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
National Institute of Aging. Diakses pada 2022. What Are the Signs of Alzheimer’s Disease?
National Institute of Aging. Diakses pada 2022. What Causes Alzheimer’s Disease?
John Hopkins Medicine. Diakses pada 2022. Early-Onset Alzheimer’s Disease.
Harvard Health Publishing. Diakses pada 2022. What can you do to avoid Alzheimer’s disease?
Alzheimer’s Association. Diakses pada 2022. Can Alzheimer’s Disease Be Prevented?