• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kenali Risiko Penggunaan Zat Aditif pada Olahan Makanan
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kenali Risiko Penggunaan Zat Aditif pada Olahan Makanan

Kenali Risiko Penggunaan Zat Aditif pada Olahan Makanan

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 30 Agustus 2022

“Ada risiko efek samping terkait penggunaan zat aditif pada makanan. Termasuk gangguan pencernaan, dan reaksi hipersensitivitas.”

Kenali Risiko Penggunaan Zat Aditif pada Olahan MakananKenali Risiko Penggunaan Zat Aditif pada Olahan Makanan

Halodoc, Jakarta – Penggunaan zat aditif saat ini semakin marak. Biasanya, zat ini ditambahkan pada makanan olahan. Dengan tujuan yang berbeda-beda, tergantung jenis zat yang digunakan. Ada yang untuk meningkatkan rasa, menjaga makanan tetap awet, dan lain-lain. 

Sebagian besar zat aditif dalam makanan tercantum pada label produk, bersama dengan bahan lainnya. Terkadang, zat aditif dijabarkan secara lengkap, tapi ada pula yang menggunakan nomor kode. Misalnya, cochineal ditulis sebagai pewarna (120), atau natrium sulfit sebagai Pengawet (221).

Sebenarnya, adakah risiko dari penggunaan zat aditif untuk kesehatan? Yuk simak pembahasannya!

Risiko Penggunaan Zat Aditif pada Makanan

Beberapa orang sensitif terhadap zat aditif tertentu dan mungkin mengalami reaksi seperti gatal-gatal atau diare. Ini tidak berarti bahwa semua makanan yang mengandung zat aditif harus selalu dianggap berbahaya.

Banyak zat aditif yang digunakan oleh industri makanan juga terkandung secara alami dalam makanan yang mungkin kamu makan setiap hari. Misalnya, monosodium glutamat (MSG) ditemukan secara alami dalam keju parmesan, sarden, dan tomat. 

Orang dengan alergi makanan dan intoleransi juga sering sensitif terhadap penggunaan zat aditif yang ditemukan secara alami dalam makanan tertentu, seperti kacang-kacangan atau kerang.

Banyak orang melihat zat aditif sebagai ancaman. Namun, dalam hal risiko kesehatan, zat aditif akan masuk di akhir baris, setelah mikroorganisme yang terbawa makanan (seperti salmonella), kebersihan dan kebiasaan makan yang tidak tepat, kontaminan lingkungan dan racun yang terjadi secara alami.

Bagi kebanyakan orang, penggunaan zat aditif tidak menjadi masalah dalam jangka pendek. Beberapa zat aditif lebih mungkin menyebabkan reaksi pada orang yang sensitif daripada yang lain.

Sering kali zat aditif yang digunakan untuk meningkatkan kualitas atau penampilan makanan seperti zat pewarna, paling sering menyebabkan reaksi alergi. Beberapa reaksi hipersensitif yang dapat terjadi meliputi:

  • Gangguan pencernaan, seperti diare dan nyeri kolik.
  • Gangguan saraf, seperti hiperaktif, insomnia, dan lekas marah.
  • Masalah pernapasan, seperti asma, rinitis, dan sinusitis.
  • Masalah kulit, seperti gatal-gatal, gatal, ruam dan bengkak.

Makanan olahan sering diberi tambahan zat aditif. Misalnya untuk menambah warna, meningkatkan rasa atau meningkatkan umur simpan. Zat aditif sebenarnya tidak selalu buruk. Sebagian besar makanan membutuhkannya untuk mencegah pembusukan dan mempertahankan nilai gizinya.

Mengkonsumsi sejumlah kecil makanan dengan penggunaan zat aditif mungkin aman. Namun, risiko kesehatan bertambah jika kamu sangat bergantung pada makanan dengan zat aditif. Misalnya peningkatan risiko penyakit kronis seperti obesitas, tekanan darah tinggi, penyakit jantung dan kanker.

Tips Menghindari Zat Aditif pada Makanan

Meski penggunaan zat aditif dalam makanan tidak selalu buruk, ada baiknya untuk membatasi konsumsinya. Usahakan untuk memilih makanan yang memiliki rasa dan warna alami. 

Berikut ini beberapa tips menghindari asupan zat aditif berlebih:

  • Usahakan untuk memperbanyak konsumsi makanan segar dan kurangi makanan olahan. 
  • Jika  makanan segar  tidak tersedia atau sulit diakses di tempat tinggal kamu, pilihlah buah dan sayuran beku tanpa bahan tambahan apa pun.
  • Masaklah makanan sendiri sehingga kamu tahu apa yang kamu makan. Hindari makanan yang sudah dikemas sebelumnya.
  • Selalu periksa daftar bahan pada label kemasan makanan sebelum membelinya. Jangan membeli produk dengan zat aditif dan waspadalah terhadap bahan yang aneh, misalnya yang disebutkan dengan kode yang tidak kamu pahami.

Itulah pembahasan mengenai risiko penggunaan zat aditif pada makanan. Jika kamu memiliki masalah kesehatan terkait konsumsi makanan apa pun, segera download Halodoc untuk membuat janji rumah sakit dengan dokter, ya.

Referensi:
Better Health Channel. Diakses pada 2022. Food Additives.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. 5 Food Additives You Should Avoid.