• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kenali Super Immunity, Kekebalan Tubuh Akibat Infeksi dan Vaksin
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kenali Super Immunity, Kekebalan Tubuh Akibat Infeksi dan Vaksin

Kenali Super Immunity, Kekebalan Tubuh Akibat Infeksi dan Vaksin

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 12 Januari 2022

“Vaksinasi dan infeksi mampu membentuk sistem kekebalan tubuh terhadap virus corona. Kombinasi keduanya bisa menghasilkan respons imun yang super alias super immunity. Jenis kekebalan ini bisa terbentuk baik ketika infeksi terjadi sebelum vaksinasi maupun sebaliknya.”

Kenali Super Immunity, Kekebalan Tubuh Akibat Infeksi dan Vaksin

Halodoc, Jakarta – Vaksinasi merupakan cara yang efektif untuk melindungi tubuh dari dampak buruk virus corona dengan cara membentuk sistem kekebalan untuk melawan virus tersebut. Selain vaksinasi, sistem kekebalan terhadap virus corona juga akan terbentuk ketika seseorang terinfeksi oleh virus tersebut.

Lantas, apa yang akan terjadi ketika seseorang yang sudah pernah terinfeksi virus corona juga menerima vaksin COVID-19? Kombinasi infeksi alami dan vaksin dikatakan bisa membentuk sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat yang bisa memberi perlindungan yang lebih besar terhadap virus corona dan varian lainnya. Itulah mengapa orang yang sudah pernah terpapar virus corona dan mendapatkan vaksin COVID-19 dikatakan memiliki “super immunity”. Yuk, kenalan lebih jauh dengan super immunity di sini.

Jadi, Apa Itu Super Immunity?

Alih-alih menyebutnya “super immunity”, ahli imunologi Shane Crotty lebih memilih untuk menggunakan istilah “hybrid immunity”. Apapun sebutannya, jenis kekebalan yang terbentuk dari kombinasi infeksi alami dan vaksin menawarkan kabar baik yang sangat dibutuhkan dalam situasi pandemi COVID-19 saat ini.

Melansir dari NPR, selama beberapa bulan terakhir, serangkaian penelitian sudah menemukan bahwa beberapa orang meningkatkan respons kekebalan yang luar biasa kuat terhadap SARS-CoV-2, virus corona yang menyebabkan penyakit COVID-19. Bukan hanya menghasilkan tingkat antibodi yang sangat tinggi, tapi tubuh mereka juga membuat antibodi dengan fleksibilitas tinggi. Kekebalan ini diprediksi mampu melawan berbagai varian virus corona yang beredar di dunia, bahkan varian yang mungkin muncul di masa depan.

Menurut Paul Bieniasz, ahli virology di Rockefeller University, orang-orang yang memiliki kekebalan ini akan cukup terlindungi dari sebagian besar, bahkan mungkin semua varian SARS-CoV-2 yang akan muncul di masa mendatang.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan online bulan lalu, Bieniasz dan rekan-rekannya menemukan antibodi pada individu-individu ini yang bisa menetralisir enam varian yang diuji, termasuk Delta dan Beta, serta beberapa virus lain yang terkait dengan SARS-CoV-2.

Jadi, siapa orang-orang yang memiliki respons imun super tersebut? Mereka adalah orang-orang yang pernah terpapar virus secara “hibrida”. Lebih spesifiknya, mereka yang pernah terinfeksi virus corona sebelumnya dan kemudian diimunisasi dengan vaksin mRNA. Ahli virus Theodora Hatziioannou di Universitas Rockefeller, yang juga membantu memimpin beberapa penelitian, juga mengungkapkan bahwa orang-orang tersebut memiliki respons yang luar biasa terhadap vaksin. Antibodi yang mereka miliki bahkan bisa menetralkan SARS-CoV-1, virus corona pertama yang muncul 20 tahun lalu.

Studi lain yang dilakukan oleh tim dari Oregon Health and Science University juga menunjukkan bahwa orang yang sudah mendapatkan vaksinasi, tetapi kemudian terinfeksi COVID-19 juga memiliki super immunity.

Studi tersebut membandingkan darah dari 26 petugas kesehatan yang divaksinasi lengkap yang kemudian mengalami terobosan infeksi COVID-19 dengan darah dari kelompok kontrol yang terdiri dari 26 petugas kesehatan yang sudah divaksinasi lengkap, tetapi tidak mengalami terobosan infeksi. 

Hasilnya ditemukan bahwa mereka yang mengalami infeksi terobosan memiliki tingkat antibodi IgA dan IgG yang jauh lebih tinggi, terutama IgA, daripada peserta kelompok terkontrol. Selain itu, serum (sampel darah yang mengandung antibodi) dari kelompok terobosan juga menunjukkan kemampuan yang lebih tinggi untuk menetralkan berbagai varian virus corona, dibandingkan kelompok kontrol.

Meskipun penelitian sudah menemukan bahwa kombinasi infeksi dan vaksinasi COVID-19 bisa menghasilkan super immunity, tetapi hal itu bukan berarti terpapar virus corona baik karena bisa memperkuat kekebalan tubuh. Para peneliti yang mempelajari super immunity tetap menekankan bahwa risiko infeksi SARS-CoV-2 harus dihindari sebisa mungkin. Mereka juga tidak menganjurkan siapa pun untuk terinfeksi dahulu, baru kemudian divaksinasi agar mendapatkan respons imun yang baik. Hal itu karena beberapa orang mungkin tidak bisa bertahan dalam menghadapi virus corona.

Itulah penjelasan mengenai super immunity. Meskipun sudah divaksin, kamu dianjurkan untuk tetap menjaga daya tahan tubuh selama masa pandemi ini. Salah satu caranya adalah dengan mengonsumsi suplemen dan vitamin. Nah, kamu bisa cek kebutuhan vitamin kamu melalui aplikasi Halodoc. Tidak perlu keluar rumah juga, kamu tinggal order saja lewat aplikasi dan pesananmu akan diantar dalam waktu satu jam. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di Apps Store dan Google Play.

Referensi:
NPR. Diakses pada 2022. New Studies Find Evidence Of ‘Superhuman’ Immunity To COVID-19 In Some Individuals.
Forbes. Diakses pada 2022. ‘Super Immunity’ From Breakthrough Infection After Covid-19 Vaccination? Here’s What This Study Said