Kenapa Ibu Hamil Sering Buang Air Kecil?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Kenapa Ibu Hamil Sering Buang Air Kecil?

Halodoc, Jakarta - Ibu hamil sering buang air kecil merupakan hal yang wajar terjadi, karena perubahan hormonal dan fisik dalam tubuh. Sering buang air kecil juga bisa jadi pertanda seorang wanita tengah mengalami kehamilan. Ibu hamil sering buang air kecil terjadi karena meningkatnya jumlah dan kecepatan darah yang beredar dalam tubuh, serta membesarnya ukuran rahim. Berikut ulasan selengkapnya!

Baca juga: Wanita Sering Kencing, Ini 5 Penyebabnya

Apa Penyebab Ibu Hamil Sering Buang Air Kecil?

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, perubahan hormonal pada ibu hamil akan membuat aliran darah menuju ginjal menjadi lebih cepat. Akibatnya, kandung kemih menjadi sering penuh. Bukan hanya itu, hormon juga merangsang kinerja organ ginjal untuk menghasilkan urine lebih cepat, gunanya adalah untuk membantu tubuh membuang kelebihan limbah lebih cepat.

Saat hamil, sisa metabolisme dari janin dalam kandungan juga ikut dikeluarkan melalui urine ibu hamil, sehingga aliran darah dan produksi urine ibu hamil meningkat. Bukan hanya itu, volume darah pun ikut meningkat, sehingga banyak cairan yang harus diproses oleh organ ginjal dan berakhir di kandung kemih. 

Baca juga: 6 Gangguan Kehamilan yang Muncul di Trimester Kedua

Ukuran Rahim Membesar Jadi Alasan Ibu Hamil Sering Buang Air Kecil

Rahim yang membesar memberi tekanan pada kandung kemih. Saat janin dalam kandungan semakin membesar, ukuran badan Si Kecil dapat menekan kandung kemih ibu, sehingga ibu harus buang air kecil terus-menerus, terutama di trimester pertama dan trimester terakhir kehamilan. Berdasarkan usia kehamilan, berikut perubahan yang memengaruhi frekuensi buang air kecil ibu hamil:

  • Trimester Pertama

Pada trimester pertama kehamilan, sering buang air kecil merupakan salah satu pertanda ibu tengah hamil. Hal tersebut dikarenakan adanya perubahan hormonal yang meningkatkan produksi urine, serta pembesaran rahim yang menekan area kandung kemih.

  • Trimester Kedua

Trimester kedua ini, frekuensi buang air kecil cenderung menurun, karena pembesaran rahim cenderung menjauhi organ kandung kemih.

  • Trimester Ketiga

Di akhir trimester kehamilan, keinginan untuk buang air kecil akan muncul lagi, dan semakin bertambah parah. Hal tersebut terjadi karena posisi janin berada di bawah panggul, sehingga memberi tekanan pada kandung kemih.

Meski sering buang air kecil merupakan kondisi yang umum terjadi, tapi ibu hamil juga perlu waspada. Pasalnya, dalam beberapa kasus ibu hamil yang sering buang air kecil, kondisi tersebut dapat menjadi gejala dari infeksi saluran kemih atau diabetes. Jika sering buang air kecil ditandai dengan rasa nyeri atau anyang-anyangan, urine berbau, urine berwarna keruh, serta adanya kandungan darah pada urine, segera periksakan diri di rumah sakit terdekat, ya!

Baca juga: Wajib Tahu! Ini Cara Mengatasi Sering Buang Air Kecil Saat Hamil

Langkah Mengatasi Ibu Hamil Sering Buang Air Kecil

Keinginan untuk buang air kecil terus selama masa kehamilan biasanya akan hilang setelah melahirkan. Ibu hamil tidak perlu resah, berikut hal-hal yang dapat ibu lakukan:

  • Kurangi minum sebelum tidur guna mengurangi frekuensi buang air kecil saat malam hari. Ibu dapat mencukupi kebutuhan cairan di siang hari untuk mencegah dehidrasi.

  • Jangan konsumsi minuman berkafein, seperti teh, kopi, atau minuman bersoda. Pasalnya, jenis minuman tersebut dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil.

  • Saat buang air kecil, condongkan tubuh ke depan saat buang air kecil, agar kandung kemih ibu hamil benar-benar kosong.

Selain beberapa hal tersebut, ibu hamil dapat melakukan senam kegel guna melatih dan memperkuat otot panggul. Latihan ini dapat membantu ibu hamil mengontrol kandung kemih, sehingga frekuensi buang air kecil dapat berkurang.

Referensi:

Baby Centre. Diakses pada 2020. Frequent Urination in Pregnancy.

Verywell Family. Diakses pada 2020. Frequent Urination in Pregnancy.

What to Expect. Diakses pada 2020. Frequent Urination in Pregnancy.