Kenapa Makanan Laut Rentan Tercemar Merkuri?

Ditinjau oleh  dr. Verury Verona Handayani   16 Juni 2020
Kenapa Makanan Laut Rentan Tercemar Merkuri?Kenapa Makanan Laut Rentan Tercemar Merkuri?

Halodoc, Jakarta - Apakah kamu termasuk orang yang gemar mengonsumsi makanan laut? Jika iya, maka mulai sekarang kamu harus berhati-hati dengan kandungan bahan kimia dalam seafood yang kamu makan, salah satunya adalah merkuri. Merkuri pada seafood rentan ditemui karena hasil buangan dari berbagai macam aktivitas manusia, seperti pembakaran atau limbah-limbah pabrik.

Limbah-limbah tersebut biasanya dibuang ke sungai dan berakhir di laut. Saat mengendap di dalam air, merkuri akan berubah menjadi zat yang disebut dengan metil merkuri, yang berkaitan erat dengan protein yang ada pada otot ikan. Jika kamu tidak sengaja memakan merkuri pada seafood, merkuri tersebut akan tertelan dan menimbulkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan tubuh.

Jumlah metil merkuri yang terakumulasi dalam tubuh menjadi racun bagi sistem saraf, yang akan berujung pada gangguan kesehatan, bahkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin pada ibu hamil. Lantas, apa yang menyebabkan merkuri pada seafood?

Baca juga: Kolesterol Tinggi, Haruskah Berhenti Makan Seafood?

Rentan Ditemukan Kandungan Merkuri pada Seafood

Hampir semua hidangan laut telah terkontaminasi merkuri. Di balik itu semua, sebenarnya seafood merupakan sumber makanan yang baik dengan tinggi protein dan zat penting lain, seperti mineral, lemak tak jenuh, serta asam omega-3. Bagi orang yang memiliki kekebalan tubuh yang baik, terpapar merkuri pada seafood saat mengonsumsinya tidak akan menimbulkan masalah kesehatan, jika dikonsumsi secara wajar.

Namun, saat hidangan laut dikonsumsi secara berlebihan, gejala seperti mati rasa pada beberapa bagian tubuh, serta gangguan koordinasi gerak tubuh bisa saja terjadi. Batas aman konsumsi merkuri sendiri adalah sebanyak 60 mcg. Semakin banyak merkuri yang kamu konsumsi, maka akan semakin banyak pula jumlah merkuri yang terkumpul dalam darah.

Karena hal tersebut, beberapa orang perlu memperhatikan kesehatan serta faktor risiko sebelum mengonsumsi hidangan laut. Beberapa golongan yang perlu menghindarinya adalah ibu hamil dan anak kecil. Jika golongan tersebut mengonsumsinya, kesehatan janin dalam kandungan dan tumbuh kembang sistem saraf anak akan mengalami gangguan.

Baca juga: Ini 4 Ikan Laut untuk Otak Cerdas

Kadar Aman Mengonsumsi Hidangan Laut

Jika proses memasak dapat menghilangkan bakteri, kuman, serta virus pada makanan, berbeda dengan merkuri. Proses memasak hidangan laut tidak dapat menurunkan kadar merkuri yang ada dalam hidangan tersebut. Karena hal tersebut, kamu sebaiknya mengetahui dan memilih dengan baik jenis ikan apa yang saja yang memiliki kandungan merkuri rendah, serta tidak membahayakan tubuh. Berikut tips aman mengonsumsi hidangan laut:

  • Ikan dengan Kandungan Tinggi Merkuri

Sebelum mengonsumsi, sebaiknya kamu mengetahui dan memilih ikan apa saja yang memiliki kandungan merkuri tinggi. Beberapa di antaranya ikan hiu, ikan makarel raja, ikan tuna bigeye, ikan todak atau pedang, serta ikan tuna sirip kuning.

  • Konsumsi Maksimal 340 Gram

Maksimal konsumsi mingguan adalah sebanyak 340 gram, atau sekitar dua porsi per minggu. Beberapa ikan yang diperbolehkan, di antaranya ikan salmon, udang, ikan sarden, ikan tuna kaleng, ikan pollock, ikan anchovies, ikan trout, serta ikan herrin.

Jika kamu sudah mengonsumsi satu jenis hidangan laut satu kali dalam seminggu, disarankan untuk tidak mengonsumsi makanan yang sama dalam minggu yang sama. Mengonsumsi hidangan laut melebihi jumlah yang dianjurkan memang tidak langsung menambah kadar metil merkuri dalam tubuh, tapi jika dilakukan secara terus-menerus, hal tersebut akan terjadi seiring dengan berjalannya waktu.

Baca juga: Ini Batasan Makan Udang dan Kepiting yang Sehat

Saat kamu mengalami sejumlah masalah kesehatan setelah mengonsumsi hidangan laut, segera diskusikan dengan dokter di aplikasi Halodoc untuk menentukan langkah perawatan yang tepat, ya! Ingat, apapun yang berlebihan tidak akan baik bagi kesehatan. Lebih baik membatasinya daripada harus menanggung akibatnya.

Referensi:
Health Harvard. Diakses pada 2020. Make smart seafood choices to minimize mercury intake.
WebMD. Diakses pada 2020. What You Need to Know about Mercury in Fish and Shellfish.
Healthline. Diakses pada 2020. Should You Avoid Fish Because of Mercury?

Mulai Rp50 Ribu! Bisa Konsultasi dengan Ahli seputar Kesehatan