• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kepribadian Ganda Bisa Muncul pada Anak Korban KDRT?

Kepribadian Ganda Bisa Muncul pada Anak Korban KDRT?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Banyak orang yang beranggapan bahwa kepribadian ganda merupakan kelainan mental yang hanya bisa terjadi pada orang dewasa. Sayangnya, hal ini sepenuhnya keliru, karena ternyata masalah tersebut juga bisa terjadi pada anak-anak. Bahkan, terjadinya kepribadian ganda pada anak disinyalir berhubungan erat dengan masalah kekerasan dalam rumah tangga atau disebut dengan KDRT dengan anak sebagai korbannya. 

Setidaknya, 90 persen pengidap kepribadian ganda memiliki riwayat KDRT sebelumnya. Bahkan, beberapa dari mereka pun mengalami masalah kelainan mental yang lain. Sebenarnya, masalah ini bisa dihindari jika KDRT pada anak dapat dicegah. Pasalnya, bahaya KDRT pada anak ini memang terbilang serius, bahkan dampaknya bisa terbawa hingga ia beranjak dewasa nantinya. 

Hubungan antara KDRT dan Kepribadian Ganda

Ketika terjadi KDRT pada rumah tangga dan anak sebagai korbannya, bentuk kekerasan yang ia terima tidak hanya mengarah pada kekerasan fisik. Trauma yang ia dapatkan secara emosional, bahkan trauma seksual bisa menghadirkan dampak yang begitu signifikan ketika ia dewasa. Terlebih, ketika trauma yang ia alami tidak segera mendapatkan penanganan alias dibiarkan begitu saja. 

Baca juga: 4 Fakta yang Perlu Diketahui tentang Kepribadian Ganda

Pasalnya, anak belum memiliki kemampuan untuk merespon atau menghadapi tindak kekerasan yang ditujukan kepadanya. Alhasil, sebagai pelariannya, ia akan menciptakan dunianya sendiri, dunia yang ia impikan, dunia yang bebas dari segala masalah dan mampu ia kendalikan sesuka hati. Inilah yang bisa disebut sebagai perilaku disosiatif. Lambat laun, perilaku ini akan semakin berkembang, bahkan menjadi bagian dari kepribadian anak jika tidak segera dilakukan penanganan. Kondisi ini yang akhirnya dinamakan kepribadian ganda. 

Sayangnya, masih banyak pihak yang beranggapan bahwa KDRT tidak seharusnya melibatkan pihak lain atau orang ketiga, karena ini termasuk permasalahan internal di lingkungan keluarga. Bahkan, tidak sedikit pula yang melihat tindak kekerasan yang dilakukan pada orangtua terhadap anak ini sebagai tindak tegas atas perilaku anak yang kurang berkenan atau sesuai dengan anggapan orangtuanya. 

Baca juga: Jangan Salah, Ini Bedanya Bipolar dan Kepribadian Ganda

Seharusnya, perlakuan KDRT pada anak harus dicegah, sehingga jumlah anak yang menjadi korban KDRT pun bisa ditekan. Namun, pencegahannya juga tidak mudah. Dibutuhkan banyak pihak agar trauma anak bisa berangsur-angsur dikurangi. Dalam hal ini, tentu saja, ibu membutuhkan dokter ahli kejiwaan sebagai orang pertama yang menangani kepribadian ganda pada anak. Coba pakai aplikasi Halodoc, jadi ibu bisa buat janji dengan dokter kejiwaan di mana dan kapan saja. 

Anak Korban KDRT Butuh Pendampingan

Sebagai orangtua atau keluarga, jangan sampai berpaling dan menganggap remeh apabila anak bercerita tentang kasus kekerasan yang ia alami. Bercerita bisa membantu anak mengurangi stres yang ia rasakan, jadi cobalah menjadi pendengar yang baik untuk mereka. Jika memang memungkinkan, ajak anak untuk mendengarkan musik, membaca, atau melakukan proses meditasi untuk meredakan depresi yang ia alami. 

Baca juga: Berapa Banyak Identitas yang Muncul pada Kepribadian Ganda

Intinya, anak sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya untuk bisa bangkit dari depresi maupun trauma yang ia alami sebagai korban KDRT yang dilakukan orangtuanya. Untuk itulah, kenali dengan baik apa saja tanda yang mungkin terjadi jika anak mengalami kepribadian ganda sebagai dampak dari bahaya KDRT yang terjadi padanya. 



Referensi: 
Healthy Place. Diakses pada 2019. The Undeniable Connection between DID and Child Abuse.
McLean Harvard Medical School Affiliate. Diakses pada 2019. The Secret and Life-Changing Impact of Early Childhood Abuse: Dissociative Identity Disorder.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2019. Dissociative Identity Disorder (Multiple Personality Disorder).