• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Keputihan Bisa Menjadi Tanda Munculnya Kanker Serviks, Benarkah?

Keputihan Bisa Menjadi Tanda Munculnya Kanker Serviks, Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Pada tahap awal, kanker serviks biasanya tidak menimbulkan rasa sakit atau gejala lainnya. Itulah sebabnya sangat penting bagi wanita untuk mendapatkan pemeriksaan panggul dan pemeriksaan pap smear rutin untuk mendeteksi kanker. Dengan begitu, kanker serviks masih bisa ditanggulangi karena sudah terdeteksi di tahap awal.

Gejala kanker serviks pertama yang dapat diidentifikasi yaitu:

  • Pendarahan vagina yang tidak normal, seperti setelah hubungan seksual, antara periode menstruasi, atau setelah menopause. Hanya saja periode menstruasi mungkin lebih berat dan bertahan lebih lama dari biasanya.

  • Nyeri saat berhubungan intim.

  • Muncul keputihan yang baunya tidak sedap.

  • Nyeri panggul.

Tanda kanker serviks yang paling terlihat dan perlu diwaspadai sebagai gejala pertama adalah keputihan. Sebagian besar penyebab keputihan yang tidak normal (seperti infeksi ragi, vaginosis bakteri, atau gejala menopause) relatif berbahaya, tetapi bisa menjadi tidak nyaman. 

Baca juga: Ini Cara Deteksi Dini Kanker Serviks

Keputihan yang tidak normal juga dapat menjadi gejala infeksi menular seksual (IMS) tertentu. Karena ini dapat menyebar dan melibatkan rahim, indung telur, dan saluran tuba, dan dapat diteruskan atau ditularkan ke pasangan seksual. Oleh karena itu, deteksi dan pengobatan IMS perlu dilakukan. 

Biasanya jarang terjadi keputihan muncul berwarna kecokelatan atau bernoda darah. Jika ini terjadi, kemunculan kanker serviks perlu diwaspadai. Kemungkinan penyebab keputihan yang abnormal termasuk:

  • Vaginosis bakteri.

  • Chlamydia trachomatis.

  • Gonore.

  • Tampon yang lupa dilepas.

  • Penyakit radang panggul.

  • Trikomoniasis.

  • Vaginitis.

  • Infeksi ragi (vagina).

Pemeriksaan yang Perlu Dilakukan

Saat kanker serviks terdeteksi pada tahap paling awal, maka kanker serviks dianggap sebagai salah satu jenis kanker yang paling dapat diobati. Kematian akibat kanker serviks telah menurun secara signifikan dengan peningkatan skrining melalui pemeriksaan pap smear. 

Melakukan pemeriksaan pap smear secara teratur untuk memeriksa sel-sel pra-kanker dianggap sebagai salah satu cara pencegahan yang paling efektif. Dengan vaksinasi dan menjalani pemeriksaan pap smear rutin bisa menjadi langkah pencegahan efektif.

Baca juga: Penting untuk Wanita, Ini 4 Cara Mencegah Kanker Serviks

Kamu juga dapat mengurangi risiko kanker serviks dengan mengurangi kemungkinan terjadinya HPV. Jika kamu berusia antara 9 dan 45 tahun, kamu bisa mendapatkan vaksin HPV. Cara lain untuk mencegah kanker serviks yaitu sebagai berikut:

  • Lakukan pemeriksaan pap smear rutin. Bicaralah pada dokter melalui aplikasi Halodoc tentang frekuensi pap smear yang disarankan berdasarkan usia dan kondisi medis. 

  • Gunakan metode pengaman saat berhubungan intim, termasuk kondom. 

  • Jangan merokok. Wanita yang merokok memiliki risiko lebih besar untuk kanker serviks. 

Tahapan Kanker Serviks

Mengetahui tahapan kanker serviks perlu, karena akan membantu seseorang menentukan jenis perawatan yang paling efektif. Penahapan bertujuan untuk menilai seberapa jauh kanker telah menyebar dan apakah telah mencapai struktur terdekat atau organ yang lebih jauh.

  • Tahap 0: Sel-sel prakanker hadir.

  • Tahap 1: Sel-sel kanker telah tumbuh dari permukaan ke jaringan yang lebih dalam dari serviks dan mungkin ke dalam rahim dan ke kelenjar getah bening di dekatnya

  • Tahap 2: Kanker sekarang telah bergerak melampaui serviks dan uterus, tetapi tidak sejauh dinding panggul atau bagian bawah vagina. Ini mungkin memengaruhi kelenjar getah bening di dekatnya. 

  • Tahap 3: Kanker memengaruhi kandung kemih atau rektum dan tumbuh keluar dari panggul. Ini mungkin memengaruhi kelenjar getah bening.

  • Tahap 4: Kanker akan menyebar ke organ yang jauh, termasuk hati, tulang, paru-paru, dan kelenjar getah bening. 

Referensi:

Healthline. Diakses pada 2019. What Causes Cervical Cancer