• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Depresi

Depresi

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Depresi

Pengertian Depresi

Depresi merupakan gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan suasana hati yang terus-menerus merasa sedih dan tertekan serta kehilangan minat dalam beraktivitas, sehingga mengakibatkan penurunan kualitas hidup sehari-hari. Seseorang yang mengalami gangguan depresi mayor, kelainan ini dapat memengaruhi perasaan, pemikiran, hingga perilaku sehingga menimbulkan masalah emosional dan fisik.

Depresi yang terjadi juga dapat mengganggu saat istirahat dan nafsu makan, sehingga kerap merasa lelah dan sulit berkonsentrasi. Efek depresi dapat berlangsung lama atau bahkan berulang dan mampu memengaruhi kemampuan seseorang untuk berfungsi dan menjalani aktivitas harian.

Baca juga: Depresi pada Anak, Orangtua Harus Bagaimana?


Faktor Risiko Depresi

Depresi umumnya terjadi pada remaja di rentang usia 20–30an, meski semua rentang usia juga memiliki risiko tersendiri. Lebih banyak wanita dibandingkan pria yang didiagnosis mengidap gangguan mental ini, tetapi wanita lebih cenderung segera mencari pengobatan. Nah, beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya depresi, antara lain:

  • Memiliki riwayat gangguan kesehatan mental pada keluarga.
  • Menyalahgunakan alkohol atau obat terlarang.
  • Memiliki ciri kepribadian tertentu, seperti rendah diri, terlalu keras dalam menilai diri sendiri, pesimis, atau terlalu bergantung kepada orang lain.
  • Mengidap penyakit kronis atau serius, seperti gangguan hormon tiroid, cedera kepala, HIV/AIDS, diabetes, kanker, stroke, nyeri kronis, atau penyakit jantung.
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti beberapa obat tekanan darah tinggi atau obat tidur.
  • Mengalami kejadian traumatik, seperti kekerasan seksual, kematian, kehilangan orang yang dicintai, atau masalah keuangan.


Penyebab Depresi

Belum diketahui secara pasti sesuatu yang dapat menyebabkan depresi. Beberapa risiko yang dapat meningkatkan risiko dari gangguan ini adalah:

  • Masalah biologis: Seseorang yang mengidap depresi kemungkinan mengalami perubahan fisik di otak. Meski begitu, tingkat signifikan dari perubahan ini belum diketahui secara pasti, meski akhirnya dapat membantu untuk menentukan sesuatu yang menyebabkannya.
  • Gangguan kimia pada otak: Neurotransmitter adalah bahan kimia pada otak yang terbentuk secara alami dan disebut-sebut dapat berperan dalam depresi. Sebuah penelitian menyebut jika perubahan dalam fungsi dan efek neurotransmitter ini dapat memengaruhi stabilitas suasana hati sehingga memengaruhi tingkat depresi pada seseorang.
  • Gangguan hormon: Perubahan atau gangguan pada keseimbangan hormon dapat memicu terjadinya depresi. Hal ini kerap terjadi selama kehamilan dan beberapa minggu atau bulan setelahnya (pascapartum). Selain itu, seseorang yang mengalami masalah tiroid, menopause, serta beberapa kondisi lainnya juga memiliki risiko tinggi pada depresi.
  • Penyakit keturunan: Masalah depresi lebih berisiko terjadi pada seseorang dengan keluarga inti yang pernah mengidapnya. Disebutkan jika gen dapat memengaruhi risiko dari penyebab depresi.

Baca juga: Ini Alasan Gen Z Lebih Terbuka saat Mengalami Depresi


Gejala Depresi

Depresi bisa lebih dari sekedar keadaan sedih atau tertekan. Seseorang yang mengidap gangguan dalam tahap berat dapat menimbulkan berbagai gejala yang berbeda-beda. Beberapa gejala dapat memengaruhi suasana hati, tetapi juga dapat terjadi pada beberapa bagian tubuh. Gejalanya juga mungkin saja menjadi akut atau hilang dan tumbuh. Berikut ini beberapa gejala yang dapat timbul saat mengidap depresi:

  • Selalu merasa bersalah.
  • Merasa putus asa, rendah diri, dan tidak berharga.
  • Selalu merasa cemas dan khawatir yang berlebihan.
  • Suasana hati buruk atau sedih berkelanjutan.
  • Mudah marah atau sensitif.
  • Mudah menangis.
  • Sulit berkonsentrasi, berpikir, dan mengambil keputusan.
  • Tidak tertarik dan tidak memiliki motivasi terhadap segala hal.
  • Timbul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.
  • Selalu merasa kelelahan dan hilang tenaga.
  • Perubahan siklus menstruasi pada wanita.
  • Konstipasi.
  • Gerakan tubuh dan bicara yang lebih lambat dari biasanya.
  • Hilang gairah seksual.
  • Gangguan tidur.
  • Perubahan berat badan dan selera makan.


Diagnosis Depresi

Dokter akan mendiagnosis depresi dengan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan psikologis, serta pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah jika diperlukan. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui penyebab depresi. Berikut penjelasan lebih lengkapnya:

  • Pemeriksaan fisik: Dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan fisik dan mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan kesehatan. Dalam beberapa kasus, depresi yang terjadi dihubungkan dengan masalah kesehatan fisik yang menjadi penyebabnya.
  • Tes laboratorium: Salah satu pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk memastikan gangguan kelenjar tiroid yang merupakan penyebab depresi adalah dengan hitung darah lengkap. Ahli medis dapat menilai jika terdapat gangguan pada organ tersebut sehingga langsung melakukan penanganan.
  • Pemeriksaan mental: Ahli kesehatan mental akan bertanya tentang gejala yang dirasakan, pikiran, perasaan, serta pola perilaku yang dirasakan. Selain itu, kamu mungkin diminta untuk mengisi kuisioner untuk menjawab beberapa pertanyaan untuk menilai kesehatan mental.


Komplikasi Depresi

Depresi adalah gangguan serius yang bisa berakibat fatal bagi pengidap dan keluarga. Depresi sering kali menjadi lebih buruk bila tidak diobati, serta mengakibatkan masalah emosional, perilaku dan kesehatan yang memengaruhi setiap area kehidupan pengidap. Beberapa komplikasi yang bisa terjadi akibat depresi, antara lain:

  • Kelebihan berat badan atau obesitas, yang bisa menyebabkan penyakit jantung dan diabetes.
  • Penyakit fisik.
  • Pelarian berupa alkohol atau penyalahgunaan narkoba.
  • Kecemasan, gangguan panik atau fobia sosial.
  • Menimbulkan konflik keluarga, kesulitan hubungan, dan masalah pekerjaan atau sekolah.
  • Isolasi sosial.
  • Muncul perasaan ingin bunuh diri, percobaan bunuh diri, atau bunuh diri.
  • Keinginan untuk mutilasi diri.
  • Kematian dini akibat kondisi medis.


Pengobatan Depresi

Hidup dengan depresi memang sulit untuk dilakukan, tetapi pengobatan dapat membantu untuk meningkatkan kualitas hidup pengidapnya. Cobalah untuk menemui ahli medis untuk meminta beberapa metode pengobatan agar menjadi lebih baik. Beberapa cara yang bisa dilakukan dokter untuk membantu pengidap mengatasi depresi yang dialaminya, antara lain:

  • Psikoterapi.
  • Cognitive behavior therapy (CBT). Terapi ini bertujuan untuk membantu pengidap melepaskan pikiran dan perasaan negatif, serta menggantinya dengan respon positif.
  • Problem-solving therapy (PST), untuk meningkatkan kemampuan pengidap menghadapi pengalaman yang memicu rasa tertekan.
  • Interpersonal therapy (IPT) untuk membantu mengatasi masalah yang muncul saat berhubungan dengan orang lain.
  • Terapi psikodinamis untuk membantu pengidap memahami apa yang dirasakannya dan bagaimana merespon perasaan tersebut.
  • Obat antidepresan, seperti escitalopram, paroxetine, sertraline, fluoxetine, citalopram, venlafaxine, duloxetine, dan bupropion. Penggunaan obat-obatan ini harus selalu dalam pengawasan dokter karena efek samping yang cukup banyak.
  • Terapi kejut listrik atau electroconvulsive therapy (ECT) untuk pengidap depresi yang tidak membaik setelah diberi obat-obatan, mengalami gejala psikosis, serta pengidap yang mencoba bunuh diri.


Pencegahan Depresi

Depresi adalah suatu masalah yang tidak dianggap dapat dicegah. Sulit untuk mengenali segala hal yang menjadi penyebabnya, sehingga lebih sulit untuk melakukan pencegahan. Namun jika kamu mengidap episode depresi, akan lebih untuk mencegah kekambuhan dengan mempelajari beberapa cara yang ampuh, seperti perubahan gaya hidup dan pengobatan yang efektif. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah depresi, antara lain:

  • Hindari kebiasaan menyendiri dengan mencari komunitas yang baik.
  • Buat hidup lebih sederhana dengan membuat perencanaan jangka pendek dan panjang.
  • Berolahraga secara teratur, minimal 3–5 kali dalam seminggu dengan durasi sekitar 30 menit.
  • Konsumsi makanan dengan gizi seimbang dan pola makan yang teratur.
  • Buat hidup lebih santai dan hindari stres.
  • Hindari konsumsi minuman beralkohol serta obat-obatan terlarang.

Baca juga: Hati-Hati, Insomnia Dapat Disebabkan Gangguan Kesehatan Mental


Kapan Harus ke Dokter?

Jika sudah melakukan pencegahan, tetapi depresi menyerang dan mengganggu aktivitas sehari-hari, segera minta saran pada psikolog atau psikiater dari Halodoc untuk diagnosis dini. Penanganan yang dilakukan sedini mungkin bisa membantu mencegah kondisi bertambah semakin parah. Maka dari itu, download aplikasi Halodoc sekarang juga untuk mendapatkan kemudahan dalam akses kesehatan tersebut!

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Depression (major depressive disorder) - Symptoms and causes.
Medical News Today. Diakses pada 2021. Depression: Tests, symptoms, causes, and treatment.
Healthline. Diakses pada 2021. Everything You Want to Know About Depression.
American Psychiatric Association. Diakses pada 2021. What Is Depression?

Diperbarui pada 19 May 2021.