• Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Edema Paru
  • Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Edema Paru

Edema Paru

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
edema paru

Pengertian Edema Paru

Edema paru adalah kondisi medis serius yang terjadi ketika kelebihan atau penumpukkan cairan mulai mengisi kantong udara di paru-paru (alveolus). Ketika terisi dengan cairan, alveolus tidak dapat secara memadai menambah oksigen, atau mengeluarkan karbon dioksida dari darah. Itulah sebabnya edema paru dapat menyebabkan kesulitan bernapas yang signifikan, dan berpotensi menjadi masalah yang mengancam jiwa.

Penyebab Edema Paru

Penyebab edema paru tergantung pada jenisnya. Berdasarkan penyebabnya, kondisi ini bisa dibagi menjadi dua, yaitu edema paru kardiogenik dan edema paru non-kardiogenik. Berikut dijabarkan satu-persatu:

  1. Kardiogenik

Edema paru kardiogenik terjadi ketika masalah jantung yang mendasari menyebabkan tekanan di sisi kiri jantung menjadi tinggi. Tekanan tinggi ini diteruskan ke belakang, melalui vena pulmonalis, ke kapiler alveolus. Karena tekanan kapiler paru yang meningkat, cairan bocor keluar dari kapiler ke dalam ruang udara alveolus, dan terjadilah edema paru.

Hampir semua jenis penyakit jantung pada akhirnya dapat menyebabkan peningkatan tekanan jantung sisi kiri, dan memicu edema paru. Jenis penyakit jantung yang paling umum yang menyebabkan edema paru adalah:

  • Penyakit arteri koroner.
  • Gagal jantung.
  • Penyakit katup jantung, terutama stenosis mitral, regurgitasi mitral, stenosis aorta, atau regurgitasi aorta.
  • Hipertensi berat.

2. Non-Kardiogenik

Alveolus juga dapat terisi dengan cairan karena alasan yang tidak terkait dengan peningkatan tekanan jantung. Hal ini dapat terjadi ketika kapiler di paru-paru menjadi rusak dan “bocor”, sehingga memungkinkan cairan masuk ke alveolus.

Penyebab paling umum dari jenis edema paru non-kardiogenik adalah sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS), yang disebabkan oleh peradangan difus di dalam paru-paru. 

Peradangan merusak dinding alveolus dan memungkinkan akumulasi cairan. ARDS biasanya dialami oleh pasien yang sakit kritis dan dapat disebabkan oleh infeksi, syok, trauma, dan beberapa kondisi lainnya.

Selain ARDS, edema paru non-kardiogenik juga dapat disebabkan oleh:

  • Emboli paru.
  • Berada di ketinggian di atas 2.400 meter di atas permukaan laut.
  • Penggunaan narkoba (terutama heroin dan kokain).
  • Infeksi virus.
  • Racun (misalnya, menghirup klorin atau amonia).
  • Masalah neurologis (seperti trauma otak atau perdarahan subarachnoid).
  • Menghirup asap.
  • Hampir tenggelam.

Faktor Risiko Edema Paru

Ada banyak faktor yang bisa meningkatkan risiko edema paru pada seseorang, yaitu:

  • Infeksi virus.
  • Acute respiratory distress syndrome.
  • Emboli paru.
  • Cedera pada paru-paru.
  • Mengalami kecelakaan seperti tenggelam.
  • Tengah berada di ketinggian (hingga lebih dari 2.400 meter di atas permukaan laut).
  • Mengalami cedera kepala, kejang, atau setelah operasi otak.
  • Menghirup asap saat terjadi kebakaran.Terpapar racun amonia dan klorin, yang mungkin terjadi saat kecelakaan kereta.
  • Kecanduan obat-obatan terlarang golongan stimulan.

Gejala Edema Paru

Edema paru akut dapat menyebabkan kesulitan bernapas yang signifikan dan dapat muncul tanpa peringatan. Ini adalah keadaan darurat dan membutuhkan perhatian medis segera. Kondisi ini bisa berakibat fatal  tanpa perawatan dan dukungan yang tepat. 

Seiring dengan kesulitan bernapas, tanda dan gejala lain dari edema paru akut dapat meliputi:

  • Batuk, sering disertai dengan keluarnya dahak berdarah.
  • Keringat berlebih.
  • Kecemasan dan kegelisahan.
  • Perasaan tercekik.
  • Kulit pucat.
  • Mengi.
  • Irama jantung yang cepat atau tidak teratur (palpitasi).
  • Sakit dada.

Jika edema paru bersifat kronis, gejalanya biasanya tidak terlalu parah hingga sistem tubuh tidak dapat lagi mengompensasinya. Gejala khasnya meliputi:

  • Kesulitan bernapas saat berbaring datar (ortopnea).
  • Pembengkakan (edema) kaki atau tungkai.
  • Penambahan berat badan yang cepat karena akumulasi kelebihan cairan.
  • Dispnea nokturnal paroksismal (episode sesak napas mendadak yang parah di malam hari).
  • Kelelahan.
  • Peningkatan sesak napas saat melakukan aktivitas fisik.

Komplikasi 

Edema paru yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan komplikasi berupa peningkatan tekanan di ruang jantung sebelah kanan yang menerima darah dari seluruh tubuh. 

Hal ini dapat mengakibatkan ruang jantung kanan gagal berfungsi dan terjadi penumpukan cairan di rongga perut (asites), bengkak pada tungkai, dan pembengkakan organ hati.

Diagnosis 

Diagnosis edema paru dapat dilakukan dengan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang. Pemasangan pulse oximetry harus segera dilakukan untuk mengukur kadar oksigen di dalam darah pengidap secara cepat. 

Sementara itu, pemeriksaan penunjang yang juga diperlukan untuk menegakkan diagnosis adalah:

  • Elektrokardiografi (EKG), untuk mengetahui tanda-tanda serangan jantung dan masalah pada irama jantung.
  • Foto Rontgen dada, untuk memastikan pengidap benar-benar mengalami edema paru, serta melihat kemungkinan lain penyebab sesak napas.
  • Pemeriksaan darah, untuk mengukur kadar oksigen dan karbon dioksida di dalam darah, mengukur kadar hormon B-type natriuretic peptide (BNP) yang meningkat pada gagal jantung, serta melihat fungsi tiroid dan ginjal.
  • Ekokardiografi, untuk mengetahui adanya masalah pada otot jantung.
  • Kateterisasi jantung, yang dilakukan jika edema paru disertai nyeri dada, tetapi tidak ditemukan kelainan pada EKG maupun ekokardiografi.
  • Kateterisasi arteri paru, untuk mengukur tekanan di dalam pembuluh darah paru-paru.

Pengobatan 

Untuk mengatasi edema paru, beberapa langkah yang biasanya akan dilakukan oleh dokter adalah:

  • Pemberian oksigen untuk mengatasi sesak napas dan harus dilakukan sesegera mungkin.
  • Pemberian obat untuk memperkuat jantung jika edema paru disebabkan oleh kegagalan jantung memompa darah.
  • Pemberian obat vasodilator, yang berguna untuk mengurangi cairan yang menumpuk pada paru-paru.
  • Pemasangan alat bantu napas yang didukung oleh mesin ventilator untuk pengidap dengan gagal napas.

Pencegahan 

Jika kamu memiliki risiko tinggi mengalami edema paru, penting untuk mengikuti saran dokter, guna menjaga kondisi tetap terkendali. Jika gagal jantung kongestif adalah masalahnya, perubahan gaya hidup sehat dan menjaga berat badan ideal dapat membantu mengurangi risiko.

Secara umum, beberapa tips pencegahan edema paru yang bisa dilakukan adalah:

  • Olahraga teratur.
  • Mengurangi asupan garam.
  • Menurunkan kadar kolesterol.
  • Berhenti merokok.

Edema paru akibat ketinggian dapat diminimalkan dengan melakukan pendakian bertahap, minum obat sebelum bepergian, dan menghindari aktivitas berlebihan saat naik ke ketinggian yang lebih tinggi.

Kapan Harus ke Dokter?

Jangan abaikan jika kamu mengalami:

  • Sesak napas, terutama jika terjadi tiba-tiba.
  • Kesulitan bernapas atau merasa tercekik (dispnea).
  • Suara tersengal-sengal saat bernapas.
  • Dahak berwarna merah muda dan berbusa saat batuk.
  • Kesulitan bernapas disertai dengan keringat berlebih.
  • Warna kebiruan atau keabuan pada kulit.
  • Penurunan tekanan darah yang signifikan dan menyebabkan pusing, kelemahan atau berkeringat.
  • Memburuknya gejala yang terkait dengan edema paru kronis atau ketinggian secara tiba-tiba.

Segera hubungi dokter apabila merasakan gejala-gejala tersebut. Penanganan yang cepat dan tepat dapat meminimalisir akibat, sehingga pengobatan bisa lebih cepat dilakukan. 

Nah, itulah pembahasan mengenai edema paru. Jika kamu memiliki riwayat penyakit jantung yang bisa meningkatkan risiko edema paru, pastikan untuk minum obat secara teratur dan rutin memeriksakan kondisi kesehatan.

Kamu juga bisa gunakan aplikasi Halodoc untuk cek kebutuhan medis kamu dengan mudah, tanpa perlu keluar rumah. Jangan lupa download Halodoc di ponselmu, ya!

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Pulmonary Edema.
Healthline. Diakses pada 2022. What Is Pulmonary Edema?
Web MD. Diakses pada 2022. Pulmonary Edema: Know the Signs and Get the Facts.
Medical News Today. Diakses pada 2022. What Is Pulmonary Edema?
Very Well Health. Diakses pada 2022. Why Pulmonary Edema Is a Problem.

Diperbarui pada 5 April 2022