Mitos dan Fakta Kesehatan

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Dalam hal-hal tertentu, masyarakat masih percaya akan mitos-mitos yang dibawa dari pendahulunya hingga saat ini. Tidak hanya seputar klenik, tapi juga kesehatan. Beragam opini tentang penyakit memang belum bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Akibatnya, terjadi simpang siur dalam memahami penyebab penyakit atau kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan.

Oleh karena itu, segala asumsi yang masih belum benar tersebut harus segera dibenarkan lewat fakta-fakta seputar penyakit atau kebiasaan yang sering didengar di sekitar agar tidak menjadi mitos saja.

Baca juga: Mitos dan Fakta tentang Kulit dan Jerawat

 

Kenapa Banyak Mitos Berkembang?

Tidak sedikit mitos-mitos yang telah beredar di kalangan masyarakat dan membuat orang mudah percaya karena minimnya pengetahuan akan kesehatan. Parahnya lagi, fakta tentang kesehatan malah jarang yang dipercaya oleh masyarakat. Supaya tidak salah kaprah dalam menjaga kesehatan, baca penjelasan berikut!

Setiap harinya, kamu bisa mendapatkan banyak sekali informasi yang berasal dari berbagai sumber, termasuk media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram, serta dari berbagai media cetak maupun media elektronik lainnya. Namun, informasi tersebut belum tentu benar, terlebih jika tidak didukung dengan data yang kuat. Inilah alasan sebuah informasi selalu terkandung mitos dan fakta.

Kemajuan teknologi dan informasi seharusnya mampu meningkatkan pengetahuan dan perilaku masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatannya. Namun, kemajuan informasi dan teknologi kesehatan itu ternyata belum mampu menghapuskan mitos kesehatan yang tidak benar yang saat ini masih diyakini masyarakat bahkan oleh sebagian dokter.

Baca juga: Lebih Lengkap tentang Mitos & Fakta Menstruasi

 

Cara Membedakan Mitos dan Fakta

Membedakan mitos dengan fakta adalah hal yang krusial, terutama untuk membuat pilihan yang sehat. Orang Indonesia terbiasa dengan istilah penyakit panas dalam atau masuk angin. Faktanya, kedua jenis penyakit tersebut tidak ada dalam dunia medis. 

Berikut adalah mitos dan fakta tentang penyakit yang sering dialami oleh masyarakat umum:

  • Panas Dalam

Mitos: Panas dalam  adalah gangguan tubuh yang terjadi akibat makan gorengan, kepanasan, atau minum es.

Fakta: Dalam istilah Kedokteran, istilah penyakit panas dalam tidak pernah ada. Kondisi ini dalam medis diartikan sebagai serangkaian gejala yang menyerang mulut, tenggorokan, dan sistem pencernaan. Selain itu, sebutan 'panas dalam' diduga muncul karena gejalanya yang sebabkan timbul rasa panas di dalam tubuh. 

  • Masuk Angin

Mitos: Masuk Angin.

Fakta: Masuk angin tidak ada dalam istilah kedokteran. Gangguan yang dimaksud dengan masuk angin itu adalah berbagai gangguan yang timbul dengan gejala sakit kepala, mual, muntah dan nyeri perut.

Bagi orang Indonesia, kerokan adalah terapi pengobatan alternatif untuk meringankan gejala masuk angin. Nyatanya, metode menggosok dan menekan bagian permukaan tubuh akan menyebabkan nyeri pada kulit. Warna pada kulit pun merupakan pertanda pembuluh darah halus (kapiler) di bawah permukaan kulit pecah. Inilah hal yang sebetulnya membahayakan, sebab saat pembuluh darah tersebut pecah, maka bisa menjadi sarang kuman dan menyebabkan infeksi lokal atau kondisi yang lebih berat karena terbawa aliran pembuluh darah ke seluruh tubuh.

Baca juga: Yang Terjadi saat Ibu Hamil Terlalu Percaya Mitos

  • Sariawan

Mitos: Sariawan karena kurang vitamin C.

Fakta: Sariawan dalam dunia medis lenih dikenal dengan sebutan aphthous stomatitis. Penyebab dari penyakit ini belum diketahui secara pasti, tetapi ada banyak faktor yang diyakini berkaitan dalam memicu terjadinya sariawan. Di antaranya adalah alergi makanan, menurunnya sistem imun (kekebalan tubuh), stres, trauma pada jaringan lunak dalam rongga mulut, kurang nutrisi, atau disebabkan karena obat-obatan tertentu. Apabila sariawan terjadi secara berulang, maka ini disebut recurrent aphthous stomatitis.

 

Referensi:
Medical News Today. Diakses pada 2019. How true are these health myths?

 

Pertanyaan Seputar Mitos dan Fakta Kesehatan

Emang bener tidur siang bisa membantu meninggikan badan dok?

Ditanyakan oleh: adammdanendra

Dijawab oleh: dr Rizal Fadli

Pertumbuhan tinggi badan ditentukan oleh beberapa faktor:

1. Genetik. Orangtua dengan tubuh tinggi akan cenderung memiliki anak yang tinggi juga.
2. Gizi saat anak-anak (masa tumbuh kembang optimal).
3. Pengaruh hormon pertumbuhan (growth hormon).

Growth hormon akan meningkat paling banyak saat seseorang tidur (bukan hanya tidur siang). Oleh karena itu, diharapkan kecukupan istirahat saat masa tumbuh kembang akan membantu tumbuh kembang optimal termasuk dalam hal penambahan tinggi badan tersebut.

Meski begitu, kondisi ini bukanlah satu-satunya. Diperlukan kecukupan gizi serta genetik yang berperan dalam menambah tinggi badan. Di samping itu, tinggi badan umumnya akan berhenti tumbuh di satu titik, yaitu saat lempeng epifise sudah berhenti tumbuh. Biasanya, kondisi tersebut terjadi saat usia remaja. Jadi, kecukupan istirahat saat tumbuh kembang dapat membantu menambah tinggi badan.

 

Lebih baik makan buah dulu baru makan atau sebaliknya ya?

Ditanyakan oleh: egidiaaptr

Dijawab oleh: dr Fadhli Rizal Makarim

Pendapat makan buah sebelum atau sesudah makan besar karena meningkatkan asupan nutrisi buah merupakan mitos belaka. Tidak ada waktu khusus untuk memakan buah, karena perut kita telah dirancang untuk dapat berbagai macam makanan sekaligus. Jika kamu memiliki riwayat gastritis atau nyeri perut bagian atas, makan buah sebelum makan akan menjadi pilihan yang bagus, karena dapat mengurangi tingkat keasaman buah dalam perut kita. Namun, untuk alasan penyerapan nutrisi dan vitamin dari buah, tidak ada perbedaan yang berarti dalam waktu makan buah.

 

Bener gak soda bisa menghilangkan nikotin?

Ditanyakan oleh: indramahmudas

Dijawab oleh: dr Fadhli Rizal Makarim

Secara umum tidak ada penelitian yang menunjukkan demikian. Nikotin yang dihirup melalui rokok atau rokok elektrik tidak dapat dihilangkan dengan minuman berkarbonasi (soda). Beberapa penelitian malah menunjukkan soda dapat menurunkan efektivitas terapi pengganti nikotin untuk beberapa orang yang sedang berusaha menghentikan ketergantungan terhadap rokok.