Narkolepsi

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Narkolepsi

Narkolepsi adalah gangguan tidur kronis yang ditandai dengan rasa kantuk di siang hari dan serangan tidur yang tiba-tiba. Orang dengan narkolepsi merasa sulit untuk tetap terjaga dalam jangka waktu yang lama, terlepas dari keadaannya. Narkolepsi dapat menyebabkan gangguan serius dalam menjalani rutinitas sehari-hari.

 

Faktor Risiko Narkolepsi

Beberapa karakteristik narkolepsi adalah kelumpuhan tidur, halusinasi, dan katapleksi (mirip dengan perubahan yang terjadi pada tidur REM, tetapi terjadi saat terjaga atau mengantuk). Beberapa faktor risiko yang diketahui untuk narkolepsi adalah usia antara 10 dan 30 tahun, dan adanya riwayat dalam keluarga sebelumnya.

 

Penyebab dan Faktor Risiko Narkolepsi

Penyebab pasti narkolepsi belum diketahui. Orang dengan tipe 1 narkolepsi memiliki tingkat rendah dari hypocretin, yaitu neurokimia di otak yang membantu mengatur bangun dan tidur REM. Tingkat hypocretin rendah pada mereka yang mengalami katapleksi.

Penyebab hilangnya sel-sel penghasil hypocretin di otak tidak diketahui, tetapi diduga hal ini disebabkan oleh reaksi autoimun. Genetik dapat berperan dalam perkembangan narkolepsi. Namun, risiko orangtua yang mewariskan gangguan ini pada seorang anak rendah, yaitu sekitar 1 persen. Di Eropa, penelitian menunjukkan adanya hubungan yang mungkin antara paparan virus flu babi (H1N1)  dengan bentuk tertentu dari vaksin H1N1 yang saat ini dikelola.

Proses normal tertidur dimulai dengan fase yang disebut tidur non-rapid eye movement (NREM). Selama fase ini, gelombang otak melambat, dan setelah satu jam tidur, aktivitas otak akan berubah, dan tidur REM dimulai. Kebanyakan mimpi terjadi saat tidur REM. Namun, pada narkolepsi, pengidap tiba-tiba masuk ke dalam tidur REM tanpa mengalami tidur NREM, baik pada malam hari atau siang hari.

 

Gejala Narkolepsi

Gejala narkolepsi dapat memburuk selama beberapa tahun pertama dan kemudian berlanjut seumur hidup. Hal ini termasuk rasa mengantuk di siang hari yang berlebihan. Pengidap narkolepsi dapat tertidur kapan dan di mana saja.

Pengidap dapat mengalami penurunan kewaspadaan dan fokus sepanjang hari. Rasa kantuk di siang hari yang berlebihan biasanya merupakan gejala pertama yang muncul dan sering kali merupakan hal yang paling menyulitkan, sehingga sulit untuk berkonsentrasi dan berfungsi penuh.

Gejala lainnya adalah tiba-tiba kehilangan tonus otot. Kondisi katapleksi dapat menyebabkan sejumlah perubahan fisik dari bicara yang tidak jelas hingga kelemahan lengkap sebagian besar otot yang dapat berlangsung hingga beberapa menit. Katapleksi tidak dapat dikendalikan dan dipicu oleh emosi yang kuat, biasanya yang positif seperti tawa atau kegembiraan, tetapi terkadang takut, terkejut, atau marah. Beberapa orang dengan narkolepsi hanya mengalami satu atau dua episode katapleksi setahun, sementara yang lain memiliki banyak episode setiap hari. Walau begitu, Tidak semua orang dengan narkolepsi mengalami katapleksi.

Kelumpuhan tidur, yaitu sering mengalami ketidakmampuan sementara untuk bergerak atau berbicara ketika tertidur atau saat bangun tidur. Episode ini biasanya singkat, berlangsung beberapa detik atau menit, tetapi bisa menjadi menakutkan. Kelumpuhan tidur ini meniru jenis kelumpuhan sementara yang biasanya terjadi selama periode tidur yang disebut rapid eye movement (REM) selama tidur. Ketidakmampuan sementara ini selama tidur REM dapat mencegah tubuh dari melakukan aktivitas mimpi. Namun, tidak semua orang dengan kelumpuhan tidur memiliki narkolepsi. Umumnya, pengidap narkolepsi mengalami beberapa episode kelumpuhan tidur.

Gejala lainnya yang cukup sering adalah perubahan dalam gerakan mata cepat (REM) tidur. Tidur REM biasanya ketika kebanyakan mimpi terjadi. Pada orang dengan narkolepsi tidur REM dapat terjadi kapan saja pada siang hari. Pengidap narkolepsi mebutuhkan hanya 15 menit untuk mengalami transisi cepat ke tidur REM. Selain itu, saat bangun tidur, pengidap juga dapat mengalami halusinasi hipnagogik.

Baca jugaWaspada Kelumpuhan Tidur yang Terjadi Akibat Narkolepsi

 

Diagnosis Narkolepsi

Diagnosis perlu digali dari anamnesis mengenai riwayat tidur yang terperinci. Bagian dari sejarah meliputi pengisian Skala Kantuk Epworth, yang menggunakan serangkaian pertanyaan singkat untuk mengukur tingkat kantuk. Misalnya, pengidap menunjukkan pada skala bernomor kemungkinan tertidur dalam situasi tertentu, seperti duduk setelah makan siang. Selain itu, biasanya pengidap diminta membuat catatan rinci tentang pola tidur selama satu atau dua minggu.

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah polisomnografi. Tes ini mengukur berbagai sinyal selama tidur menggunakan elektroda yang ditempatkan di kulit kepala. Oleh sebab itu, pengidap harus menjalani rawat inap menggunakan fasilitas medis, kemudian mengukur aktivitas listrik otak (elektroensefalogram) dan jantung (elektrokardiogram) dan pergerakan otot (electromyogram) dan mata (elektro-oculogram). Pola pernapasan selama itu juga dimonitor secara ketat. Selain itu, terdapat juga uji tidur latensi ganda. Pemeriksaan ini mengukur berapa lama pengidap tertidur di siang hari, kemudian pola tidur akan diamati. Penderita dengan narkolepsi tertidur dengan mudah dan masuk ke dalam rapid eye movement (REM) tidur dengan cepat.

 

Pengobatan Narkolepsi

Tidak ada obat untuk mengatasi narkolepsi. Namun, obat-obatan dan modifikasi gaya hidup yang tepat dapat membantu mengelola gejala. Obat seperti stimulan yang merangsang sistem saraf pusat adalah pengobatan utama untuk membantu orang dengan narkolepsi tetap terjaga di siang hari, contohnya modafinil (Provigil) atau armodafinil (Nuvigil) untuk narkolepsi. Efek samping jarang terjadi, tetapi mungkin termasuk sakit kepala, mual, atau kecemasan. Sebagian orang memerlukan pengobatan dengan methylphenidate atau berbagai amfetamin. Obat-obatan ini sangat efektif tetapi bisa membuat ketagihan. Golongan ini dapat menyebabkan efek samping seperti kegelisahan dan palpitasi jantung.

Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) atau Serotonin and Norepinefrin Reuptake Inhibitor (SNRI) juga sering diberikan untuk menekan tidur REM, membantu meringankan gejala katapleksi, halusinasi hipnagogik, dan kelumpuhan tidur. Hal ini termasuk fluoxetine dan venlafaxine. Efek samping dapat mencakup penambahan berat badan, insomnia dan masalah pencernaan. Obat lain adalah antidepresan trisiklik. Sodium oxybate membantu meningkatkan tidur malam hari. Dalam dosis tinggi dapat membantu mengendalikan kantuk di siang hari.

Sementara usaha yang dapat dilakukan sendiri tanpa obat di rumah adalah dengan menghindari atau meminimalisir paparan pemicu emosional, tidur yang cukup di malam hari, serta menghindari tidur dalam posisi terlentang. Selain itu, karena salah satu penyebab narkolepsi diduga autoimun, maka pengidap disarankan untuk menghindari faktor-faktor yang dapat memicu penyakit autoimun yang lainnya.  

Baca juga: Tidak Bisa Sembuh, Tetapi Narkolepsi Bisa Diobati

 

Pencegahan Narkolepsi

Sementara faktor-faktor yang berpotensi mengembangkan narkolepsi telah ditetapkan (usia, infeksi, dan genetika), patologi utamanya belum ditentukan, sehingga tidak mungkin untuk mencegahnya, terutama pada orang yang memiliki kecenderungan genetik. Namun, ada juga narkolepsi sekunder yang disebabkan oleh trauma fisik, yang membuatnya lebih mudah untuk dihindari.

Beberapa hal yang harus kamu ingat untuk mencegah berkembangnya narkolepsi sekunder adalah menghindari vaksin influenza dan menghindari aktivitas ekstrem, guna mengurangi risiko cedera kepala berat.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu mengalami gangguan tidur dalam jangka waktu yang lama, segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. 

 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Narcolepsy
Diperbarui pada 2 September 2019