• Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Neuropati Diabetik
  • Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Neuropati Diabetik

Neuropati Diabetik

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Neuropati Diabetik

Pengertian Neuropati Diabetik

Neuropati diabetik adalah kerusakan yang terjadi pada pengidap diabetes akibat gula darah tinggi melukai saraf di seluruh tubuh. Kondisi ini paling sering terjadi pada tungkai dan kaki. Selain itu, dampaknya dapat terjadi pada sistem pencernaan, saluran kemih, dan pembuluh darah serta jantung. 

Neuropati diabetik adalah komplikasi diabetes serius yang mempengaruhi sebanyak 50 persen pengidap. Meski demikian, pengidap dapat mencegah atau memperlambat perkembangan penyakit dengan mengontrol gula darah tetap di angka normal dan menjalani pola hidup sehat.

Jenis Neuropati Diabetik 

Ada empat jenis neuropati diabetik berdasarkan lokasi saraf yang terkena, yaitu:

  • Neuropati diabetik perifer. Kondisi ini memengaruhi saraf pada lengan, tangan, kaki, dan telapak kaki, sehingga menyebabkan kelainan bentuk kaki, infeksi, dan bisul. Pada kasus yang parah, pengidap perlu diamputasi.
  • Neuropati proksimal. Kondisi ini ditandai dengan berkurangnya sensasi, kerusakan saraf, dan nyeri di kaki, paha, bokong, serta pinggul.
  • Neuropati otonom. Kondisi ini memengaruhi berbagai fungsi tubuh, termasuk regulasi suhu, tekanan darah, buang air kecil, dan respons seksual akibat rusaknya saraf di jantung dan sistem peredaran darah.
  • Neuropati fokal. Kondisi ini memengaruhi saraf tunggal pada kaki, paha, atau pergelangan tangan. Neuropati fokal juga dapat memengaruhi saraf di dada, punggung, dan otot yang mengendalikan mata.

Penyebab Neuropati Diabetik

Belum diketahui apa yang menjadi penyebab pasti dari neuropati. Namun, gula darah tinggi yang tidak terkontrol memicu kerusakan saraf dan mengganggu kemampuannya untuk mengirim sinyal. Gula darah tinggi juga melemahkan dinding pembuluh darah kecil yang memasok oksigen dan nutrisi menuju saraf.

Faktor Risiko Neuropati Diabetik

Berikut ini beberapa faktor yang meningkatkan risiko neuropati diabetik:

  • Kontrol gula darah yang buruk. Gula darah yang tidak terkontrol meningkatkan risiko komplikasi diabetes, termasuk kerusakan saraf.
  • Riwayat kencing manis. Risiko penyakit ini meningkat pada pengidap diabetes kronis, terutama jika gula darah tidak terkontrol dengan baik.
  • Penyakit ginjal. Diabetes dapat merusak ginjal. Kerusakan ginjal mengirimkan racun ke dalam darah, sehingga menyebabkan kerusakan saraf.
  • Kelebihan berat badan. Memiliki indeks massa tubuh (BMI) 25 atau lebih dapat meningkatkan risiko penyakit.
  • Merokok. Merokok mempersempit dan mengeraskan arteri, mengurangi aliran darah menuju tungkai dan kaki. Hal ini membuat luka lebih sulit sembuh dan merusak saraf perifer.

Gejala Neuropati Diabetik

Gejala penyakit tergantung pada jenis yang dialami dan saraf mana yang terkena. Gejala berkembang secara bertahap dan umumnya tidak tampak sampai terjadi kerusakan saraf yang signifikan. Berikut ini gejala penyakit sesuai dengan jenisnya:

Neuropati Perifer

Jenis neuropati ini disebut dengan neuropati perifer simetris distal. Kondisi ini memengaruhi kaki dan tungkai, kemudian diikuti oleh tangan dan lengan. Gejalanya termasuk:

  • Mati rasa atau berkurangnya kemampuan untuk merasakan sakit atau perubahan suhu.
  • Perasaan kesemutan atau terbakar.
  • Nyeri tajam atau kram.
  • Kelemahan otot.
  • Sensitivitas yang ekstrem terhadap sentuhan.
  • Masalah kaki serius, seperti bisul, infeksi, dan kerusakan tulang serta sendi.

Neuropati Otonom

Sistem saraf otonom mengontrol tekanan darah, detak jantung, keringat, mata, kandung kemih, sistem pencernaan, dan organ seks. Diabetes dapat mempengaruhi saraf di salah satu area ini dan memicu munculnya gejala, seperti:

  • Kurangnya kesadaran bahwa kadar gula darah rendah.
  • Penurunan tekanan darah saat bangun dari duduk atau berbaring, sehingga menyebabkan pusing atau pingsan.
  • Masalah kandung kemih atau usus.
  • Keterlambatan pengosongan lambung, sehingga memicu mual, muntah, sensasi perut penuh, dan kehilangan nafsu makan
  • Kesulitan menelan.
  • Perubahan cara mata menyesuaikan diri dari terang ke gelap atau jauh ke dekat.
  • Masalah dengan respons seksual, seperti kekeringan vagina pada wanita dan disfungsi ereksi pada pria.

Neuropati Proksimal (Poliradikulopati Diabetik)

Jenis neuropati ini mempengaruhi saraf di paha, pinggul, bokong, atau kaki. Neuropati proksimal juga dapat memengaruhi daerah perut dan dada. Gejala biasanya terjadi pada satu sisi tubuh, tetapi dapat menyebar ke sisi lain. Gejalanya termasuk:

  • Sakit parah di pantat, pinggul atau paha.
  • Otot paha melemah dan mengecil.
  • Kesulitan bangkit dari posisi duduk.
  • Nyeri dada atau dinding perut.

Mononeuropati (Neuropati Fokal)

Mononeuropati mengacu pada kerusakan pada saraf tunggal yang spesifik. Saraf terkena terletak di wajah, batang tubuh, lengan, atau kaki. Mononeuropati dapat menyebabkan:

  • Kesulitan fokus atau penglihatan ganda.
  • Kelumpuhan pada satu sisi wajah.
  • Mati rasa atau kesemutan di tangan atau jari.
  • Kelemahan di tangan yang dapat mengakibatkan jatuhnya barang.
  • Nyeri di tulang kering atau kaki.
  • Kelemahan menyebabkan kesulitan mengangkat bagian depan kaki.
  • Sakit di bagian depan paha

Diagnosis Neuropati Diabetik

Proses diagnosis penyakit dilakukan dengan sejumlah pemeriksaan fisik, termasuk:

  • Kekuatan dan tonus otot secara keseluruhan.
  • Refleks tendon.
  • Kepekaan terhadap sentuhan, rasa sakit, suhu, dan getaran.

Pemeriksaan penunjang dibutuhkan untuk memastikan diagnosis. Beberapa pemeriksaan tersebut, yaitu:

  • Pengujian filamen. Tes dilakukan untuk menguji kepekaan pengidap terhadap sentuhan. Caranya dengan menyikat monofilamen (senar nylon) di atas area kulit.
  • Tes sensorik. Tes non-invasif ini digunakan untuk mengetahui bagaimana saraf merespons getaran dan perubahan suhu.
  • Tes konduksi saraf. Tes ini mengukur seberapa cepat saraf di lengan dan kaki menghantarkan sinyal listrik.
  • Elektromiografi. Tes ini dilakukan bersamaan dengan studi konduksi saraf untuk mengukur pelepasan listrik yang dihasilkan otot.
  • Tes otonom. Tes dilakukan untuk menentukan bagaimana tekanan darah berubah saat berada di posisi yang berbeda.

Pengobatan Neuropati Diabetik dan Efek Sampingnya

Pengobatan penyakit dilakukan dengan tujuan untuk memperlambat perkembangan penyakit, meringankan nyeri dan mengatasi komplikasi, serta mengembalikan fungsi tubuh. Caranya dengan menjaga kadar gula sesuai dengan usia sesuai dengan kondisi kesehatan penderita secara menyeluruh.

Untuk mengatasi penyakit, ada berbagai jenis obat-obatan yang diberikan untuk mengatasi nyeri, kram otot, dan gejala lain yang mungkin timbul. Berikut ini beberapa jenis obat yang umum diberikan:

  • Antidepresan, seperti duloxetine, nortriptyline, atau atau desipramine.
  • Anti kejang, seperti gabapentin, carbamazepine, atau pregabalin.
  • Lidocaine dalam bentuk koyo.
  • Krim capsaicin.

Komplikasi Neuropati Diabetik

Jika gejala yang berkembang dibiarkan begitu saja, kondisi tersebut dapat memicu sejumlah komplikasi berupa:

  • Ketidaksadaran hipoglikemia, yang menyebabkan gemetar, berkeringat, dan peningkatan detak jantung.
  • Kehilangan sensasi rasa pada jari kaki, kaki atau tungkai. Dalam kasus yang parah, infeksi dapat menyebar ke tulang atau menyebabkan kematian jaringan.
  • Infeksi saluran kemih dan inkontinensia urin akibat rusaknya saraf yang mengontrol kandung kemih.
  • Penurunan tajam pada tekanan darah yang ditandai dengan pusing atau pingsan saat berdiri, berbaring, atau bangkit setelah duduk.
  • Masalah pencernaan, seperti sembelit atau diare. Kerusakan saraf terkait diabetes dapat menyebabkan gastroparesis, yaitu keterlambatan pengosongan perut.
  • Disfungsi seksual pada pria maupun wanita..

Pencegahan Neuropati Diabetik

Seseorang dapat mencegah atau menunda penyakit dan komplikasinya dengan mengelola gula darah dengan baik. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperlambat perkembangan penyakit, yaitu:

  • Menjaga tekanan darah normal.
  • Melakukan banyak aktivitas fisik.
  • Berhenti merokok.
  • Menghindari konsumsi alkohol.
  • Mempertahankan berat badan ideal.
  • Menerapkan pola makan sehat.
  • Menjaga kaki tetap bersih dan kering.
  • Potong kuku kaki dengan hati-hati.
  • Kenakan kaus kaki yang bersih dan kering.
  • Kenakan bantalan sepatu yang empuk dengan ukuran pas.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera tanya dokter jika memiliki luka di kaki yang tidak kunjung membaik. Apalgi jika luka disertai dengan rasa terbakar, kesemutan, dan lemas atau nyeri di tangan serta laki yang mengganggu aktivitas harian. Jika kamu membutuhkan informasi lain seputar kesehatan, silakan download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Diabetic neuropathy.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Diakses pada 2022. What Is Diabetic Neuropathy?
Johns Hopkins Medicine. Diakses pada 2022. Diabetic Neuropathy.
Medical News Today. Diakses pada 2022. What to know about diabetic neuropathy.