• Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Psikosis
  • Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Psikosis

Psikosis

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
psikosispsikosis

Psikosis adalah penyakit mental yang menyebabkan pengidapnya mengalami gangguan dalam membedakan antara imajinasi dengan realita. Gangguan psikosis ditandai dengan munculnya gejala halusinasi dan waham (delusi). Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini bisa semakin parah dan mebuat pengidapnya semakin bermasalah dengan kondisi mentalnya. 

Penyakit ini terjadi karena ada gangguan pada otak. Gangguan yang terjadi memengaruhi cara kerja organ ini dalam memproses informasi. Alhasil, pengidapnya mengalami perubahan dalam cara berpikir dan berprilaku. Gangguan mental bisa mengganggu kehidupan dna menurunkan kualitas hidup pengidapnya, sehingga harus segera mendapatkan penanganan yang tepat. 

Penyebab Psikosis

Penyebab dari psikosis berbeda-beda dan penyebab pastinya sering kali tidak jelas. Namun, secara umum masih belum diketahui pasti apa yang menjadi penyebab penyakit ini. 

Psikosis rentan muncul sebagai manifestasi gejala dari penyakit, tetapi dapat juga dipicu melalui konsumsi obat-obatan, terutama obat-obatan terlarang, kekurangan tidur, dan faktor lingkungan.

Beberapa kondisi pada tubuh yang dapat menyebabkan psikosis antara lain adalah:

  • Penyakit Parkinson
  • Penyakit Huntington.
  • Tumor atau kista di otak.
  • Penyakit Alzheimer.
  • Stroke.
  • Epilepsi.
  • HIV, Sifilisis, dan infeksi pada otak lainnya.
  • Trauma kepala.
  • Overdosis alkohol dan NAPZA.

Psikosis juga dapat muncul sebagai suatu manifestasi dari adanya gangguan pada jiwa maupun kepribadian seseorang, antara lain:

  • Kelainan bipolar.
  • Depresi.
  • Skizofrenia.
  • Gangguan delusi.
  • Gangguan psikotik menyeluruh.

Faktor Risiko Psikosis

Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat menungkatkan risiko seseorang mengalami psikosis, antara lain: 

  • Memiliki pola tidur yang buruk.
  • Gemar mengonsumsi alkohol atau menggunakan ganja.
  • Mengalami trauma akibat kehilangan seseorang yang dicintai, seperti orangtua atau pasangan. 

Risiko penyakit mental ini juga disebut meningkat pada orang yang memiliki orang tua dengan riwayat penyakit sama. Pengidap gangguan mental yang harus menjalani pengobatan jangka panjang juga rentan mengalami psikosis. 

Gejala Psikosis

Seseorang dengan psikosis biasanya akan memiliki gejala yang meliputi:

  • Halusinasi, yaitu sebuah kondisi yang ditandai dengan adanya sebuah persepsi yang dirasakan tanpa adanya rangsangan nyata terhadap panca indra. Hal ini meliputi penglihatan, pendengaran, penciuman, dan sentuhan. Sebagai contoh, pengidap merasa melihat suatu sosok atau mendengar suara yang tidak nyata.
  • Delusi atau waham adalah sebuah keyakinan yang dipegang oleh pengidap, tetapi keyakinan tersebut adalah salah. Misalnya, seseorang merasa dirinya adalah seorang manusia super yang bisa terbang.
  • Rasa cemas yang berlebihan.
  • Penuh dengan rasa curiga.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Mengalami gangguan mood.
  • Cenderung menjadi murung, menarik diri dari lingkungan keluarga atau teman.
  • Tidur terus-menerus.
  • Depresi.
  • Gangguan dalam berbicara, seperti tidak fokus, berpindah dari topik satu ke topik lain, dan sering kali tidak nyambung.
  • Memiliki pikiran-pikiran untuk bunuh diri dan melakukan percobaan bunuh diri.

Diagnosis Psikosis

Diagnosis dari psikosis ditegakkan melalui pemeriksaan status mental. Kemudian dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang jika dicurigai gejala psikosis yang muncul diakibatkan suatu kelainan organik yang diidap oleh pengidap. Misalnya dengan pemeriksaan CT scan atau MRI.

Pengobatan Psikosis

Gejala psikosis dapat ditangani dengan pemberian obat-obatan dan terapi kognitif. Ketika pengidap mengalami serangan psikosis seperti sedang mengamuk, biasanya dokter memberikan penanganan utama dengan menginjeksikan obat penenang.

Obat anti psikosis diberikan kepada untuk dikonsumsi dengan tujuan mengontrol kondisi pengidap dan mencegah terjadinya serangan selanjutnya. Sementara itu, terapi kognitif ditujukan untuk melatih pola dan cara berpikir pengidap, cara ini dipercaya lebih efektif dibandingkan konsumsi obat semata.

Pencegahan Psikosis

Sampai saat ini belum ada pencegahan pasti yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya psikosis secara umum. Namun, beberapa cara yang dapat dilakukan sebagai upaya menghindari kondisi ini adalah dengan:

  • Mengobati kondisi yang bisa memicu psikosis
  • Menerapkan gaya hidup sehat dan berolahraga 
  • Cukup tidur
  • Menghindari alkohol dan NAPZA
  • Menghindari depresi. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan pergi berlibur, berbicara dengan konselor jika menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan suatu masalah.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami gejala di atas, dianjurkan untuk menemui dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Bisa juga membicarakan masalah kesehatan mental dan gejala-gejala yang dialami pada psikolog atau psikiater melalui aplikasi Halodoc. Lebih mudah berbicara dengan ahli kesehatan melalui Video/Voice Call atau Chat. Download Halodoc sekarang di App Store atau Google Play! 

Referensi:
NHS UK. Diakses pada 2022. Psychosis.
Healthline. Diakses pada 2022. Psychosis.
WebMD. Diakses pada 2022. What is Psychosis?
Diperbarui pada 23 Juni 2022.