Sindrom Tourette

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Sindrom Tourette

Sindrom Tourette (TS) adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan gerakan involunter dan berulang-ulang, stereotipikal, dan vokalisasi yang disebut dengan tics.

Baca juga: Waspadai Sering Kejang, Ciri-Ciri Terserang Sindrom Tourette

 

Penyebab dan Faktor Risiko Sindrom Tourette

Penyebab pasti TS belum diketahui, tetapi dugaan kuat mengarah pada kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Diduga pula ketidakseimbangan neurotransmitter seperti dopamin dan serotonin berperan dalam terjadinya TS.

 

Gejala Sindrom Tourette

Gejala utama TS adalah tics, yaitu gerakan atau vokalisasi yang mendadak dan berulang-ulang. Gejala bervariasi dari ringan hingga berat dan memengaruhi kualitas hidup pengidap. Tics diklasifikasikan menjadi tics sederhana dan tics kompleks. Tics yang sederhana melibatkan sedikit kelompok otot, sedangkan tics kompleks melibatkan banyak kelompok otot. Tics motorik biasanya muncul lebih dulu dari tics vocal.

Pada tics sederhana, gejala motorik yang sering ditemukan adalah kedipan mata, sentakan kepala, mengangkat bahu, pandangan mata yang beralih, kedutan hidung, gerakan mulut yang aneh. Sedangkan gejala vocal yang umum adalah mengerang, batuk, berdeham, dan menggonggong.

Pada tics kompleks, gejala motorik yang sering ditemukan adalah menyentuh dan mengendus barang, gerakan yang berulang, melangkah dengan pola tertentu, gerakan tidak senonoh, membungkuk atau memutar badan, dan melompat-lompat. Sementara itu, mengulang kata-kata orang lain, menggunakan kata-kata kasar, dan mengumpat menjadi gejala vocal yang mudah untuk diperhatikan dari pengidap.

 

Diagnosis Sindrom Tourette

Diagnosis sindrom ini dilakukan melalui verifikasi pengidap telah memiliki motorik dan tics vocal setidaknya selama 1 tahun oleh dokter. Adanya kondisi neurologis atau psikiatrik lainnya dapat membantu dokter sampai pada diagnosis.

Tidak ada tes darah, laboratorium, atau pencitraan yang diperlukan untuk diagnosis. Dalam kasus yang jarang terjadi, studi neuroimaging seperti MRI atau CT scan, EEG, atau tes darah tertentu digunakan untuk mengesampingkan kondisi lain yang mungkin memiliki gejala yang mirip dengan TS.

Beberapa kriteria diagnosis TS adalah:

  • Tics motorik dan vocal.

  • Tics terjadi beberapa kali dalam sehari, selama lebih dari 1 tahun.

  • Tics terjadi sebelum usia 18.

  • Tidak disebabkan oleh medikasi atau substansi lain.

Baca juga: Kenali Sindrom Tourette, Penyakit yang Sebabkan Kelainan Vokal dan Motorik

 

Pengeobatan Sindrom Tourette

Tidak ada penanganan definitif untuk TS, tetapi tata laksana ditujukan meringankan gejala. Umumnya, Obat-obatan psikotik akan diberikan kepada pengidap. Hal ini bertujuan untuk menurunkan kadar dopamin dalam otak, sehingga pengidap bisa mengontrol tics. Botox dapat diberikan untuk meredakan gejala yang melibatkan otot. Stimulan seperti methylphenidate berguna untuk mengatasi gejala ADHD pada pengidap TS.

Terkadang, dokter meresepkan obat-obatan penurun tekanan darah yang membantu mengatasi gejala seperti serangan impulsif. Selain itu, antidepresan dapat diberikan untuk mengatasi kecemasan dan gangguan mood. Studi terbaru menunjukkan keuntungan pemberian obat-obatan antikejang seperti topiramat pada pasien TS. Sedangkan untuk TS terkait dengan kondisi psikologis, penanganan terapi kognitif dan kebiasaan dapat dilakukan untuk meredakan gejala dan membantu pengidap menangani dampak psikologis.

 

Pencegahan Sindrom Tourette

Penyebab TS adalah kelainan genetik, oleh karena itu pencegahan sulit dan hampir tidak mungkin dilakukan.

Baca juga: Faktor Risiko yang Dapat Memicu Sindrom Tourette

 

Kapan Harus ke Dokter?

Ketika kamu mengalami gejala di atas, langsung periksakan diri dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Referensi:

WebMD. Diakses pada 2019. Tourette's Syndrome

Diperbarui pada 6 September 2019