• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui 12 Tanda Seseorang Alami Self Destructive
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui 12 Tanda Seseorang Alami Self Destructive

Ketahui 12 Tanda Seseorang Alami Self Destructive

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 27 Januari 2022

“Self destructive tidak selalu ditandai dengan perilaku menyakiti diri secara langsung, melainkan juga hal-hal yang menyakitkan secara emosional. Mulai dari binge eating, mengasihani diri sendiri, mengingat-ingat hal-hal yang menyedihkan untuk merasakan sensasi kasihan pada diri, melukai diri, impulsif dan lain-lain. Tanda ataupun gejala dari self destructive bisa berbeda pada setiap orang.”

Ketahui 12 Tanda Seseorang Alami Self Destructive

Halodoc, Jakarta – Mengasihani diri sendiri adalah salah satu bentuk self destructive. Merasa diri pantas untuk menerima segala keburukan yang terjadi saat ini, mengingat-ingat perlakuan buruk yang dilakukan orang, dan dilakukan secara berulang adalah salah satu bentuk self destructive.

Self destructive tidak selalu ditandai dengan perilaku menyakiti diri secara langsung atau fisik, melainkan juga hal-hal yang menyakitkan secara emosional. Membiarkan perilaku ini terus-menerus dilakukan akan membuat diri down dan sangat tidak baik untuk kesehatan mental.

Gejalanya Self Destructive Bisa Berbeda-beda pada Setiap Orang

Selain apa yang sudah disebutkan sebelumnya, berikut adalah tanda lain seseorang mengalami self destructive:

1. Mencoba bunuh diri.

2. Binge eating.

3. Melakukan aktivitas kompulsif seperti berjudi, bermain game, atau berbelanja.

4. Melakoni perilaku seksual impulsif dan berisiko.

5. Menggunakan alkohol dan obat-obatan secara berlebihan.

6. Melukai diri sendiri, seperti memotong, mencabut rambut, atau membakar.

7. Menghina diri sendiri, bersikeras bahwa kamu tidak pintar, cakap, atau cukup menarik.

8. Mengubah diri sendiri untuk menyenangkan orang lain.

9. Berpegang teguh pada seseorang yang tidak tertarik padamu.

10. Terlibat dalam perilaku mengasingkan atau agresif yang mendorong orang menjauh.

11. Perilaku manipulatif, seperti penghindaran diri, penundaan, dan pasif-agresif.

12. Berkubang pada rasa kasihan akan diri sendiri.

Frekuensi dan tingkat keparahan perilaku ini bervariasi dari orang ke orang. Untuk beberapa, orang frekuensi dan tingkatnya bisa jarang dan ringan. Bagi yang lain, bisa jadi sering dan justru berbahaya, bahkan menimbulkan masalah dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Self destructive juga bisa terjadi pada siapa saja, tidak harus selalu kepada orang yang didiagnosis kesehatan mental. 

Namun memang, self destructive ini memang bisa dipicu oleh kondisi kesehatan mental, seperti:

1. Gangguan kecemasan. Ditandai dengan rasa takut, khawatir, dan tertekan.

2. Depresi. Kesedihan yang luar biasa dan kehilangan minat. 

3. Gangguan makan. Kondisi seperti anoreksia, bulimia, dan binge eating.

4. Gangguan kepribadian. Ketidakmampuan untuk berhubungan dengan orang lain dengan cara yang sehat.

5. Gangguan stres pasca-trauma (PTSD). Ini adalah gangguan kecemasan yang dimulai setelah seseorang mengalami peristiwa traumatis. PTSD dan sifat kepribadian impulsif dapat menempatkan seseorang pada risiko perilaku self destructive. 

Self Destructive Sebagai Mekanisme Koping

Self destructive bisa jadi adalah mekanisme koping yang dibangun seseorang untuk melindungi dirinya dari rasa sakit yang tidak bisa dia atasi secara sehat. Ketika kamu dikhianati oleh pasangan misalnya, kamu akan terus mengingat-ingat rasa sedih tersebut dan melegitimasi diri kalau kamu memang pantas mendapatkannya. 

Perasaan-perasaan seperti ini tidak berarti kamu memiliki gangguan kesehatan mental. Ketika kamu menyadari kalau ini adalah sesuatu yang tidak baik, kamu bisa mengganti kebiasaan tersebut dengan sesuatu yang lebih positif dan membuatmu menjadi pribadi lebih baik. 

Dari mana tahu kalau self destructive yang dilakukan masuk kategori berbahaya dan membutuhkan pertolongan profesional medis? Ini tanda-tandanya:

  • Melukai tubuh tanpa niat bunuh diri setidaknya selama 5 hari dalam satu tahun terakhir.
  • Melakukan tindakan self destructive untuk meningkatkan perasaan positif, menghilangkan pikiran atau perasaan negatif, atau untuk menyelesaikan kesulitan tertentu.
  • Keasyikan dengan sensasi melukai diri sendiri atau ada keinginan mendesak untuk melukai diri sendiri.

Jika kamu merasa memiliki gejala demikian, gunakan saja Halodoc untuk mendapatkan rekomendasi dari profesional medis. Lewat Halodoc, kamu juga bisa mendapatkan kebutuhan obatmu tanpa harus keluar rumah. Yuk, download aplikasinya, ya!

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2022. Understanding Self-Destructive Behavior.
National Library of Medicine. Diakses pada 2022. Self-injurious behavior is common also without personality syndrome.
Psychology Today. Diakses pada 2022. Understanding Self-Destructive (Dysregulated) Behaviors.