• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui 3 Hal yang Dilakukan sebelum Anak Imunisasi DPT
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui 3 Hal yang Dilakukan sebelum Anak Imunisasi DPT

Ketahui 3 Hal yang Dilakukan sebelum Anak Imunisasi DPT

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 14 Maret 2022

“Pemberian DPT sebaiknya tidak dilewatkan. Sebelum memberikan imunisasi DPT , orangtua perlu mencari tahu informasi mengenai pemberian imunisasi dan efek sampingnya pada anak. Jika Si Kecil sedang sakit, sebaiknya tunda pemberian imunisasi sampai anak benar-benar pulih.”

Ketahui 3 Hal yang Dilakukan sebelum Anak Imunisasi DPT

Halodoc, Jakarta – Imunisasi DPT (difteri, pertusis, dan tetanus) merupakan salah satu vaksinasi wajib yang harus diberikan pada balita. Penyakit difteri, pertusis, dan tetanus adalah penyakit yang berbeda. Ketiganya berisiko tinggi menyebabkan kematian. Oleh karena itu, pemberian imunisasi DPT sebaiknya tidak dilewatkan.

 

Sebelum memberikan imunisasi DPT pada anak, orangtua perlu mencari tahu informasi terlebih dahulu mengenai pemberian imunisasi dan efek sampingnya. Pastikan juga usia bayi sudah memenuhi syarat untuk diberikan imunisasi DPT. Ini ulasannya.

Ini yang Harus Dilakukan Sebelum Memberikan Imunisasi DPT pada Anak

Imunisasi DPT dapat diberikan pada anak di bawah usia 7 tahun. DPT dosis rendah untuk vaksin difteri dan pertusis, sudah dapat diberikan pada remaja mulai usia 11 tahun dan dewasa usia 19 hingga 64 tahun. Ini sering disebut dosis booster karena meningkatkan kekebalan yang berkurang dari vaksin yang diberikan pada usia 4 hingga 6 tahun. Sebelum memberikan vaksin DPT pada anak, hal ini yang perlu dilakukan:

1. Mencari Tahu Berapa Kali Imunisasi Harus Diberikan

Anak-anak mendapatkan imunisasi sebanyak lima kali, sejak usia mereka 2 bulan hingga 6 tahun. Tiga imunisasi DPT pertama diberikan pada usia 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan.

Imunisasi yang ke-4 diberikan pada saat usia anak 18 bulan, dan pemberian terakhir pada usia 5 tahun. Anak akan menerima dosis satu suntikan setiap jadwal imunisasi. Kemudian, anak dianjurkan mendapatkan booster DPT setiap 10 tahun. 

2. Perhatikan Kondisi Anak Sebelum Imunisasi

Apabila anak sedang mengalami sakit parah saat jadwal imunisasi tiba, maka sebaiknya tunggu hingga kondisi kesehatan anak membaik. Setelah anak sehat total, baru dilakukan imunisasi. Perlu orangtua ketahui, jangan pernah berikan imunisasi lanjutan apabila anak sedang mengalami: gangguan pada sistem saraf atau otak, dalam waktu 7 hari setelah mendapatkan suntikan imunisasi dan mengalami reaksi alergi berat yang dapat mengancam nyawa, setelah anak mendapatkan imunisasi. 

Sementara itu, segera periksakan kondisi anak ke dokter jika setelah mendapatkan imunisasi anak mengalami demam di atas 40 derajat Celsius, anak menangis setidaknya selama 3 jam tidak berhenti, dan anak kejang atau pingsan.

3. Ketahui Apa Saja Efek Samping Imunisasi DPT

Imunisasi DPT kemungkinan akan menimbulkan imunisasi, antara lain: demam ringan, muncul bengkak di bekas suntikan, kulit di bekas suntikan menjadi merah dan terasa sakit, anak terlihat lelah, dan menjadi rewel. 

Efek samping ini umumnya terjadi dalam satu sampai tiga hari setelah anak menerima imunisasi. Ayah dan ibu dapat memberikan obat paracetamol agar demam dan nyeri pada anak mereda. Hindari memberikan obat yang mengandung aspirin, karena ini akan menimbulkan gangguan kesehatan yang mengancam jiwa anak, yaitu kerusakan hati dan otak. 

Perlu orangtua ketahui, imunisasi adalah cara terbaik untuk mencegah penyebaran penyakit menular. Selain sanitasi dan air minum bersih, vaksin juga disebut intervensi kesehatan masyarakat terbesar dalam sejarah. 

Bukan hanya melakukan vaksinasi saja. Menunjang kesehatan Si Kecil dapat dilakukan dengan memberikan suplemen atau multivitamin tambahan yang ia butuhkan. Untuk membelinya secara online, ibu bisa cek di toko kesehatan melalui aplikasi Halodoc. Yuk, segera download aplikasi Halodoc untuk saat-saat diperlukan. 

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2021. Young Childhood Immunizations
Baby Center. Diakses pada 2021. The DTaP vaccine