• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui Epidemiologi Hantavirus di Indonesia

Ketahui Epidemiologi Hantavirus di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Ketahui Epidemiologi Hantavirus di Indonesia

Halodoc, Jakarta – Hantavirus adalah salah satu penyakit zoonosis yang ditularkan oleh hewan pengerat ke manusia. Penyakit ini bisa mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan pada manusia, seperti penyakit ginjal dan paru-paru. 

Hantavirus awalnya diketahui pada tahun 1951-1954 ketika terjadi kasus infeksi virus tersebut pada lebih dari 3000 tentara Amerika di Korea, yang kemudian menyebar ke Amerika.

Namun, karena hewan pengerat banyak ditemukan di negara berkembang, sekarang hantavirus menjadi penyakit yang diwaspadai di banyak negara berkembang, salah satunya Indonesia. Sebenarnya seperti apa epidemiologi hantavirus di Indonesia? Berikut ulasannya.

Baca juga: Waspadai 5 Penyakit yang Disebabkan oleh Tikus

Penyebab dan Penularan Hantavirus

Infeksi hantavirus disebabkan oleh virus Hanta genus Hantavirus, dari family Bunyaviridae. Anggota Hantavirus bisa dibedakan menjadi 3 kelompok berdasarkan penyakit yang ditimbulkannya:

  • Kelompok yang menyebabkan HFRS (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome).
  • Kelompok yang menyebabkan HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome).
  • Kelompok yang tidak menimbulkan penyakit pada manusia.

Hantavirus (HTV) diketahui merupakan penyebab HFRS dan HPS. Beberapa subtipe Hantavirus yang lain, seperti Hantaanvirus (HNTV), Dobrava dan Seoul virus (SEOV) merupakan penyebab HFRS sedang dan berat di kawasan Asia, sedangkan virus Puumala menjadi penyebab HFRS ringan di kawasan Skandinavia dan Eropa. Subtipe virus Sin Nombre merupakan penyebab HPS di Amerika Utara dan Andes virus (ANDV) merupakan penyebab HPS di kawasan Amerika Selatan, Argentina dan Chili.

Hantavirus ditularkan melalui tikus dan hewan pengerat lainnya. Penularan hantavirus ke manusia bisa terjadi melalui beberapa cara berikut:

  • Melakukan kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi 
  • Melakukan kontak dengan ekskresi hewan yang terinfeksi, seperti saliva, urin, atau feses.
  • Kutu atau caplak yang suka menempel pada hewan pengerat juga berperan besar dalam penularan hantavirus, baik dari hewan ke hewan, maupun dari hewan ke manusia.
  • Melalui aerosol dari debu atau benda-benda yang sudah terkontaminasi oleh urin dan feses hewan pengerat yang terinfeksi.

Baca juga: Tikus di Musim Hujan Bisa Sebabkan Leptospirosis yang Berakibat Fatal

Epidemiologi Hantavirus di Indonesia

Epidemiologi Hantavirus di Indonesia masih belum banyak diketahui, namun beberapa hasil survei serologi pada rodensia sudah dilakukan sejak tahun 1984-1985 di pelabuhan kota Padang dan Semarang. Selain itu, sudah dilaporkan juga beberapa studi kasus HFRS di Yogyakarta pada tahun 1989.

Penelitian selanjutnya yang merupakan hospital based study yang dilakukan tahun 2004 di 5 rumah sakit di Jakarta dan Makassar menunjukkan bahwa dari 172 orang yang dicurigai mengidap HFRS dengan gejala demam 38.5 Celsius, dengan atau tanpa manifestasi perdarahan disertai dengan gangguan ginjal, ternyata 85 sera yang diperiksa seropositif masing-masing 5 terhadap SEOV/HTNV, 1 terhadap PUUV dan 1 lainnya terhadap SNV.

Beberapa publikasi juga menyatakan adanya infeksi Hantavirus dan virus Seoul pada manusia di Indonesia. Meskipun kasus infeksi Hanta pada manusia seringkali dikacaukan atau bersamaan dengan infeksi virus Dengue, terutama pada pasien yang pada awalnya diduga terinfeksi virus Dengue. Pada rodensia, keberadaan antibodi terhadap Hantavirus asal korea sudah dilaporkan pada tikus di beberapa wilaya Indonesia.

Lebih lanjut, Hantavirus baru juga berhasil dideteksi dari tikus rumah yang berasal dari kota Serang, Provinsi Banten, sehingga virus ini dinamakan Hanta strain Serang (SERV). Berdasarkan hasil penelitian secara molekuler, virus tersebut berbeda dengan virus Hanta lainnya, tapi masih serumpun, sehingga diberi nama Serang virus.

Itulah penjelasan mengenai epidemiologi Hantavirus di Indonesia. Meskipun masih belum banyak terjadi di Indonesia, Hantavirus perlu diwaspadai. Bila kamu mengalami gejala-gejala, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, dan kedinginan, segera periksakan diri ke dokter. Pasalnya, gejala-gejala tersebut bisa menjadi pertanda Hantavirus pulmonary syndrome.

Baca juga: Waspada Penyakit Pasca-banjir, Cegah dengan Cara Ini

Sekarang, periksa kesehatan ke dokter sudah lebih mudah dengan adanya aplikasi Halodoc. Kamu tinggal buat janji di rumah sakit pilihan melalui aplikasi dan kamu bisa berobat ke dokter tanpa perlu antre. Yuk, download aplikasinya sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2021. Epidemiologi Hantavirus di Indonesia.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2021. Infeksi Hantavirus: Penyakit Zoonosis yang Perlu Diantisipasi Keberadaannya di Indonesia.