• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui Komplikasi Kesehatan Akibat Ebola

Ketahui Komplikasi Kesehatan Akibat Ebola

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
undefined

Halodoc, Jakarta - Ebola adalah virus serius dan mematikan yang ditularkan oleh hewan dan manusia. Penyakit ini pertama kali terdeteksi pada tahun 1976 di Sudan dan Republik Demokratik Kongo. Sampai saat ini, Ebola hanya muncul di Afrika. Meskipun virus Ebola telah hadir selama lebih dari 35 tahun, wabah terbesar dimulai di Afrika Barat pada Maret 2014. Wabah ini terbukti lebih mematikan, parah, dan meluas dari wabah sebelumnya. Sementara kasus menurun secara signifikan sejak puncak wabah, namun diperkirakan masih ada kemungkinan wabah lebih lanjut. 

Virus Ebola adalah keluarga virus Filoviridae. Jenis virus ini menyebabkan demam berdarah atau pendarahan yang banyak di dalam dan di luar tubuh. Mereka yang terinfeksi ebola mengalami demam yang sangat tinggi, bahkan komplikasi lainnya jika tidak ditangani dengan serius. 

Baca juga: Masih Terjadi, Benarkah Penyebaran Virus Ebola Sulit Dikendalikan?

Komplikasi Akibat Ebola

Sistem kekebalan tubuh orang sebetulnya akan merespons ebola secara berbeda. Ada yang bisa pulih dari virus tanpa komplikasi, sementara yang lain bisa memiliki efek residual. Efek yang melekat ini mungkin termasuk:

  • Masalah sendi;

  • Rambut rontok;

  • Kelemahan dan kelelahan yang ekstrem;

  • Peradangan hati dan mata;

  • Perubahan sensorik;

  • Penyakit kuning.

Menurut Mayo Clinic, komplikasi seperti itu berlangsung selama beberapa minggu hingga beberapa bulan. Sementara itu, komplikasi lain dari virus ini bisa mematikan, termasuk:

  • Kegagalan banyak organ;

  • Koma;

  • Syok;

  • Pendarahan hebat.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tingkat kematian rata-rata untuk seseorang yang terinfeksi ebola adalah 50 persen. Beberapa jenis virus bisa lebih mematikan daripada yang lain. Semakin dini infeksi didiagnosis, semakin besar peluang nyawa pasien disembuhkan. 

Centers for Diseases Control and Prevention memperkirakan bahwa para penyintas Ebola memiliki antibodi terhadap virus selama sekitar 10 tahun. Artinya, sekali kamu terserang virus, kamu akan kebal terhadap infeksi. 

Baca juga: Bukan Wabah Biasa, Begini 10 Cara Efektif Cegah Ebola

Lantas, Bagaimana Ebola Menyebar?

Penyakit virus Ebola menyebar melalui kontak dengan darah, cairan tubuh atau organ seseorang atau hewan dengan infeksi. Cara penyebarannya antara lain: 

  • Bersentuhan langsung dengan tubuh seseorang yang memiliki gejala, atau orang yang baru saja meninggal karena penyakit tersebut,

  • Membersihkan cairan tubuh (darah, kotoran, urin atau muntah) atau menyentuh pakaian kotor orang yang terinfeksi, ini karena virus dapat bertahan selama beberapa hari di luar tubuh,

  • Menyentuh jarum atau peralatan medis yang tidak disterilkan yang digunakan dalam perawatan orang yang terinfeksi,

  • Berhubungan seks dengan orang yang terinfeksi tanpa menggunakan kondom. Penelitian menunjukkan bahwa Ebola mungkin menetap dalam sperma hingga beberapa bulan setelah pemulihan,

  • Mengonsumsi daging hewan liar secara mentah atau kurang matang.

Ebola tidak dapat ditangkap melalui kontak sosial rutin, seperti berjabat tangan dengan orang yang tidak memiliki gejala. 

Perawatan untuk Ebola

Pada Desember 2019 lalu, sebuah vaksin bernama rVSV-ZEBOV telah disetujui oleh US Food and Drug Administration sebagai vaksin untuk melawan Zaire ebolavirus, salah satu dari beberapa ebolavirus yang menyebabkan penyakit Ebola. 

Namun, hal ini tetap berarti bahwa setiap area di mana wabah terjadi harus dikarantina Orang-orang yang memiliki infeksi juga harus dirawat secara terpisah dalam perawatan intensif.

Akibat ebola, seseorang akan mengalami dehidrasi, sehingga cairan dapat diberikan langsung ke pembuluh darah. Kadar oksigen darah dan tekanan darah juga perlu dijaga pada tingkat yang tepat, dan organ-organ didukung sementara tubuh seseorang melawan infeksi.

Petugas kesehatan harus menghindari kontak dengan cairan tubuh pasien yang terinfeksi dengan menggunakan peralatan pelindung seperti sarung tangan, pakaian khusus dan masker.

Baca juga: Perkembangan Ebola dari Masa ke Masa

Karena penyakit ini belum beranjak keluar Afrika, maka jika suatu hari kamu harus melakukan perjalanan ke sana, pastikan kamu mendiskusikannya dengan dokter di aplikasi Halodoc. Dokter akan memberikan saran-saran yang bisa kamu lakukan untuk mencegah penularan ebola. Caranya, kamu hanya perlu gunakan fitur chat di aplikasi Halodoc.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Ebola Virus.
Healthline. Diakses pada 2020. Ebola Virus and Disease.
NHS UK. Diakses pada 2020. Ebola Virus.