• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui Metode Operasi untuk Menangani Hidrosefalus
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui Metode Operasi untuk Menangani Hidrosefalus

Ketahui Metode Operasi untuk Menangani Hidrosefalus

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 17 Januari 2022

“Hidrosefalus bisa diatasi dengan melakukan operasi untuk mengalirkan kelebihan cairan pada otak dan menjaga kadar cairan tetap normal. Ada dua metode operasi untuk menangani masalah kesehatan ini, yaitu operasi shunt dan Endoscopic Third Ventriculostomy.”

Ketahui Metode Operasi untuk Menangani Hidrosefalus

Halodoc, Jakarta – Hidrosefalus adalah penumpukan cairan di rongga (ventrikel) yang jauh di dalam otak. Kelebihan cairan ini bisa memperbesar ukuran ventrikel dan memberi tekanan pada otak, yang bisa merusak organ penting tersebut. Bila tidak diobati, hidrosefalus bisa berakibat fatal. 

Kabar baiknya, kondisi kesehatan ini bisa diatasi dengan melakukan operasi. Tindakan pengobatan tersebut dilakukan untuk mengembalikan dan mempertahankan kadar cairan normal di otak. Simak seperti apa metode operasi untuk menangani hidrosefalus di sini.

Metode Operasi untuk Hidrosefalus

Meski bisa terjadi pada siapa saja dari semua kalangan usia, hidrosefalus paling sering terjadi pada bayi dan orang dewasa berusia 60 tahun ke atas. Baik bayi yang lahir dengan hidrosefalus (bawaan) maupun anak-anak atau orang dewasa yang mengembangkannya (hidrosefalus didapat), memerlukan perawatan segera untuk mengurangi tekanan pada otak mereka. Bila hidrosefalus dibiarkan saja, tekanan bisa semakin meningkat yang akan menyebabkan kerusakan otak.

Baik hidrosefalus bawaan maupun didapat bisa diobati dengan operasi. Selain itu, terapi tertentu mungkin juga perlu dilakukan untuk mengelola gejala atau masalah yang terjadi akibat hidrosefalus.

Berikut jenis operasi untuk menangani hidrosefalus beserta prosedurnya:

  1. Operasi Shunt

Metode operasi yang paling umum untuk hidrosefalus adalah operasi penyisipan sistem drainase. Operasi ini dilakukan dengan menanamkan tabung panjang yang tipis dan fleksibel (shunt) di otak. Kemudian, kelebihan cairan serebrospinal di otak akan mengalir melalui tabung tersebut ke bagian lain dari tubuh pengidap, biasanya ke perut. Nah, setelah itu, cairan akan tersebut akan diserap ke aliran darah.

Di dalam shunt, terdapat katup yang mengontrol aliran dari kelebihan cairan pada otak, sehingga bisa mengalir ke arah yang benar dan pada ritme yang tepat.

Operasi shunt dilakukan oleh spesialis bedah otak dan sistem saraf (ahli bedah saraf). Saat menjalani operasi ini, pengidap akan diberi anestesi umum dan prosedurnya biasanya memakan waktu 1 hingga 2 jam.

Shunt biasanya perlu ditanam seumur hidup di otak pengidap. Dokter pun akan memantau kondisi pengidap secara rutin. Bila tabung tersebut tersumbat atau terinfeksi, operasi untuk memperbaiki shunt perlu dilakukan.

  1. Ventrikulostomi ketiga endoskopi

Metode alternatif untuk operasi shunt adalah endoscopic third ventriculostomy (ETV). Pada prosedur ini, dokter bedah akan membuat lubang di dasar otak pengidap agar cairan serebrospinal yang terperangkap bisa keluar ke permukaan otak, di mana ia bisa diserap.

Sayangnya, ETV tidak cocok untuk semua orang. Meski begitu, metode operasi ini bisa menjadi pilihan bila penumpukan cairan di otak disebabkan oleh penyumbatan (hidrosefalus obstruktif).  Kelebihan cairan tersebut akan bisa mengalir melalui lubang, menghindari sumbatan yang ada di otak.

Sama seperti operasi shunt, prosedur ETV juga diawali dengan pemberian anestesi umum. Kemudian, dokter bedah saraf akan membuat lubang kecil di tengkorak dan otak pengidap, lalu menggunakan endoskop untuk melihat ke dalam bilik otak pengidap. Endoskop adalah tabung tipis panjang dengan lampu dan kamera di salah satu ujungnya.

Setelah membuat lubang kecil di dasar otak untuk mengalirkan cairan, endoskop diangkat dan luka ditutup dengan cara dijahit. Prosedur ini biasanya memakan waktu sekitar 1 jam.

Dibandingkan operasi shunt, ETV memiliki lebih sedikit risiko infeksi. Namun, sama seperti semua prosedur operasi lainnya, ETV juga memiliki beberapa risiko kesehatan. Risiko penyumbatan juga bisa terjadi beberapa bulan atau tahun setelah operasi ETV dilakukan yang bisa menyebabkan gejala muncul kembali.

Itulah metode operasi yang bisa dilakukan untuk menangani hidrosefalus. Bila kamu melihat tanda-tanda hidrosefalus pada orang terkasih, seperti kepala berukuran besar yang tidak biasa, disertai dengan gejala muntah, mengantuk, dan mudah marah, sebaiknya segera bawa ke dokter untuk diperiksa.

Kamu juga bisa membicarakan gejala kesehatan yang kamu alami pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Melalui Video/Voice Call dan Chat, dokter ahli dan terpercaya dari Halodoc bisa memberi kamu diagnosis awal dan saran kesehatan yang tepat. Yuk, download aplikasinya sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
National Health Service. Diakses pada 2022. Hydrocephalus
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Hydrocephalus