• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui Pemeriksaan untuk Mendiagnosis Peritonitis
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui Pemeriksaan untuk Mendiagnosis Peritonitis

Ketahui Pemeriksaan untuk Mendiagnosis Peritonitis

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani : 12 November 2020
Ketahui Pemeriksaan untuk Mendiagnosis Peritonitis

Halodoc, Jakarta - Peritonitis adalah peradangan pada peritoneum, yakni selaput seperti sutra yang melapisi dinding perut bagian dalam dan menutupi organ di dalam perut. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur. Ada dua jenis peritonitis, pertama adalah peritonitis bakterial spontan yang biasanya adalah perkembangan atau komplikasi penyakit hati, seperti sirosis, atau penyakit ginjal. Kedua adalah peritonitis sekunder, yakni peritonitis yang terjadi akibat ruptur (perforasi) di perut, atau sebagai komplikasi dari kondisi medis lainnya.

Peritonitis membutuhkan perhatian medis segera untuk melawan infeksi, dan jika perlu, untuk mengobati kondisi medis yang mendasarinya. Perawatan peritonitis biasanya melibatkan antibiotik, dan dalam beberapa kasus melibatkan pembedahan. Jika tidak diobati, peritonitis dapat menyebabkan infeksi parah yang berpotensi mengancam jiwa. 

Baca juga: Bahaya Peritonitis, Cari Tahu Faktanya

Pemeriksaan untuk Diagnosis Peritonitis

Untuk mendiagnosis peritonitis, dokter akan menanyakan dahulu riwayat kesehatan dan melakukan pemeriksaan fisik. Ketika peritonitis dikaitkan dengan dialisis peritoneal, tanda dan gejala, terutama cairan dialisis keruh, mungkin cukup bagi dokter untuk mendiagnosis kondisi tersebut.

Namun, dalam kasus peritonitis di mana infeksi mungkin disebabkan oleh kondisi medis lain (peritonitis sekunder) atau di mana infeksi timbul dari penumpukan cairan di rongga perut (peritonitis bakteri spontan), dokter mungkin merekomendasikan tes berikut untuk memastikan diagnosis :

  • Tes Darah. Sampel darah dapat diambil dan dikirim ke laboratorium untuk memeriksa jumlah sel darah putih yang tinggi. Kultur darah juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah ada bakteri dalam darah.
  • Tes Pencitraan. Dokter mungkin ingin menggunakan sinar-X untuk memeriksa lubang atau perforasi lain di saluran pencernaan. Ultrasonografi juga dapat digunakan. Dalam beberapa kasus, dokter mungkin menggunakan pemindaian tomografi terkomputerisasi (CT) alih-alih sinar-X.
  • Analisis Cairan Peritoneal. Dengan menggunakan jarum tipis, dokter mungkin mengambil sampel cairan di peritoneum (paracentesis), terutama jika kamu menerima dialisis peritoneal atau memiliki cairan di perut akibat penyakit hati. Jika kamu mengidap peritonitis, pemeriksaan cairan ini mungkin menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih, yang biasanya menunjukkan adanya infeksi atau pembengkakan. Kultur cairan juga dapat mengungkapkan keberadaan bakteri.

Baca juga: Sakit Perut Peritonitis Bisa Berakibat Fatal

Pengobatan Peritonitis

Peritonitis bakterial spontan bisa mengancam jiwa dan selama perawatan mungkin kamu harus tinggal di rumah sakit. Perawatan termasuk antibiotik dan perawatan suportif lainnya. Kamu juga harus dirawat di rumah sakit untuk peritonitis yang disebabkan oleh infeksi dari kondisi medis lain (peritonitis sekunder). Perawatan mungkin termasuk:

  • Antibiotik. Kamu mungkin akan diberi pengobatan antibiotik untuk melawan infeksi dan mencegahnya menyebar. Jenis dan durasi terapi antibiotik akan bergantung pada tingkat keparahan kondisi dan jenis peritonitis yang kamu alami. Kamu mungkin akan diberi antibiotik yang menangani berbagai macam bakteri sampai dokter memiliki lebih banyak informasi tentang bakteri tertentu yang menyebabkan infeksi. Kemudian mereka dapat menargetkan antibiotik dengan lebih sempit.
  • Operasi. Pembedahan sering kali diperlukan untuk mengangkat jaringan yang terinfeksi, mengobati penyebab infeksi, dan mencegah penyebaran infeksi, terutama jika peritonitis disebabkan oleh pecahnya usus buntu, perut atau usus besar.
  • Perawatan lainnya. Tergantung pada tanda dan gejala yang kamu alami, perawatan selama di rumah sakit kemungkinan besar akan mencakup obat pereda nyeri, cairan yang diberikan melalui selang (cairan intravena), oksigen, dan dalam beberapa kasus transfusi darah.

Jika kamu mengidap peritonitis, dokter mungkin merekomendasikan agar kamu menerima dialisis dengan cara lain selama beberapa hari sementara tubuh sembuh dari infeksi. Jika peritonitis berlanjut atau berulang, kamu mungkin perlu berhenti menjalani dialisis peritoneal sepenuhnya dan beralih ke bentuk dialisis yang berbeda.

Baca juga: Bisakah Pembedahan Saluran Cerna Sebabkan Peritonitis?

Jika kamu masih ingin tahu lebih dalam mengenai penyakit ini, jangan sungkan tanyakan pada dokter di Halodoc ya! Ambil smartphone-mu dan diskusikan semua keluhan kesehatan kamu hanya dalam satu aplikasi. Yuk, gunakan Halodoc sekarang!

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2020. Peritonitis.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Peritonitis.
Web MD. Diakses pada 2020. Peritonitis.