• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui Penjelasan tentang Hasil dari Rapid Test Antigen dan Rapid Test Antibodi

Ketahui Penjelasan tentang Hasil dari Rapid Test Antigen dan Rapid Test Antibodi

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Seperti namanya, rapid test adalah pemeriksaan yang hasilnya bisa didapatkan dengan cepat. Menurut Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19) yang dipublikasikan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, penanganan COVID-19 di Indonesia menggunakan dua jenis rapid test yang berbeda, yaitu rapid test antigen dan rapid test antibodi. 

Perlu diketahui bahwa hasil pemeriksaan rapid test antigen dan rapid test antibodi hanya merupakan skrining awal. Jadi, hasil pemeriksaan kedua jenis rapid test tersebut tetap harus dilanjutkan dengan pemeriksaan PCR atau polymerase chain reaction, sebagai langkah diagnosis COVID-19 yang tepat.

Baca juga: 3 Fakta Kalung Anti Corona yang Perlu Diketahui

Bedanya Alur Pemeriksaan Rapid Test Antigen dan Rapid Test Antibodi

Sebelum membahas alur pemeriksaan, perlu diketahui bahwa ada beberapa hal yang membedakan rapid test antigen dan rapid test antibodi. Dua di antaranya adalah sampel yang diambil dan prosedur yang dilakukan. Rapid test antigen dilakukan untuk mendeteksi keberadaan antigen virus corona pada sampel lendir dari dalam hidung. 

Itulah sebabnya rapid test antigen sering disebut dengan istilah rapid swab. Sementara itu, rapid test antibodi dilakukan dengan menggunakan sampel darah, untuk mengetahui apakah terdapat antibodi yang terbentuk dalam darah.

Lalu, seperti apa alur pemeriksaan kedua jenis rapid test tersebut? Berikut penjelasannya:

1.Jika Hasil Rapid Test Antigen Negatif

Jika didapatkan hasil negatif dari rapid test antigen, berikut ini hal yang perlu dilakukan:

  • Peserta tes akan diarahkan untuk melakukan isolasi mandiri.
  • Jika gejala yang dialami tergolong sedang dan semakin berat saat isolasi mandiri, sebaiknya segera datang ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Apabila tidak ada gejala ISPA atau gejala yang memberat lainnya dalam 10 hari, dianjurkan untuk menjalani rapid test antibodi.
  • Jika hasil rapid test antibodi negatif, kemungkinan besar gejala yang dialami bukan COVID-19. Namun, perlu menjalani swab test/PCR kalau hasil rapid test antibodi positif.
  • Jika saat isolasi mandiri muncul gejala ISPA atau gejala lainnya kurang dari 10 hari, rapid test antigen perlu diulang.
  • Jika hasil rapid test antigen yang diulang negatif, harus dilakukan rapid test antibodi lagi 10 hari kemudian. Jika hasil tesnya positif, harus dilakukan swab test/PCR.
  • Jika didapatkan hasil swab test/PCR negatif, berarti gejala yang dialami bukan COVID-19, sedangkan jika hasilnya positif, maka dinyatakan menjadi pasien COVID-19.
  • Jika pasien positif COVID-19 yang tidak menunjukkan gejala atau gejalanya ringan, dapat melakukan isolasi mandiri di rumah.
  • Jika gejala yang dialami sedang hingga berat, penanganan intensif di rumah sakit perlu dilakukan.

Baca juga: Seberapa Aman Peralatan Makan Reusable di Restoran?

2.Jika Hasil Rapid Test Antigen Positif

Jika didapatkan hasil positif dari rapid test antigen, berikut ini hal yang perlu dilakukan:

  • Segera mengikuti swab test/PCR.
  • Jika hasil swab test/PCR negatif, berarti bukan COVID-19. Sebaliknya, jika hasilnya positif, akan dinyatakan menjadi pasien COVID-19.
  • Bagi pasien positif COVID-19. yang tidak menunjukkan gejala atau gejalanya ringan, dapat melakukan isolasi mandiri di rumah.
  • Namun, jika gejala yang dialami sedang hingga berat, sebaiknya segera datang ke fasilitas layanan kesehatan agar mendapatkan penanganan yang tepat. 

3.Jika Hasil Rapid Test Antibodi Negatif

Jika didapatkan hasil negatif dari rapid test antibodi, berikut beberapa hal yang perlu dilakukan:

  • Menjalani isolasi mandiri.
  • Jika mengalami gejala sedang atau semakin berat saat isolasi mandiri, segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Sebaliknya, jika gejala yang dialami tidak ada peningkatan, perlu dilakukan rapid test antibodi 10 hari kemudian.
  • Jika hasil pemeriksaan ulang rapid test antibodi menunjukkan negatif lagi, gejala yang muncul kemungkinan besar bukan COVID-19.
  • Namun, jika hasil pemeriksaan rapid test antibodi ulang menunjukkan positif, harus menjalani swab test/PCR.
  • Jika hasil swab test/PCR negatif, berarti bukan COVID-19. Sebaliknya, jika hasilnya positif, maka dinyatakan menjadi pasien COVID-19.
  • Bagi pasien positif COVID-19 yang tidak menunjukkan gejala atau gejalanya ringan, dapat melakukan isolasi mandiri di rumah.
  • Namun, jika gejala yang dialami sedang hingga berat, sebaiknya segera datang ke fasilitas layanan kesehatan, agar bisa mendapatkan penanganan yang tepat. 

Baca juga: Ini Cara Virus Corona Menyerang Tubuh

4.Jika Hasil Rapid Test Antibodi Positif

Jika didapatkan hasil positif dari rapid test antibodi, berikut beberapa hal yang perlu dilakukan:

  • Segera mengikuti swab test/PCR.
  • Jika hasil swab test negaitf, berarti kemungkinan besar bukan COVID-19. Sebaliknya, jika hasilnya positif, maka ditetapkan menjadi pasien COVID-19.
  • Bagi pasien COVID-19 yang tidak menunjukkan gejala atau gejalanya ringan, dapat melakukan isolasi mandiri di rumah.
  • Jika gejala yang dialami sedang hingga berat, sebaiknya segera datang ke fasilitas layanan kesehatan, agar bisa mendapatkan penanganan yang tepat. 

Itulah sedikit penjelasan mengenai alur pemeriksaan rapid test antigen dan rapid test antibodi. Sebaiknya, ikuti pemeriksaan rapid test antibodi dan rapid test antigen yang disediakan oleh pemerintah atau fasilitas layanan kesehatan terpercaya, agar prosedur dan alur pemeriksaannya dapat dilakukan dengan baik dan benar.

Agar lebih mudah, kamu bisa download aplikasi Halodoc untuk buat janji untuk melakukan pemeriksaan COVID-19. Selain itu, jika ada yang belum jelas, kamu bisa gunakan aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter terpercaya, kapan dan di mana saja. 

Referensi:
Satuan Tugas Penanganan COVID-19. Diakses pada 2020. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (Covid-19) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
World Health Organization. Diakses pada 2020. Advice on the use of point-of-care immunodiagnostic tests for COVID-19.
US Food and Drug Administration. Diakses pada 2020. Coronavirus Testing Basics.