• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui Perbedaan Ejakulasi Dini dengan Disfungsi Ereksi

Ketahui Perbedaan Ejakulasi Dini dengan Disfungsi Ereksi

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Ketahui Perbedaan Ejakulasi Dini dengan Disfungsi Ereksi

Halodoc, Jakarta – Ejakulasi dini dan disfungsi ereksi adalah dua kondisi yang menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian besar pria. Meski begitu, masih banyak pria yang belum tahu perbedaan di antara keduanya, sehingga berpotensi melakukan tindakan penanganan yang salah.

Ejakulasi dini dan disfungsi ereksi adalah dua kondisi berbeda yang terkadang saling terkait, tapi juga bisa terjadi secara terpisah. Kadang-kadang, ejakulasi dini bisa menjadi tanda bagi pria yang mengidap disfungsi ereksi, yaitu kondisi ketika pria tidak bisa mempertahankan ereksi yang cukup kuat untuk berhubungan seks.

Namun, karena ereksi berakhir setelah ejakulasi, hal itu mungkin menyulitkan untuk mengetahui apakah masalahnya adalah ejakulasi dini atau disfungsi ereksi. Nah, ketahui bedanya ejakulasi dini dan disfungsi ereksi di sini.

Perbedaan Ejakulasi Dini dan Disfungsi Ereksi

Ejakulasi dini adalah kondisi ketika seorang pria mengalami orgasme sebelum berhubungan seksual atau kurang dari satu menit setelah mulai berhubungan. Tidak ada ukuran waktu yang pasti tentang kapan seorang pria harus ejakulasi saat berhubungan intim. Namun, bila kamu mengalami ejakulasi dan kehilangan ereksi terlalu cepat, baik kamu dan pasangan mungkin tidak bisa mencapai klimaks atau mendapatkan kepuasan seksual.

Sementara disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan seorang pria untuk mempertahankan ereksi yang cukup kuat untuk melakukan hubungan seksual. Kondisi tersebut terkadang juga disebut sebagai impotensi. Itulah bedanya ejakulasi dini dan disfungsi ereksi dilihat dari pengertiannya.

Baca juga: Suami Impotensi, Istri Bisa Lakukan 4 Hal Ini

Perbedaan Penyebab Ejakulasi Dini dan Disfungsi Ereksi

Bedanya ejakulasi dini dan disfungsi ereksi dilihat dari penyebabnya adalah ejakulasi dini biasanya disebabkan karena faktor psikologis pria itu sendiri, sementara disfungsi ereksi lebih sering disebabkan oleh sesuatu yang bersifat fisik.

Beberapa faktor psikologis yang berperan dalam menyebabkan ejakulasi dini, antara lain pengalaman seksual di usia dini, pelecehan seksual, citra tubuh yang buruk, dan depresi. Namun, selain faktor psikologis saja, beberapa faktor biologis juga turut berkontribusi terhadap berkembangnya masalah seksual tersebut, seperti tingkat hormon yang tidak normal, tingkat bahan kimia otak (neurotransmitter) yang tidak normal, masalah pada prostat atau uretra dan gen yang diwariskan.

Nah, disfungsi ereksi bisa menjadi faktor penyebab ejakulasi dini. Pria yang khawatir tidak bisa mempertahankan ereksi selama berhubungan seksual mungkin akan mengembangkan pola yang terburu-buru untuk ejakulasi, dan hal itu bisa menjadi kebiasaan yang sulit diubah.

Sedangkan sebagian besar disfungsi ereksi disebabkan masalah fisik, namun diperburuk oleh masalah psikologis. Beberapa penyebab fisik disfungsi ereksi meliputi:

  • Gaya hidup tidak sehat, seperti merokok atau konsumsi alkohol berlebihan
  • Obesitas.
  • Kolesterol tinggi.
  • Tekanan darah tinggi.
  • Penyakit saraf, seperti penyakit Parkinson.
  • Masalah pada pembuluh darah, seperti pembuluh darah tersumbat (aterosklerosis).
  • Penyakit Peyronie, perkembangan jaringan parut di dalam penis.
  • Diabetes.
  • Pembedahan atau cedera yang memengaruhi area panggul atau sumsum tulang belakang.

Sejumlah masalah psikologis juga bisa mengganggu perasaan seksual dan menyebabkan atau memperburuk disfungsi ereksi, seperti depresi, kecemasan, atau stres.

Baca juga: Gangguan Disfungsi Ereksi di Tengah Pandemi, Ini Faktanya

Perbedaan Gejala yang Mesti Dipahami

Gejala utama ejakulasi dini adalah ketidakmampuan untuk menunda ejakulasi lebih dari satu menit setelah penetrasi. Hal itu mungkin terjadi dalam semua situasi seksual, bahkan selama masturbasi. Sementara gejala disfungsi ereksi yang persisten, meliputi kesulitan mencapai ereksi, kesulitan mempertahankan ereksi, dan keinginan seksual berkurang.

Perbedaan Penanganannya

Pilihan pengobatan yang umum digunakan untuk mengatasi ejakulasi dini, meliputi teknik perilaku, anestesi topikal, obat-obatan, dan konseling. Mungkin perlu waktu untuk menemukan perawatan atau kombinasi perawatan yang sesuai.

Cara untuk mengatasi disfungsi ereksi yang akan dilakukan dokter pertama kali adalah dengan mengobati kondisi kesehatan yang menyebabkan atau memperburuk masalah seksual tersebut. Berdasarkan penyebab, tingkat keparahan disfungsi ereksi, dan kondisi kesehatan yang mendasarinya, dokter akan memberikan beberapa pilihan pengobatan.

Baca juga: Tisu Magic Mencegah Ejakulasi Dini, Mitos atau Fakta?

Itulah bedanya ejakulasi dini dan disfungsi ereksi dilihat dari pengertian, penyebab, gejala, cara menanganinya. Bila kamu masih bingung apakah gejala seksual yang kamu alami adalah disfungsi ereksi atau ejakulasi dini, kamu bisa menanyakannya pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Tidak perlu malu, kamu bisa bertanya pada dokter dengan leluasa melalui Video/Voice Call dan Chat kapan saja dan di mana saja. Yuk, download aplikasinya sekarang juga.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Premature ejaculation.
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Erectile dysfunction