• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui Perbedaan Gejala Disentri dan Diare
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui Perbedaan Gejala Disentri dan Diare

Ketahui Perbedaan Gejala Disentri dan Diare

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani : 09 Oktober 2020
Ketahui Perbedaan Gejala Disentri dan Diare

Halodoc, Jakarta – Diare adalah masalah kesehatan yang umum dialami setiap orang. Diare dapat terjadi seseorang mengonsumsi makanan yang tidak higienis atau intoleransi makanan. Diare biasanya hanya berumur pendek dan mudah diobati. Namun, jika diare berlangsung selama berminggu-minggu, itu bisa menandakan masalah lain yang lebih serius. Diare berminggu-minggu mungkin tanda adanya gangguan iritasi usus besar atau penyakit radang usus.

Nah, disentri adalah peradangan usus besar yang ditandai dengan diare berkepanjangan. Peradangan ini umumnya disebabkan oleh Shigella, Salmonella, E. Coli, dan Campylobacter. Diare akibat penyakit disentri pun berbeda dengan diare biasa. Nah, berikut perbedaan antara diare biasa dengan disentri yang perlu kamu pahami:

Baca juga: 5 Cara Tepat Menghentikan Diare

Perbedaan Gejala Diare dan Disentri

Kamu mungkin tidak asing dengan gejala diare karena pernah mengalaminya. Diare biasa umumnya ditandai dengan tinja encer, sakit perut, kram perut, mual, kembung, dan punya keinginan BAB mendesak. Saat cairan dalam tubuh tidak memadai, kamu mungkin mengalami demam saat mengidap diare. Diare yang sedikit parah biasanya ditandai dengan munculnya darah atau lendir pada tinja. 

Sedangkan gejala disentri umumnya baru muncul 1-3 hari setelah terinfeksi. Pada beberapa orang, gejala bisa muncul lebih lama atau tidak pernah mengalami gejala apapun tergantung jenis disentri yang dialami. Setiap jenis disentri memiliki gejala yang sedikit berbeda. Pada disentri basiler gejalanya bisa berupa diare, kram perut, demam, mual, muntah dan adanya darah dan lendir pada tinja. 

Sedangkan disentri yang disebabkan oleh amuba biasanya tidak menimbulkan gejala. Jika kamu merasa sakit, gejalanya mungkin timbul 2-4 minggu setelah terinfeksi. Gejalanya pun sebenarnya mirip seperti diare biasa, yaitu mual, tinja encer, kram perut, demam dan menurunnya berat badan. Namun, disentri amuba terkadang menyebabkan masalah yang lebih serius seperti abses hati, yaitu terkumpulnya nanah di hati. Gejalanya meliputi mual, muntah, demam, nyeri di perut bagian kanan atas, penurunan berat badan, dan hati bengkak.

Kunjungi dokter bila kamu mengalami diare, kram, dan gejala parah lainnya atau jika tidak membaik dalam seminggu. Kalau kamu berencana mengunjungi rumah sakit, kamu dapat membuat janji dengan dokter terlebih dahulu melalui aplikasi Halodoc. Tinggal pilih dokter di rumah sakit yang tepat sesuai dengan kebutuhan kamu lewat aplikasi.

Baca juga: Selain Antibiotik, Ini 4 Cara Obati Disentri

Mana yang Lebih Berbahaya?

Baik diare dan disentri sama-sama bisa berbahaya apabila tidak ditangani dengan tepat. Diare dapat menyebabkan dehidrasi yang dapat mengancam jiwa jika tidak ditangani. Dehidrasi sangat berbahaya bila dialami oleh bayi, anak-anak, lansia dan mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Karena disentri juga ditandai dengan diare, kondisi ini juga rentan menyebabkan dehidrasi. Namun, bukan dehidrasi saja, disentri juga bisa menyebabkan komplikasi serius lainnya, seperti: 

  • Menurunnya jumlah kalium yang dapat menyebabkan perubahan detak jantung yang mengancam jiwa.
  • Kejang.
  • Sindrom uremik hemolitik (sejenis kerusakan ginjal).
  • Megakolon beracun.
  • Prolaps rektum.

Baca juga: 4 Penyakit yang Ditandai dengan Diare

Bila kamu mengalami diare, pastikan untuk tetap terhidrasi agar terhindar dari dehidrasi. Kamu juga harus peka terhadap gejala-gejala lain yang menyertai diare supaya bisa ditangani lebih dini sebelum berkembang menjadi serius. 



Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Diarrhea.
WebMD. Diakses pada 2020. Dysentery.