Ketahui Risiko Preeklamsia Sejak Awal Kehamilan

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   08 November 2018
Ketahui Risiko Preeklamsia Sejak Awal KehamilanKetahui Risiko Preeklamsia Sejak Awal Kehamilan

Halodoc, Jakarta – Preeklamsia mempengaruhi 5 hingga 8 persen penyebab kematian ibu dan bayi. Fakta ini membuat preeklamsia harus ditangani secara serius dan secepatnya. Pada umumnya, preeklamsia berkembang pada trimester ketiga (terutama setelah 37 minggu kehamilan) atau bahkan pada awal 20 minggu.

Menurut Preeclampsia Foundation, ada banyak faktor risiko yang dapat membuat ibu hamil memungkinkan mengembangkan preeklamsia, seperti:

  1. Memiliki riwayat preeklamsia sebelumnya

  2. Punya keluarga yang mengidap preeklamsia, apakah dari ibu ataupun saudara perempuan lainnya

  3. Kehamilan pertama atau kehamilan pertama dengan pasangan baru

  4. Interval yang terlalu panjang antara satu kehamilan dan kehamilan selanjutnya

  5. Mengalami hipertensi kronis atau tekanan darah tinggi

  6. Punya masalah ginjal

  7. Kegemukan

  8. Ada riwayat transplantasi organ

  9. Usia ibu di bawah 18 tahun atau lebih dari 40 tahun

  10. Diabetes

  11. Lupus atau penyakit autoimun lainnya

Preeklamsia kadang berkembang tanpa gejala apapun. Tekanan darah tinggi dapat berkembang secara perlahan atau mungkin timbul tiba-tiba. Pemantauan tekanan darah ibu hamil adalah bagian penting dari perawatan prenatal. Ini dikarenakan tanda pertama preeklamsia umumnya adalah peningkatan tekanan darah.

Beberapa tanda dan gejala lain dari preeklampsia, seperti:

  1. Kelebihan protein dalam urine

  2. Sakit kepala parah

  3. Perubahan visi, termasuk kehilangan penglihatan sementara, penglihatan kabur, ataupun sensitivitas cahaya

  4. Nyeri perut bagian atas, biasanya di bawah tulang rusuk ibu hamil di sisi kanan

  5. Mual atau muntah

  6. Produksi urine yang menurun

  7. Penurunan kadar trombosit dalam darah (trombositopenia)

  8. Gangguan fungsi hati

  9. Sesak napas, disebabkan oleh cairan di paru-paru

  10. Peningkatan berat badan secara tiba-tiba dan pembengkakan (edema), terutama di wajah dan tangan

Semakin parah preeklamsia yang ibu hamil alami dan semakin awal itu terjadi pada kehamilan, maka semakin besar juga risiko yang terjadi pada kesehatan ibu dan bayi. Preeklamsia membuat persalinan lebih awal dilakukan, bahkan perlu adanya induksi.

Ada komplikasi preeklamsia yang meningkatkan risiko pada ibu dan janin dalam kandungan, di antaranya adalah:

  1. Terhambatnya Pertumbuhan Janin

Preeklamsia memengaruhi arteri yang membawa darah ke plasenta. Jika plasenta tidak mendapat cukup darah, maka sangat mungkin bayi menerima darah serta oksigen yang tidak memadai dan nutrisi lebih sedikit. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan lambat termasuk berat lahir rendah atau kelahiran prematur.

  1. Kelahiran Prematur

Jika ibu memiliki preeklamsia yang parah, besar kemungkinan perlu dilakukan persalinan lebih awal untuk nyawa ibu dan bayi. Kelahiran prematur dapat menyebabkan masalah pernapasan dan masalah kesehatan lain untuk bayi.

  1. Abrupsi Plasenta

Preeklamsia juga dapat meningkatkan risiko abrupsi plasenta, yakni suatu kondisi di mana plasenta terpisah dari dinding bagian dalam rahim sebelum melahirkan. Abrupsi berat dapat menyebabkan pendarahan hebat yang bisa mengancam jiwa ibu maupun bayi.

  1. Sindrom HELLP

Sindrom ini terjadi ketika terjadi peningkatan enzim hati dan jumlah trombosit yang rendah akibat terjadi penghancuran sel darah merah. Kondisi ini dapat mengancam jiwa ibu dan anak.

Gejala sindrom HELLP, seperti mual dan muntah, sakit kepala, dan nyeri perut kanan atas. Sindrom HELLP sangat berbahaya karena merupakan kerusakan di beberapa sistem organ. Kadang-kadang, ini dapat berkembang tiba-tiba, bahkan sebelum tekanan darah tinggi terdeteksi atau mungkin berkembang tanpa gejala sama sekali.

  1. Kerusakan organ lainnya

Preeklamsia dapat menyebabkan kerusakan ginjal, hati, paru-paru, jantung, mata, dan dapat menyebabkan stroke atau cedera otak lainnya. Jumlah cedera di organ lain tergantung dari tingkat keparahan preeklamsia.

  1. Penyakit kardiovaskular

Memiliki preeklamsia dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah di masa depan (kardiovaskular). Risikonya bahkan lebih besar jika ibu mengalami preeklamsia lebih dari satu kali atau mengalami persalinan prematur. Untuk meminimalkan risiko ini, cobalah untuk menjaga berat badan ideal setelah melahirkan, mengonsumsi berbagai buah dan sayuran, berolahraga secara teratur, dan jangan merokok.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai risiko preeklamsia serta penanganan yang perlu dilakukan bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untuk ibu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Hubungi Dokter, ibu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Baca juga:

 

 

Mulai Rp50 Ribu! Bisa Konsultasi dengan Ahli seputar Kesehatan