• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui Risiko Reinfeksi Omicron Dibanding Varian Beta-Delta
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui Risiko Reinfeksi Omicron Dibanding Varian Beta-Delta

Ketahui Risiko Reinfeksi Omicron Dibanding Varian Beta-Delta

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 08 Desember 2021
Ketahui Risiko Reinfeksi Omicron Dibanding Varian Beta-Delta

Reinfeksi omicron alias infeksi berulang virus corona varian omicron disebut lebih tinggi, jika dibandingkan dengan varian lainnya, seperti Beta-Delta. Artinya, orang yang sebelumnya sudah pernah terinfeksi virus corona, varian apapun, memiliki risiko tinggi untuk kembali terinfeksi virus COVID-19 varian omicron.”

Halodoc, Jakarta – Risiko reinfeksi omicron atau infeksi berulang virus COVD-19 varian Omicron disebut lebih tinggi dibandingkan dengan varian lain. Ada bukti yang menyebut bahwa reinfeksi omicron lebih sering terjadi jika dibandingkan dengan varian Beta-Delta. Seperti diketahui, omicron merupakan varian COVID-19 yang saat ini tengah menjadi perhatian dunia. 

Varian virus ini disebut pertama kali muncul di Afrika Selatan. Saat ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan varian ini sebagai jenis yang perlu diwaspadai alias variant of concern. Varian virus ini dilaporkan sudah ditemukan di beberapa negara dunia. Varian Omicron (B.1.1.529) merupakan jenis mutasi dari virus corona. Biar lebih jelas, simak informasinya di artikel ini! 

Risiko Reinfeksi Omnicron 3 Kali Lebih Tinggi 

Varian virus Omicron sejauh ini disebut sebagai jenis virus yang memiliki tingkat mutasi tinggi. Hal itu kemudian bisa memengaruhi karakteristik virus. Hal inilah yang menyebabkan varian ini disebut memiliki tingkat penularan serta reinfeksi atau infeksi berulang cukup tinggi. Risiko reinfeksi omicron bahkan disebut 3 kali lebih tinggi dibanding varian lain, misalnya varian Beta-Delta. 

Perubahan pada karakteristik virus akibat mutasi bisa memengaruhi tingkat penularan virus hingga keparahan gejala penyakit yang ditimbulkan. Sejauh ini, WHO dan sejumlah besar peneliti di seluruh dunia masih mencari tahu terkait varian ini, termasuk kebenaran risiko reinfeksi omicron. Penelitian juga dilakukan untuk menilai kinerja vaksin, tes diagnosis COVID-19, serta efektivitas obat. 

WHO menyebut bahwa vaksin COVID-19, jenis apapun, masih dinilai efektif untuk mengurangi tingkat keparahan penyakit dan kematian. Selain itu, tes diagnosis COVID-19, yaitu PCR juga disebut masih bisa mendeteksi infeksi varian virus ini. Namun, untuk tes antigen masih dipelajari lebih lanjut apakah bisa mendeteksi varian Omicron atau tidak. 

Fakta Seputar Varian Virus COVID-19 Omicron  

Karena baru ditemukan, belum banyak studi yang bisa membuktikan dan menggambarkan kekhasan dari varian ini. Maka dari itu, gejala penyakit dari infeksi virus mungkin tidak terlalu berbeda dengan gejala COVID-19 pada umumnya, yaitu demam, sakit tenggorokan, batuk, sakit kepala, mudah lelah, nyeri otot, diare, hingga anosmia atau kehilangan kemampuan indra penciuman. 

Kepastian informasi terkait tingkat penularan varian virus ini juga masih terus diteliti. Namun, ada yang menyebut bahwa jumlah pasien terinfeksi virus corona di Afrika Selatan, tempat pertama kali varian ini ditemukan, terus meningkat. Infeksi awal varian omicron dilaporkan terjadi pada orang berusia muda di Afrika Selatan. Gejala yang dimunculkan akibat infeksi juga cenderung ringan. 

Itulah mengapa penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan untuk mengenali varian virus ini. Seperti dikatakan sebelumnya, bukti awal menunjukkan bahwa risiko reinfeksi omicron lebih tinggi jika dibandingkan dengan varian virus lainnya. Dengan kata lain, orang yang sebelumnya sudah pernah terinfeksi virus corona, varian apapun, memiliki risiko lebih tinggi untuk terinfeksi ulang dengan varian omicron. 

Penelitian lebih lanjut masih dilakukan untuk membuktikan dugaan tersebut. Namun, ada baiknya untuk menurunkan risiko penularan virus corona dengan selalu menerapkan protokol kesehatan, mengenakan masker, serta menerapkan gaya hidup sehat. 

Jika muncul gejala sakit dan butuh saran ahli, pakai aplikasi Halodoc untuk menghubungi dokter. Lebih mudah menghubungi ahli kesehatan melalui Video/Voice Call atau Chat. Sampaikan pertanyaan seputar penyakit maupun risiko reinfeksi omicron atau virus corona pada ahlinya. Ayo, download aplikasi Halodoc sekarang di App Store atau Google Play! 

This image has an empty alt attribute; its file name is HD-RANS-Banner-Web-Artikel_Spouse.jpg
Referensi: 
WHO. Diakses pada 2021. Classification of Omicron (B.1.1.529): SARS-CoV-2 Variant of Concern.
WHO. Diakses pada 2021. Update on Omicron.
Bloomberg. Diakses pada 2021. You’re Three Times More Likely to Get Reinfected by Omicron, South African Study Finds. 
The Guardian. Diakses pada 2021. Omicron seems to carry higher Covid reinfection risk, says South Africa.