18 June 2018

Ketika Anak Mulai Tertarik dengan Lawan Jenis

ketika anak mulai suka lawan jenis, anak suka lawan jenis, ketika anak mulai tertarik pada lawan jenis

Halodoc, Jakarta - Di Indonesia, seks adalah hal yang tabu untuk dibicarakan, bahkan oleh sesama orang dewasa sekalipun. Karena itulah, ketika anak mulai suka lawan jenis, banyak orangtua yang cenderung was-was.

Ketika ibu mendengar Si Kecil memuji lawan jenis atau mulai tertarik dengan lawan jenis, ada kekhawatiran bahwa anak telah terpapar oleh hal-hal yang tidak patut untuk usianya. Namun sebetulnya, kapan sih seorang anak mulai suka lawan jenis?

(Baca juga: Orangtua Perlu Tahu, Pendidikan Seks Tidak Tabu untuk Anak)

Di usia 6-10 tahun, biasanya anak mulai memiliki banyak pertanyaan dan rasa ingin tahu yang besar terkait kehamilan, proses melahirkan, dan peran gender. Kemudian, anak mulai merasakan ketertarikan dengan lawan jenis memasuki usia prapubertas, yaitu sekitar 10-12 tahun.

Lalu ketika anak mulai suka lawan jenis, bagaimana idealnya respon orangtua? Simak penjelasan berikut!

Tetap Tenang dan Bersikap Netral

Anak mulai lebih banyak bersosialisasi dengan orang dari berbagai latar belakang ketika sekolah. Ketika di taman kanak-kanak, ada beberapa cerita ketika anak memanggil teman lawan jenisnya sebagai “pacar”. Begitu pun saat anak usia SD mulai terlihat berseri ketika membicarakan tentang teman lawan jenisnya.

Umumnya, orangtua langsung khawatir ketika mendengar anak usia lima tahun berbicara tentang pacar. Namun, sebenarnya ibu tak perlu khawatir, karena arti “pacar” bagi anak tidak sama dengan persepsi orang dewasa.

Para ahli sepakat bahwa respon yang tepat ketika menemui situasi seperti ini adalah dengan tetap bersikap netral. Ibu tak perlu mengekspresikan kekhawatiran atau ketakutan dalam bentuk ucapan atau gestur sekalipun. Ibu juga tak perlu mendorong perilaku tersebut.

Jadilah Teman Bicara yang Diandalkan Si Kecil

Masa pubertas adalah saat ketika lingkungan dan media mulai memengaruhi pikiran dan perilaku anak. Bahkan, ada kalanya anak lebih memercayai informasi dari orang lain dibandingkan dengan informasi yang ibu berikan.

Di momen ini, ibu perlu berusaha untuk mendapat kepercayaannya. Dengan begitu, ibu bisa menjadi sumber informasi yang paling anak percayai. Ketika anak tahu bahwa ibu bisa diandalkan, anak tak lagi mencari informasi dari luar, misal dari teman sekolah, yang bisa jadi malah memberi informasi yang kurang tepat terkait rasa penasarannya.

(Baca juga: Memberikan Pendidikan Seks pada Anak dengan Cara yang Baik dan Benar)

Pertimbangkan Perspektif Anak

Agar ibu bisa menjadi teman curhat andalan Si Kecil, penting untuk selalu mencoba memahami perspektif Si Kecil. Untuk itu, ibu sebaiknya tidak reaktif atau malah memarahi Si Kecil ketika ia bercerita tentang ketertarikannya dengan lawan jenis.

Ibu perlu menyadari bahwa ada dinamika sosial berbeda yang dialami Si Kecil di sekolah. Pemikirannya pun berbeda dengan ibu dan orang dewasa pada umumnya. Jadi, alih-alih menutup pintu diskusi dengan berkata, “kamu itu masih kecil, sudah ikuti saja!”, ibu perlu tenang agar bisa mendengar dan memahami apa yang Si Kecil alami. Dengan begitu, tak akan ada jarak antara ibu dan Si Kecil. Ibu juga bisa mencegah munculnya perilaku yang kurang baik pada anak.

Kesiapan mental ibu dalam menghadapi tantangan hubungan dengan anak selama masa prapubertas dan pubertas adalah bekal terpenting, agar hubungan ibu dan Si Kecil tetap harmonis. Hubungan yang sehat tentunya akan menjadi pondasi bagi kesehatan mental Si Kecil.

(Baca juga: 5 Tips Memilih Kegiatan Ekstrakurikuler untuk Anak)

Jika Si Kecil sakit, ibu bisa hubungi dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, ibu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!