• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kista Pilonidal Dibiarkan, Waspadai 4 Komplikasi Ini

Kista Pilonidal Dibiarkan, Waspadai 4 Komplikasi Ini

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta - Termasuk penyakit langka, kista pilonidal adalah benjolan kulit yang umumnya muncul di dekat tulang ekor atau bagian atas belahan bokong. Benjolan tersebut berisi folikel-folikel rambut dan kulit. Penyakit ini lebih umum dialami oleh pria muda yang sering duduk terlalu lama. Benjolan kista pilonidal dapat terinfeksi dan terasa nyeri. Kalau dibiarkan, infeksi tersebut bisa memicu komplikasi.

Berikut beberapa komplikasi kista pilonidal yang perlu diwaspadai:

  1. Terbentuknya abses.

  2. Kista pilonidal yang muncul berulang.

  3. Infeksi menyebar ke bagian tubuh lainnya.

  4. Kanker kulit (karsinoma sel skuamosa), jika kista ini mengalami infeksi berulang.

Baca juga: Ini 8 Jenis Kista yang Perlu Diketahui

Cegah Komplikasi Kista Pilonidal dengan Mewaspadai Gejalanya

Kista pilonidal memiliki tekstur seperti jerawat, tetapi letaknya di atas celah bokong. Tepatnya sekitar 4-8 cm di atas lubang anus. Benjolan akibat kista ini sering tak disadari karena biasanya tidak menimbulkan gejala yang mengganggu. Namun ketika benjolan terinfeksi, berbagai gejala berikut bisa dirasakan oleh pengidapnya:

  • Benjolan membengkak dan berwarna kemerahan.
  • Benjolan terasa hangat dan nyeri saat disentuh
  • Keluar nanah atau darah berbau tak sedap jika kista pecah.
  • Nyeri pada punggung bagian bawah.
  • Demam.

Segera periksakan diri ke dokter jika mengalami gejala kista pilonidal yang terinfeksi seperti yang telah disebutkan tadi. Penanganan oleh dokter sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Agar lebih cepat dan mudah, download saja aplikasi Halodoc untuk berbicara dengan dokter lewat chat atau buat janji dengan dokter di rumah sakit.

Baca juga: Kista Bisa Berubah Jadi Tumor Ganas

Penyebab dan Faktor Risiko Kista Pilonidal

Belum diketahui pasti apa yang menjadi penyebab kemunculan kista pilonidal. Namun, pada kebanyakan kasus, kista ini muncul karena tumbuhnya rambut yang menusuk masuk ke dalam lapisan kulit. Hal ini dapat dipicu oleh berbagai hal, salah satunya adalah cedera pada bagian tersebut.

Selain itu, ada juga beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena kista pilonidal, yaitu:

  • Obesitas.
  • Memiliki gaya hidup tidak aktif.
  • Memiliki rambut kaku atau kasar.
  • Terlalu sering duduk dalam waktu lama.
  • Memiliki pertumbuhan bulu tubuh yang berlebihan.

Bagaimana Prosedur Pengobatan untuk Kista Pilonidal?

Pengobatan sangat diperlukan ketika kista pilonidal terasa mengganggu atau mengalami infeksi. Berikut adalah prosedur pengobatan yang bisa dilakukan untuk kista pilonidal:

1. Pengobatan Mandiri di Rumah

Pengobatan awal kista pilonidal dapat dilakukan di rumah untuk mengurangi nyeri dan rasa tak nyaman. Cara pengobatan mandiri yang dapat dilakukan adalah:

  • Mengompres hangat area benjolan kista atau berendam di air hangat.
  • Mengonsumsi obat pereda nyeri, seperti paracetamol.
  • Menjaga benjolan kista selalu bersih dan kering, misalnya dengan sering mengganti pakaian jika berkeringat.
  • Selalu duduk di tempat yang empuk.
  • Oleskan minyak esensial, seperti tea tree oil, pada benjolan kista.
  • Jangan memencet apalagi memecahkan benjolan kista, agar terhindar dari risiko infeksi dan bekas luka. 

Baca juga: 5 Tindakan Medis yang Bisa Dilakukan untuk Hilangkan Kista

2. Operasi Ringan

Pengobatan oleh dokter diperlukan jika kista terinfeksi. Pilihan pengobatan yang Bisa dilakukan adalah operasi ringan. Dokter akan membuat sayatan kecil pada benjolan, untuk mengeluarkan nanah dan rambut di dalamnya. Untuk melakukan prosedur tersebut, dokter akan membius area sekitar kista terlebih dulu.

Pengidap disarankan untuk menjaga kebersihan luka operasi usai tindakan bedah, serta memeriksa adanya tanda-tanda infeksi dan melakukan kontrol rutin ke dokter untuk memantau proses penyembuhan luka. Pastikan mengikuti semua instruksi yang diberikan dokter tentang perawatan mandiri di rumah setelah operasi. Hal ini agar risiko infeksi kista pilonidal yang dapat menyebabkan komplikasi bisa diminimalisasi.

Referensi:
American Society of Colon and Rectal Surgeons. Diakses pada 2020. Pilonidal Disease.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Diseases and Conditions. Pilonidal Cyst.
WebMD. Diakses pada 2020. What Is a Pilonidal Cyst?